TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Suara pembeli terdengar sayup-sayup menawar harga buket bunga di tepi Jalan Soekarno- Hatta, Kota Pekanbaru, Kamis (21/5) siang. Pengendara sepeda motor itu sedang menawar harga dengan seorang penjual buket bunga.
Namun akhirnya pengendara itu akhirnya berlalu memacu sepeda motor. Pedagang itu cuma bisa menghela nafas lantaran calon pelanggannya urung membeli buket bunga.
Padahal masih banyak buket bunga yang terpajang dalam keranjang. Ada buket bunga dengan ornamen uang tunai, ornamen boneka beruang lucu hingga buket dengan bunga aneka warna.
"Ya tidak apa, kita sabar menanti, ramai tidaknya memang tergantung lokasi juga kan," ujar pedagang buket bunga, Riko kepada Tribun Pekanbaru.
Dirinya berjualan di tepi jalan dengan payung ukuran besar yang terpasang pada bagian belakang mobil miliknya. Ia berada di sana setelah mengetahui ada wisuda salah satu perguruan tinggi di SKA Co Ex. Baginya, menjadi seorang pedagang musiman menuntut kesabaran yang luar biasa.
Apalagi pendapatan dari berjualan buket bunga tidak menentu. Ayah tiga anak ini memang pekerja keras, ia menjadi driver taksi online ketika sedang tidak ada wisuda maupun perpisahan sekolah.
Riko mengaku tantangan tempat berjualan yang sepi, tidak sebanding dengan naiknya harga plastik pembungkus buket. Ia menyampaikan biasanya harga plastik buket bunga hanya Rp 60.000 tapi kini meroket jadi Rp 140.000.
"Sekarang plastik pembungkus naik, untung kami pun semakin tipis," ujarnya.
Pria yang sudah lima tahun berjualan musiman buket bunga ternyata memang terampil merangkai buket yang ada. Ia rela bergadang merangkai buket bunga ketika ada acara wisuda maupun perpisahan sekolah.
Warga Jalan Fajar inu mengaku modal berjualan buket bunga ini mencapai Rp 5 juta. Ia terkadang tidak balik modal karena sepi pembeli buket bunga. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya berjualan.
"Namanya juga dagang, kadang mau enggak balik modal dan ada ruginya, apalagi kalau sudah terkena hujan," ungkapnya.
Dirinya bukan cuma menjajakan buket bunga dalam wisuda maupun perpisahan sekolah di Kota Pekanbaru. Namun ia rela berjualan hingga Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Semua itu dilakukannya demi membiayai ketiga anaknya.
Perjuangan serupa juga dilakukan pedagang buket bunga lainnya seperti Fardi. Pria ini ternyata baru setahun berjualan buket bunga. Ia rutin menggelar dagangan bunganya di setiap momen wisuda.
Bahkan ia rela berjualan sampai ke Kandis, Kabupaten Siak. Ia mengaku bunga-bunga tersebut bukanlah miliknya, melainkan ia menjual bunga milik orang lain.
Fardi mengaku omset harian berjualan musiman ini tidak menentu. Minimal, satu hari ia bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 500 ribu.
"Kan ada kalanya jualan terasa sepi dan bunganya tidak banyak terjual. Tapi kadang ramai juga," akunya.
Dirinya juga sempat mengeluhkan harga plastik yang mengalami lonjakan dari biasa. Namun ia tidak serta merta menaikkan harga buket bunga yang dijajakannya. Ia menyebut, untuk harga buket bunga yang murah tetap ada.
Fardi sendiri menjual buket bunga dengan harga yang beragam. Ia menjual buket bunga dengan harga mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu.
"Jadi yang kami naikkan, buket bunga yang ukurannya besar. Lalu rumit juga, kalau yang ukuran kecil tidak kami naikkan," ulasnya.
Berjualan buket bunga, bagi Fardi memang hal yang baru. Perantau dari Provinsi Sumatera Barat ini menyebut belum pernah menjual buket bunga sebelumnya. Ia mengaku baru setahun ini banyak belajar tentang buket bunga.
"Baru setahun jualan buket bunga ini, sebelumnya belum pernah. Tapi tetap semangat berjualan setiap ads momen wisuda, maupun perpisahan sekolah," tuturnya.
(Tribunpekanbaru.com/ Fernando Sikumbang)