TRIBUNJAMBI.COM - Intelijen Amerika Serikat mengungkap Iran bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan dalam memulihkan kekuatan militernya pascaserangan gabungan AS dan Israel. Temuan ini memicu alarm baru di Washington karena Teheran dinilai masih mampu menjadi ancaman strategis serius di Timur Tengah.
Laporan terbaru menyebut Iran telah memulai kembali pembangunan sejumlah fasilitas pertahanan penting, mulai dari lokasi peluncur rudal, pusat produksi drone militer, hingga infrastruktur industri pertahanan lainnya.
Bahkan, selama masa gencatan senjata enam pekan yang dimulai awal April 2026, Iran disebut sudah kembali memproduksi sebagian drone tempurnya.
“Pihak Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstitusi,” ujar seorang pejabat Amerika Serikat kepada CNN.
Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa upaya militer Washington dan Tel Aviv belum sepenuhnya berhasil melumpuhkan kemampuan pertahanan Iran.
Serangan AS-Israel Dinilai Gagal Lumpuhkan Total Iran
Menurut sejumlah sumber intelijen AS, salah satu penyebab cepatnya pemulihan Iran adalah tingkat kerusakan fasilitas militer yang ternyata tidak sebesar perkiraan awal.
Beberapa pusat produksi senjata dilaporkan masih bisa beroperasi, sementara sejumlah peluncur rudal yang sebelumnya tertimbun reruntuhan akibat serangan udara kini mulai berhasil dipulihkan.
Baca juga: Lowongan Kerja BUMN 21 Mei 2026, Bank BTN Butuh Tamatan S1, Cek Syaratnya Disini
Baca juga: Imbas Pidato Prabowo IHSG Hancur 3,5 Persen usai Wacana Ekspor SDA Wajib Lewat BUMN
Tak hanya itu, Iran juga diyakini masih mempertahankan sebagian besar aset strategisnya, seperti:
Rudal balistik jarak menengah
Drone tempur dan drone pengintai
Sistem pertahanan udara
Rudal pertahanan pantai
Kondisi ini membuat komunitas intelijen AS menilai Iran tetap memiliki daya tempur yang signifikan jika konflik kembali memanas.
Tuduhan Netanyahu ke China Tambah Panas Situasi
Di tengah laporan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat menuding China ikut membantu proses pemulihan militer Iran.
Ia mengeklaim Beijing memasok sejumlah komponen yang bisa digunakan Teheran untuk memproduksi rudal.
Namun tuduhan itu langsung dibantah pemerintah China.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan negaranya tidak terlibat dalam dukungan militer terhadap Iran.
Menurutnya, tuduhan Israel tidak memiliki dasar fakta yang jelas.
Perbedaan klaim ini semakin memperlihatkan meningkatnya tensi geopolitik di tengah situasi yang belum stabil.
Iran Masih Pegang Kunci Selat Hormuz
Salah satu kekhawatiran terbesar Barat adalah kemampuan Iran mempertahankan kekuatan militernya di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi distribusi energi dunia.
Dengan masih aktifnya rudal pertahanan pantai dan drone militer, Iran dinilai tetap memiliki kapasitas untuk mengganggu lalu lintas kapal tanker minyak internasional.
Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa meluas ke seluruh dunia, termasuk:
Lonjakan harga minyak global
Gangguan rantai pasok internasional
Tekanan baru terhadap inflasi global
Trump Ancam Lanjutkan Serangan
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Trump beberapa kali menegaskan siap melanjutkan operasi militer jika pembicaraan damai antara Washington dan Teheran gagal mencapai titik temu.
Ia bahkan mengaku sempat hampir memerintahkan serangan udara baru sebelum akhirnya memilih memberi ruang tambahan bagi jalur diplomasi.
Namun laporan intelijen terbaru justru menunjukkan bahwa perang sejauh ini belum berhasil menghancurkan kemampuan militer Iran secara total.
Penilaian terbaru menyebut serangan AS dan Israel memang berhasil melemahkan sebagian fasilitas strategis Iran, tetapi tidak mampu melumpuhkan daya tahan pertahanan negara tersebut secara permanen.
Artinya, Iran masih memiliki kapasitas besar untuk bangkit—dan bahkan memperkuat kembali militernya lebih cepat dari perkiraan Washington maupun Tel Aviv.
Situasi ini membuat ketegangan di Timur Tengah diprediksi masih akan berlangsung panjang, terutama jika negosiasi damai kembali menemui jalan buntu.
(Tribunnews.com)