TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Tanoto Foundation bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar kegiatan peringatan Hari Pendidikan dan Hari Buku Nasional di Rumah Anak Sigap Desa Bukit Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kalimantan Timur pada Kamis (21/5/2026).
Kegiatan tersebut dirangkai dengan peluncuran buku “Misi untuk Raka” serta kampanye “Seru Tanpa Layar” yang mengajak orang tua lebih bijak mendampingi anak dalam penggunaan gadget.
Regional Lead Tanoto Foundation, Roselina Ping Juan mengatakan, buku “Misi untuk Raka” merupakan seri keempat dari Rumah Anak Sigap yang ditujukan membantu orang tua belajar bersama anak di rumah.
“Kita hari ini dalam perayaan Hari Pendidikan kemudian juga Hari Buku Nasional memperkenalkan dan meluncurkan buku Misi untuk Raka di area regional Kalimantan. Jadi Misi untuk Raka itu adalah buku seri keempat dari Rumah Anak Sigap yang memang kita pergunakan untuk membantu orang tua belajar bersama dengan anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, buku tersebut dapat diunduh secara gratis melalui website Tanoto Foundation agar bisa diakses lebih luas oleh masyarakat.
Baca juga: Harga Sapi dan Kambing Kurban 2026 di Kukar, Dipastikan Bertahan meski Biaya Transportasi Naik
Selain peluncuran buku, kegiatan juga diisi dengan kampanye “Seru Tanpa Layar” yang menekankan pentingnya interaksi langsung antara orang tua dan anak tanpa ketergantungan terhadap perangkat digital.
“Seru tanpa layar itu kita mau mendorong orang tua di rumah, pengasuh-pengasuh yang ada di rumah, pengasuh dalam artian om, tante, orang dewasa yang berada di sekitar anak untuk mulai membantu dan mendampingi, mengkurasi konten-konten yang diberikan kepada anak melalui gadget,” katanya.
Menurut Roselina, penggunaan gadget pada anak perlu dibatasi sesuai usia dan tetap berada dalam pendampingan orang tua.
“Kalau untuk anak di bawah satu tahun itu diusahakan dijauhkan dulu dari gadget. Berarti dua sampai enam tahun boleh diperkenalkan dengan pendampingan dan konten-konten yang sudah dikurasi oleh orang tua. Maksimal satu jam sehari. Itu sih yang kita mulai kampanyekan sekarang,” ucapnya.
Ia menegaskan, gerakan “Seru Tanpa Layar” bukan hanya diterapkan di program Rumah Anak Sigap, tetapi diharapkan menjadi gerakan bersama seluruh keluarga dan masyarakat.
Baca juga: Bersama Tanoto Foundation, Kaltim Sinkronkan Program Anak ke RKPD 2027
“Sebenarnya Seru Tanpa Layar ini kita terapkan ke semua sih, kita mau mengajak semua orang tua di rumah, nggak cuma dilakukan di program-program kami, bukan cuma di Rumah Anak Sigap aja, tapi juga partisipasi semua orang untuk mulai aware dan sadar bahwa bisa kok seru tanpa layar bersama,” tuturnya.
Sebagai orang tua, Roselina juga mengajak masyarakat mulai meluangkan waktu berinteraksi langsung dengan anak melalui aktivitas sederhana seperti membaca buku dan mendongeng.
“Kalaupun nanti harus memberikan gadget kepada anak sesuai dengan rekomendasi dokter anak Indonesia mungkin bisa dibatasi dan juga mulai dikurasi konten-kontennya supaya lebih aman dan nyaman untuk anak sesuai dengan umurnya,” katanya.
“Dan buku, buku itu juga penting untuk membantu orang tua berinteraksi dengan anaknya dengan membaca bersama, bermain bersama, mendongeng bersama. Jadi sama-sama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sehat untuk anak-anak,” lanjutnya.
Rumah Anak Sigap Jadi Pusat Parenting
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Heriansyah mengatakan Rumah Anak Sigap menjadi tempat pembinaan pengasuhan anak usia dini sekaligus wadah parenting bagi orang tua.
Baca juga: Kejati Kaltim Kembali Sita Uang dari Tersangka Tambang Kukar, Total Aset Capai Rp270 Miliar
“Kegiatan hari ini kita berada di Rumah Anak Sigap, yaitu siapkan generasi anak berprestasi. Di Rumah Anak Sigap ini juga sebagai tempat kita untuk melakukan pengasuhan terhadap anak-anak kita yang berusia sampai dengan tiga tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Rumah Anak Sigap juga menjadi ruang kolaborasi antara guru dan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, termasuk upaya pencegahan stunting melalui program holistik integratif.
“Di Rumah Anak Sigap ini juga sebagai tempat parenting kita dengan orang tua, antara guru dengan orang tuanya. Kemudian di sini juga terkait dengan bagaimana upaya kita juga untuk pencegahan stunting,” katanya.
Heriansyah berharap Rumah Anak Sigap dapat menjadi basis masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi anak, terutama di tengah perkembangan era digital dan teknologi informasi.
Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pengawasan dan pembatasan yang tepat agar anak-anak tidak terpapar informasi negatif sejak dini.
“Itu anak-anak kita, kita harapkan ada batasan-batasan dan bagaimana dengan bijak kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam hal ini untuk membatasi informasi yang berdampak negatif bagi anak-anak,” tutupnya. (*)