Korban Harimau Sumatera di Gayo Lues Masih Dirawat di Kutacane, Warga Trauma, Kapolda Angkat Bicara
Mursal Ismail May 21, 2026 10:03 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Edi Laber | Gayo Lues 

SERAMBINEWS.COM, BLANGKEJEREN - Peristiwa tragis yang dialami Roni, warga Desa Singahmulo, Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, kembali mengingatkan tentang konflik berkepanjangan antara manusia dan satwa liar di kawasan pedalaman Aceh.

Setelah diserang Harimau Sumatera sepekan lalu hingga mengalami luka serius, korban yang dalam kondisi memprihatinkan sampai kini masih dirawat intensif di RSUD Sahudin Kutacane. 

Insiden tersebut turut memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Warga mulai dihantui rasa takut untuk beraktivitas di kebun maupun di sekitar kawasan permukiman yang berbatasan langsung dengan hutan.

Menanggapi kejadian itu, Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus berharap konflik antara manusia dan Harimau Sumatera tidak terus berulang.

“Semoga konflik hewan satwa yang dilindungi itu dapat diredam dan jangan ganggu rumah mereka,” ujar Kapolda Aceh kepada Serambinews.com, Kamis (21/5/2026).

Pernyataan tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa persoalan konflik satwa liar bukan lagi sekadar kejadian sesaat. 

DITERKAM HARIMAU - Roni (26), warga Dusun Ayu Ara, Desa Singah Mulo, Kecamatan Putri Betung, yang menjadi korban terkaman Harimau Saat berada di kebun
DITERKAM HARIMAU - Roni (26), warga Dusun Ayu Ara, Desa Singah Mulo, Kecamatan Putri Betung, yang menjadi korban terkaman Harimau Saat berada di kebun (Serambinews.com/EDI LABER)

Baca juga: Warga Gayo Lues Diterkam Harimau Sumatera Saat Berkebun, Korban Dilarikan ke Rumah Sakit

Berkurangnya habitat alami akibat pembukaan lahan dan aktivitas di kawasan hutan diduga menjadi salah satu faktor meningkatnya pertemuan antara manusia dan Harimau Sumatera.

Khususnya di wilayah pedalaman dan perbatasan hutan Gayo Lues.

Saat ini, warga di Desa Singahmulo disebut masih dipenuhi rasa cemas.

Sejumlah warga mulai mengurangi aktivitas ke ladang dan kebun karena khawatir kembali munculnya harimau di sekitar area perkebunan. Bahkan, anak-anak juga tidak lagi leluasa bermain di luar rumah ketika sore hari tiba.

Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya memberikan imbauan. 

Tetapi juga segera menghadirkan langkah konkret guna menjamin keselamatan warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil kebun dan hutan.

Baca juga: Detik-detik Warga Pelalawan Diterkam Harimau Sumatera, Luka Parah di Kepala dan Leher

Bagi masyarakat pedalaman, kebun bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sumber utama penghidupan keluarga yang harus mereka datangi setiap hari.

Kondisi Roni yang masih terbaring lemah di rumah sakit pun menjadi gambaran nyata bahwa konflik manusia dan satwa liar kini telah berada pada situasi yang memerlukan perhatian serius. 

Luka fisik mungkin dapat pulih, namun trauma dan ketakutan yang dirasakan masyarakat diperkirakan membutuhkan waktu panjang untuk kembali normal.

Pernyataan Kapolda Aceh tersebut juga mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Banyak pihak berharap hal itu menjadi awal dari langkah bersama untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar yang dilindungi. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.