TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU- Capaian indeks kegemaran membaca di wilayah perbatasan melampaui angka nasional, tak lepas dari strategi inovasi layanan dan kolaborasi lintas komunitas akar rumput di Malinau.
Kontribusi dari daerah terluar ini turut mendorong capaian indeks kegemaran membaca di Kalimantan Utara menyentuh angka 58,89.
Angka tersebut melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 54,8 dan mencerminkan tumbuhnya budaya membaca yang semakin kuat di tengah tantangan geografis.
Keberhasilan gerakan dari wilayah perbatasan ini dibedah melalui gelar wicara nasional yang diselenggarakan di Jakarta diinisiasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Baca juga: Bahas Raperda Literasi, Anggota Komisi IV DPRD Kaltara Supaad Tekankan Pentingnya Budaya Membaca
Bunda Literasi Malinau, Maylenty Wempi menyebutkan pemerataan akses pendidikan di perbatasan selalu menitikberatkan pada keterlibatan dan kolaborasi masyarakat desa.
"Literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah harapan tentang anak-anak di wilayah perbatasan yang berani bermimpi lebih tinggi, tentang keluarga yang mulai mencintai buku, dan tentang masyarakat yang percaya pendidikan bisa mengubah masa depan," ujarnya.
Langkah percepatan literasi yang berkelanjutan dibangun melalui sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas, dan pengelola taman bacaan masyarakat.
Pendekatan strategis dilakukan lewat distribusi buku yang merata hingga ke desa terpencil serta pembinaan intensif terhadap komunitas literasi lokal.
Keterbatasan geografis daerah justru diubah menjadi kekuatan untuk menghadirkan inovasi layanan yang lebih dekat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Baca juga: Tingkat Kegemaran Membaca Tana Tidung Tertinggi se-Kaltara, DPK Dorong Budaya Literasi Sejak Dini
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin menilai inovasi kemitraan masyarakat di daerah tersebut bisa diadaptasi secara luas.
"Kabupaten Malinau menunjukkan kekuatan signifikan dalam penguatan literasi, khususnya sebagai wilayah perbatasan yang terus berkembang," katanya.
Praktik baik pemerataan literasi dari wilayah perbatasan ini diyakini berpotensi menjadi model yang dapat direplikasi oleh daerah lain secara kontekstual.
(*)
Penulis : Mohammad Supri