Nasib 9 Relawan dan Jurnalis Indonesia yang Ditangkap Israel, Pemerintah Beri Klarifikasi
Rita Lismini May 21, 2026 04:45 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Nasib 9 relawan dan jurnalis Indonesia yang ditangkap militer Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza akhirnya mulai terungkap.

Pemerintah Indonesia pun memberikan klarifikasi terkait penangkapan tersebut dan menegaskan bahwa kasus ini bukan penculikan ataupun penyanderaan.

Diketahui, sejumlah kapal Global Sumud Flotilla yang sedang menuju Gaza, Senin (18/5/2026), dicegat (mengalami interception) oleh pasukan Israel.

Mereka ditangkap bersama ratusan relawan dan aktivis dari berbagai negara saat berusaha menembus blokade Israel untuk misi kemanusiaan menuju Gaza.

Kondisi 9 WNI yang Ditangkap Israel

Bagaimana kondisi 9 Warga Negara Indonesia (WNI) yang turut ditahan militer Israel?

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin mengungkapkan mereka saat ini dalam kondisi sehat dan baik.

Ada dua jurnalis Republika yang ditangkap, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah.

“Alhamdulilah saya mendapat kabar bahwa 9 WNI yang diculik oleh militer Israel kondisinya sehat, baik-baik saja,” kata Andi, Rabu, (20/5/2026), dikutip dari Kompas TV.

Kabar kondisi terkini 9 WNI tersebut didapatkan Andi Muhyiddin dari seseorang yang enggan dia sebutkan namanya.

Namun, orang itu punya akses komunikasi langsung dengan orang-orang di Israel.

Menurut keterangan sumber itu, para WNI yang ditangkap sudah menjalani tahap pertama pemeriksaan. Mereka dicek apakah memiliki hubungan dengan organisasi kriminal.

“Yang kedua, kemudian lanjut dengan pemeriksaan dokumen, tapi ini tertunda karena saat ini lagi hari keagamaan di Israel, banyak libur gitu,” ujar Andi.

Dia berharap proses deportasi terhadap kesembilan WNI itu bisa lancar sehingga mereka segera bebas.

Andi mengatakan informasi terakhir menyebutkan mereka berada di Kota Ashdod, salah satu kota pelabuhan terbesar di Israel.

Letaknya sekitar 40 km dari Gaza

“Biasanya orang-orang yang ditangkap di perairan internasional itu dibawa ke Ashdod. Di situ kemudian mereka diperiksa, diinterogasi, disita dokumennya, dan lain-lain,” kata Andi.

Data yang diterima Kementerian Luar Negeri RI menyebut jumlah WNI yang ditangkap bertambah dari semula 5 orang menjadi 9 orang.

Mereka tersebar pada lima kapal kemanusiaan berbeda dalam rombongan Global Sumud Flotilla (GSF).

Menurut panitia penyelenggara misi kemanusiaan ke Gaza, lebih dari 460 aktivis dari 45 negara ikut serta dalam misi tersebut.

Mereka seluruhnya ditahan militer Israel.

Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis ditangkap tentara Israel saat menjalankan misi pelayaran kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla 2.0.

Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, Rabu (20/5/2026), sembilan WNI tersebut telah mengirimkan pesan darurat (SOS) berupa video pernyataan mereka ditangkap.

Sembilan WNI tersebut yakni:

  • Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef
  • Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk
  • Andre Prasetyo Nugroho di Kapal Ozgurluk
  • Thoudy Badai di Kapal Ozgurluk
  • Bambang Noroyono (Abeng) di Kapal BoraLize
  • Herman Budianto Sudarsono di Kapal Zapyro
  • Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro
  • Asad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1
  • Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1

Mereka ditangkap pada waktu yang berbeda. Andi, Rahendro, Andre, Thoudy dan Abeng ditangkap pada Senin (18/5/2026).

Herman dan Ronggo sempat menyatakan diri lolos dari intersepsi Israel saat lima WNI lainnya ditangkap.

Namun beberapa jam kemudian keduanya ikut ditangkap pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.

Empat jam berselang, Asad dan Hendro turut mengunggah pesan darurat yang menyatakan diri mereka ditangkap oleh tentara Israel.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang mengungkapkan setidaknya ada 10 kapal Global Sumud Flotilla yang ditangkap oleh tentara Israel.

Pemerintah Indonesia melalui Kemenlu RI telah mendesak Israel agar melepaskan para WNI yang mereka tangkap.

“Kementerian Luar Negeri mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan,” bunyi pernyataan Yvonne.

Pemerintah Bilang Bukan Penculikan atau Penyanderaan

Pemerintah angkat bicara terkait penangkapan 9 warga negara Indonesia (WNI) oleh militer Israel dari kapal Global Sumud Flotilla.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa penangkapan 9 WNI oleh militer Israel bukan merupakan kasus penculikan ataupun penyanderaan.

Hingga Rabu dini hari, jumlah WNI yang terkonfirmasi ditangkap oleh otoritas militer Israel terus bertambah dari semula 5 orang menjadi 9 orang.

“Berdasarkan apa yang terjadi sebelumnya, yang (Global Sumud Flotilla) 1.0 juga waktu itu, itu dideportasi. Itu tidak ada, saat ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan,” ujar Sugiono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (20/5/2026).

Israel Melarang Kapal Apa pun Masuk

Dijelaskan Sugiono, penangkapan tersebut merupakan bentuk interseptasi militer terhadap kapal yang mencoba menerobos blokade laut.

“Ini kasus kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ini di-intercept karena memang mereka melarang, Israel melarang kapal apa pun masuk ke wilayah tersebut untuk kepentingan apa pun," ujar Sugiono.

Sugiono menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus memonitor perkembangan situasi di lapangan sejak laporan pertama diterima.

Pihaknya juga telah menginstruksikan sejumlah perwakilan diplomatik Indonesia di Timur Tengah untuk bergerak cepat mengamankan kepulangan para WNI.

Menlu Sugiono mengaku dirinya telah menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di beberapa negara tetangga untuk membuka jalur komunikasi.

Langkah ini diambil untuk memastikan kondisi fisik dan posisi penahanan sembilan WNI tersebut berada dalam status aman.

"Saya sendiri sudah menghubungi kedutaan kita atau perwakilan kita untuk berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri di Jordan, Turki, Mesir untuk pertama mencari informasi yang akurat terkait posisi dan situasi dan keadaan dari saudara-saudara kita yang ditangkap," pungkasnya.

Sugiono mengatakan fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan dan hak-hak dasar para relawan tersebut terpenuhi selama masa penahanan.

"Nah, tadi juga saya sampaikan kita minta kepada rekan-rekan kita yang punya hubungan langsung, untuk pertama memastikan kondisi mereka, kondisi rekan-rekan kita yang ditahan itu baik. Kemudian, mereka juga diperlakukan dengan baik," kata Sugiono.

Menlu Sugiono juga mengecam keras aksi penahanan yang dilakukan oleh pihak militer Israel.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan karena para relawan membawa misi kemanusiaan untuk membantu warga Gaza.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.