TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan BPS DIY turun menyentuh angka 3,05 persen pada Februari 2026.
Penurunan ini didorong oleh pesatnya geliat sektor pariwisata, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta bertumbuhnya ekonomi kreatif.
Meski demikian, pemerintah daerah kini dihadapkan pada realitas struktural baru, yakni menyusutnya proporsi pekerja formal yang kini berada di angka 46,02 persen.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY, Ariyanto Wibowo, memandang tren penurunan angka pengangguran ini sebagai indikator kuat bahwa kondisi perekonomian wilayah DIY semakin pulih dan produktif.
Keberhasilan ini juga sejalan dengan masifnya program intervensi ketenagakerjaan yang digulirkan pemerintah daerah.
"Penurunan TPT menunjukkan semakin banyak masyarakat terserap ke dunia kerja. Sektor pariwisata, perdagangan, jasa, UMKM, dan industri pengolahan mulai kembali tumbuh. Di sisi lain, program ketenagakerjaan mulai memberikan hasil. Pelatihan kerja, pemagangan, padat karya, dan pengembangan UMKM dinilai membantu meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Digitalisasi layanan ketenagakerjaan juga mulai mempercepat proses matching tenaga kerja, sehingga DIY termasuk provinsi dengan TPT relatif rendah," papar Ariyanto, Rabu (21/5/2026).
Meningkatnya serapan kerja tersebut berbanding lurus dengan melonjaknya partisipasi angkatan kerja di DIY.
Ariyanto menyoroti bahwa pemulihan sektor jasa dan pariwisata menjadi motor penggerak utama, yang juga diikuti oleh tren pertumbuhan penduduk usia produktif dan partisipasi perempuan.
"DIY sangat bergantung pada sektor wisata, hotel, kuliner, dan ekonomi kreatif. Ketika aktivitas wisata meningkat, kebutuhan tenaga kerja ikut naik sehingga lebih banyak masyarakat masuk ke pasar kerja. Banyak masyarakat bekerja di UMKM, perdagangan online, kuliner, transportasi digital, dan jasa kreatif. Fleksibilitas pekerjaan informal membuat lebih banyak orang terdorong bekerja," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan dinamika demografi yang turut mendongkrak angka partisipasi kerja.
"Mahasiswa lulusan perguruan tinggi dan usia kerja baru di DIY cukup besar. Sebagian mulai aktif mencari pekerjaan atau membuka usaha. Selain itu, secara nasional maupun di DIY, keterlibatan perempuan dalam dunia kerja terus meningkat, didukung berkembangnya pekerjaan fleksibel berbasis digital dan UMKM rumahan. DIY memiliki ekosistem pendidikan dan kreatif yang kuat. Banyak pekerjaan baru muncul di bidang desain, konten digital, IT, pemasaran digital, dan startup lokal," imbuhnya.
Meski identitas DIY lekat dengan sebutan kota pelajar, pariwisata, dan industri kreatif, fakta statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung penyerap tenaga kerja terbesar. Hal ini mencerminkan struktur ekonomi regional yang masih sangat bertumpu pada sektor primer, terutama di luar kawasan aglomerasi perkotaan.
"Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di DIY karena sektor ini paling mudah diakses masyarakat, tersebar di wilayah pedesaan, serta menjadi sumber mata pencaharian tradisional yang masih kuat, terutama di kabupaten luar perkotaan seperti Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul. Terbatasnya industri besar di DIY, akibatnya, sebagian tenaga kerja masih bertumpu pada sektor primer," jelas Ariyanto.
Baca juga: Balai POM Yogyakarta Sebut Peredaran Obat Terlarang Masih Tinggi, Pemicu Aksi Kriminalitas Remaja
Guna memastikan penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan, Disnakertrans DIY mengandalkan sejumlah program yang dinilai paling efektif, mulai dari pemagangan, pengembangan ekonomi kreatif, hingga perluasan wirausaha.
"Program pemagangan menghubungkan lulusan sekolah atau perguruan tinggi dengan dunia industri. Ini menjadi jembatan antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Pemda DIY dan Disnakertrans aktif menjalankan program magang bagi fresh graduate. Program perluasan kesempatan kerja dan wirausaha juga dinilai efektif karena tidak hanya menciptakan pekerja, tetapi juga menciptakan pelaku usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja lainnya," terangnya.
Potensi lokal juga dimaksimalkan untuk menekan pengangguran di kalangan usia muda.
"DIY memiliki kekuatan besar pada sektor kuliner, kerajinan, fesyen, konten digital, dan pariwisata kreatif. Program pelatihan digital dan inkubasi startup dinilai mampu membuka lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda. Sektor ekonomi kreatif relatif tahan terhadap perubahan ekonomi dan cocok dengan karakter DIY sebagai kota pendidikan dan budaya," ujarnya.
Meski angka partisipasi kerja tinggi dan pengangguran turun, tantangan terbesar Disnakertrans DIY saat ini adalah memastikan kualitas pekerjaan tersebut.
Merespons proporsi pekerja formal yang justru turun menjadi 46,02 persen, Ariyanto menegaskan perlunya langkah strategis yang lebih agresif untuk menyelaraskan keahlian pekerja dengan permintaan industri.
"Kami melakukan penguatan pelatihan berbasis kebutuhan industri. Pelatihan kerja harus benar-benar sesuai kebutuhan pasar kerja (link and match), terutama pada sektor manufaktur, hospitality, teknologi informasi, digital marketing, otomotif, logistik, dan ekonomi kreatif. Kami juga memperluas kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Disnaker dapat memperkuat kemitraan dengan kawasan industri, hotel, restoran, startup dan perusahaan nasional di luar DIY. Strateginya dengan job fair rutin, penempatan tenaga kerja lintas daerah, serta rekrutmen berbasis kebutuhan perusahaan," pungkasnya.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DI Yogyakarta melaporkan kondisi ketenagakerjaan pada Februari 2026 menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi angkatan kerja dan menurunnya tingkat pengangguran.
Jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 2,28 juta orang, meningkat sekitar 42 ribu orang dibandingkan Februari 2025.
Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 74,52 persen atau naik 0,80 persen poin secara tahunan.
Peningkatan ini mencerminkan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi.
Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar 3,05 persen, turun 0,13 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja di pasar kerja DI Yogyakarta.
Jumlah penduduk bekerja mencapai 2,21 juta orang atau bertambah sekitar 44 ribu orang dibandingkan Februari 2025.
Penyerapan tenaga kerja masih didominasi oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (24,59 persen), diikuti Perdagangan Besar dan Eceran (16,08 persen), serta Industri (15,17 persen).
Sementara itu, sektor dengan penyerapan tenaga kerja terendah adalah Aktivitas Real Estat dan Pertambangan dan Penggalian.
Dari sisi status pekerjaan, sebagian besar penduduk bekerja berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai.
Namun demikian, proporsi pekerja formal tercatat sebesar 46,02 persen, menurun 1,10 persen poin dibandingkan Februari 2025, yang mengindikasikan masih dominannya sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan. (*)