TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bunyi gemeretak biji dakon yang beradu dengan papan plastik, bersahut-sahutan dengan riuhnya sorak-sorai anak-anak di sudut Gedung Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, Kamis (21/5/2026).
Di sudut lain, sekelompok anak laki-laki berpakaian olahraga tampak menahan napas, pandangan mereka terkunci pada sebilah gasing kayu yang berputar lincah di atas lantai keramik putih.
Tidak ada gawai di tangan mereka hari ini, riuh rendah tawa dan ketegangan murni khas anak-anak memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer nostalgia yang kental di tengah gelaran Apresiasi Pendidikan Jogja 2026.
Bukan sekadar berkompetisi, ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Yogyakarta berkumpul untuk merayakan kembali akar budaya mereka yang mulai tergerus zaman lewat lomba mainan tradisional.
Ya, lomba gasing, dakon atau congklak, hingga bekel yang dilangsungkan ini, sontak jadi pemandangan kontras yang menyegarkan di tengah masifnya gempuran digitalisasi.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang diinisiasi oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY Yogyakarta.
Kepala BPMP DIY, Mohammad Adi Hartono, menjelaskan, keterlibatan pelajar dalam permainan tradisional memuat esensi penting dari tema besar yang diusungnya, yakni "Semesta Jogja, Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua."
"Kegiatan ini sengaja dirancang bersama siswa dan sekolah untuk menguatkan literasi, numerasi, sekaligus karakter. Ini adalah kegiatan dari siswa, oleh siswa, dan untuk kemajuan pendidikan di DIY," ujarnya.
Menurut Adi, tema "Semesta Jogja" menitikberatkan pendidikan bermutu merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa yang ada di Yogyakarta, bukan hanya pemerintah atau guru di kelas.
Antusiasme luar biasa dari para pelajar pun mendapat apresiasi tinggi dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) RI, Prof. Atip Latipulhayat, yang hadir langsung di Embung Giwangan.
Sebelum meninjau area lomba, Wamen Dikdasmen bahkan sempat berbaur bersama anak-anak untuk mengikuti Jalan Sehat dan Senam Anak Indonesia Hebat.
Baca juga: Balai POM Yogyakarta Sebut Peredaran Obat Terlarang Masih Tinggi, Pemicu Aksi Kriminalitas Remaja
Dalam arahannya, Atip memuji capaian indeks pembangunan manusia serta mutu pendidikan di DIY yang secara konsisten berada di atas rata-rata nasional, termasuk dalam perolehan skor PISA.
Ia juga mengingatkan kembali ruh pendidikan nasional yang dibawa Ki Hadjar Dewantara dari tanah Yogyakarta, yang tertuang dalam amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Pilihan katanya sangat tepat, mencerdaskan, bukan sekadar memintarkan. Banyak orang pintar tapi tidak cerdas. Yang cerdas pasti pintar, tapi yang pintar belum tentu cerdas. Orang cerdas memiliki kapasitas intelektual yang membawa kemaslahatan," tegasnya.
Selain menjadi panggung kegembiraan bagi anak-anak lewat dolanan tradisional dan pentas seni seperti pencak silat, tari, hingga angklung, momen ini juga menjadi ajang krusial bagi masa depan pendidikan di DIY.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan deklarasi komitmen bersama untuk pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 yang ditargetkan berjalan lebih objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, inklusif, dan tanpa diskriminasi. (*)