Komplotan Penipu Berkedok Petugas Bea Cukai Gagalkan EP Dapatkan Tas Idaman
Noval Andriansyah May 21, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Palembang - Iming-iming tas idaman dari media sosial membuat EP (67) tak menyangka dirinya justru masuk ke perangkap komplotan penipu berkedok petugas Bea Cukai.

Dengan skenario berlapis dan pembagian peran yang rapi, para pelaku berhasil menggagalkan impian ibu rumah tangga asal Palembang itu mendapatkan barang incarannya sekaligus menguras uang jutaan rupiah hanya dalam hitungan jam.

Kasus penipuan tersebut dialami EP, warga Kecamatan Gandus, Palembang, pada Kamis (21/5/2026).

Awalnya, korban tertarik melihat penawaran tas yang diunggah melalui Facebook.

Karena merasa harga dan model tas yang ditawarkan cukup menarik, EP kemudian menghubungi akun penjual dan melanjutkan komunikasi lewat WhatsApp.

Baca juga: IRT Gagal Beli Tas Incaran Usai Ditipu Petugas Bea Cukai Gadungan, Rp7,9 Juta Raib

“Saya tertarik dengan barang tersebut, kemudian saya menghubungi akun penjual dan melanjutkan komunikasi melalui WhatsApp,” ujar EP saat membuat laporan di SPKT Polrestabes Palembang, Kamis (21/5/2026), dilansir TribunSumsel.com.

Setelah proses komunikasi berjalan, korban diminta melakukan pembayaran ke rekening atas nama Rizky Dermawan.

Tanpa curiga, korban mengikuti instruksi pelaku dan mentransfer sejumlah uang sebagai pembayaran awal.

Namun ternyata, transfer pertama itu hanya menjadi pintu masuk bagi para pelaku untuk menjalankan modus berikutnya.

Tak lama setelah pembayaran dilakukan, korban kembali dihubungi oleh pria lain yang mengaku sebagai petugas Bea Cukai bernama Ricky.

Pelaku kemudian menyebut barang pesanan korban tertahan dan membutuhkan biaya tambahan agar bisa diproses keluar.

“Setelah saya melakukan pembayaran, saya kembali dihubungi seseorang yang mengaku bernama Ricky dari Bea Cukai,” katanya.

Dengan gaya bicara yang meyakinkan dan membawa nama instansi resmi, pelaku berhasil membuat korban percaya bahwa tas pesanannya benar-benar sedang diproses pengiriman.

Korban pun terus diarahkan melakukan beberapa kali transfer tambahan dengan alasan biaya administrasi dan pengeluaran barang.

Tanpa sadar, total uang yang sudah dikirim korban mencapai Rp7,9 juta.

Kecurigaan baru muncul setelah tas yang dijanjikan tak kunjung datang.

Korban juga mulai kesulitan menghubungi nomor para pelaku yang sebelumnya aktif berkomunikasi.

Saat itulah EP menyadari dirinya telah menjadi korban penipuan bermodus jual beli online dan petugas Bea Cukai palsu.

Kasus tersebut kini telah dilaporkan ke Polrestabes Palembang dan tengah ditindaklanjuti pihak kepolisian.

Pakai Ancaman Penjara

Untuk menekan psikologis korban, pelaku menggunakan siasat gertakan.

Ia mengklaim bahwa tas yang dipesan korban berstatus ilegal dan terancam disita jika tidak segera menebus biaya administrasi dokumen. 

Tak tanggung-tanggung, pelaku juga melempar ancaman jeruji besi agar korban kehilangan akal sehat karena panik.

"Pelaku kemudian menyebut tas yang dibeli korban merupakan barang ilegal dan tidak dapat dikirim sebelum dokumen pengurusan diselesaikan."

"Saya juga ditakut-takuti akan ditangkap apabila tidak segera mengirimkan sejumlah uang untuk biaya administrasi dan pengurusan dokumen lainnya," ungkapnya.

Melihat korban yang mulai ketakutan, pelaku melancarkan siasat pemerasan tahap kedua. 

Setelah menguras uang administrasi, pelaku kembali meminta dana tambahan dengan dalih pemenuhan pajak barang agar pengiriman lolos.

Sayangnya, setelah semua permintaan transfer dipenuhi hingga total kerugian menyentuh angka jutaan rupiah, tas tersebut tak pernah ada dan pelaku langsung menghilang.

"Saya berharap dengan laporan yang saya buat, pelaku dapat segera ditangkap," harapnya.

Kasus penipuan dengan strategi manipulasi psikologis ini kini sudah dalam penanganan pihak berwajib. 

Kepala SPKT Polrestabes Palembang, Iptu Sugriwa, melalui Pamapta Adityan Ammar Syahputra, mengonfirmasi bahwa pengaduan korban telah resmi tercatat.

"Laporan akan segera kami serahkan ke Satreskrim Polrestabes Palembang untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.