Rupiah Melemah, Biaya Kemasan dan Cabai Membebani UMKM Eksportir Sambal
Wiwit Purwanto May 21, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Pelemahan rupiah terhadap dolar AS mulai menekan UMKM Surabaya, terutama sektor ekspor makanan olahan.

Lonjakan biaya bahan baku dan kemasan membuat pelaku usaha harus menimbang ulang strategi harga dan distribusi.

Biaya Produksi Melonjak, Kemasan Jadi Paling Terasa

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat pelaku UMKM di Surabaya merasakan dampak signifikan, terutama bagi yang menekuni ekspor makanan olahan. Salah satunya adalah UMKM sambal Dede Satoe di Tenggilis.

Pengelola Dede Satoe, Siti Fatimah, mengungkapkan dampak paling terasa bukan pada proses ekspor langsung, melainkan pada lonjakan biaya bahan baku dan kemasan.

Baca juga: Dosen UPN Veteran Jatim Beri Pelatihan Literasi Digital bagi UMKM Gunung Anyar

“Efeknya karena ada pelemahan rupiah, harga bahan-bahan naik. Yang paling terasa itu kemasan,” ujar Syifa, Kamis (21/5/2026).

Kemasan berbahan plastik PET menjadi komponen utama yang harganya meroket karena bergantung pada dolar AS. Syifa menjelaskan, kenaikan bisa mencapai 50 hingga 150 persen hanya untuk kemasan. Tak hanya itu, harga cabai melonjak dari Rp 23-35 ribu per kilogram menjadi Rp 70 ribu.

“Sekarang beli cabai Rp 70 ribu per kilo. Biasanya cuma Rp 23 ribu sampai Rp 35 ribu. Jadi semua ikut naik,” tambahnya.

Tekanan Ekspor dan Strategi Harga Baru

Selain biaya produksi, tekanan global turut memengaruhi distribusi UMKM. Biaya pengiriman ke AS meningkat drastis karena jalur harus menghindari wilayah konflik, termasuk Selat Hormuz.

“Mereka kirim ke US otomatis biaya naik semua. Sewa kontainer, shipment, segala macam. Bahkan mereka nggak bisa lewat Selat Hormuz, jadi harus memutar jalur. Kenaikan ongkos kirimnya bisa naik sampai 200 persen,” jelas Syifa.

Baca juga: Kisah UMKM Sidoarjo Me’s Butter Cookie, Dari Dapur Rumahan ke Panggung Expo Nasional

Situasi ini menempatkan UMKM di posisi dilematis. Kenaikan biaya produksi harus diimbangi daya beli pasar yang melemah.

Saat ini Dede Satoe tengah menghitung ulang struktur harga untuk penyesuaian yang dianggap masih masuk akal. Sebelumnya, harga sambal sudah naik dari Rp 29.500 menjadi Rp 31 ribu per awal 2026.

Selain kurs dolar, ekspor ke AS juga tertahan akibat polemik udang beku Indonesia. Buyer memilih menunda pemesanan karena takut pemeriksaan FDA semakin ketat.

Meski demikian, Dede Satoe tetap membuka peluang pasar baru melalui pameran internasional di Taiwan dan Hongkong.

“Sekarang kami sedang proses masuk Taiwan dan ikut kurasi pameran. Untuk Hongkong juga masih menunggu hasil. Harapannya bisa buka pasar baru,” pungkas Syifa.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.