Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengapresiasi capaian penyelenggaraan pendidikan di Kota Yogyakarta yang selama ini berada di atas rata rata nasional.
"Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh insan pendidikan di Kota Yogyakarta atas capaian penyelenggaraan pendidikan. Itu dibuktikan dengan capaian hasil TKA (tes kemampuan akademik) tertinggi secara nasional," kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat usai kegiatan Apresiasi Pendidikan Jogja 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta, Kamis.
Indeks SPM pendidikan Kota Yogyakarta mendapat skor 92,53 kategori tuntas utama dan meraih peringkat 1 dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia. Penghargaan capaian SPM pendidikan diserahkan Wamendikdasmen kepada Kepala Dindikpora Yogyakarta.
"Ini membuktikan kebijakan, pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah, begitu juga para UPT (Unit Pelaksana Teknis) Kemendikdasmen di Yogyakarta ini sudah tepat," katanya.
Atip mengatakan, Kemendikdasmen memiliki visi dan misi bahwa semua program diarahkan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu.
Meskipun demikian, menurut dia, akses pendidikan bermutu belum memenuhi harapan semua. Oleh sebab itu, ia mengajak semua pihak untuk mewujudkan pendidikan bermutu dengan guru dan kebijakan yang harus bermutu.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan bahwa pada tahun 2025, Kota Yogyakarta dengan capaian penyelenggaraan pendidikan tersebut tidak boleh bangga berlebihan, tetapi harus betul-betul diimplementasikan dalam praktik pendidikan yang bermutu.
"Kami bersyukur capaian SPM pendidikan kami terbaik se-Indonesia. Kami berharap jangan hanya bangga dengan angka yang tinggi, tetapi seperti pesan Pak Wamendikdasmen bahwa mutu pendidikan harus bagus. Semua harus bermutu, tidak hanya siswanya, gurunya, tetapi kita semua harus bermutu," katanya.
Ia mengatakan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Yogyakarta cukup tinggi, yaitu 89,53. Kontribusi IPM itu antara lain rata-rata lama sekolah 12-13 tahun dan harapan lama sekolah 17,67 tahun.
Namun demikian, Hasto mengakui ada pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan mutu pendidikan serta keterampilan anak sekolah dan generasi muda, mengingat Kota Yogyakarta hanya mempunyai sumber daya manusia (SDM), tidak memiliki sumber daya alam.
"Oleh karena itu, dengan pendidikan ini kami sangat fokus bagaimana meningkatkan kualitas SDM yang produktif. Kami berharap Yogyakarta bisa menghasilkan sumber daya yang unggul, dan kami ingin Yogyakarta itu menjadi center of excellence, menjadi center of referral," katanya.





