Anomali Hujan di Bulan Mei 2026
Ari Maryadi May 22, 2026 12:08 AM

Oleh Muhammad Arsyad
Guru Besar Fisika Ekosistem Karst FMIPA UNM Makassar 


SAMPAI 
minggu ketiga Mei 2026 ini, warga Makasssar dikagetkan dengan curah hujan ekstrim pada tanggal 18 Mei kemarin. Meskipun BMKG memprediksi bahwa sejak April 2026 Sulawesi Selatan berada pada fase El Nino dan cendrung berada pada temperatur panas yang berkepanjangan sampai puncaknya pada bulan Agustus 2026. Seperti biasanya, curah hujan ini membuat Jalan Petta Rani dan sekitarnya tergenang setinggi betis orang dewasa. Bukan hanya biaya ekonomi tinggi dampak yang dihasilkan, tetapi kita saksikan macet di jalan sekitar Alauddin dan Parangtambung. Kejadian ini menarik ditelaah lebih jauh dengan menggunakan hukum fisika dalam artian kajian berdasarkan ilmu sains.

Tanggal 18 Mei kemarin itu masuk periode pancaroba, dan Makassar memang kena imbas kombinasi antara MJO (Maden Julian oscilation) aktif dean  pola sirkulasi siklonik pada  kondisi labil lokal.  Kejadian ini disebabkan oleh: (1) MJO aktif di wilayah Indonesia, disertai dengan gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial. Saat MJO fase 3-4 lewat Sulawesi, probabilitas hujan ekstrem di Makassar naik hampir 2x lipat, (2) ada pola sirkulasi siklonik, BMKG mendeteksi sirkulasi siklonik di Laut Sulu dan Papua Barat. Sirkulasi ini bikin angin berputar dan melambat di Selat Makassar, jadi massa udara lembap numpuk di atas Makassar, (3) awan cumulonimbus OCNL 50-75 persen di Selat Makassar & Sulsel.

Artinya potensi hujan sedang-lebat dengan petir dan angin kencang durasi singkat sangat tinggi, dan (4) faktor lokal Makassar, yakni dipicu oleh tiga factor utama yakni pola angin konvergen, pola angin siklonik, dan anomali OLR (outgoing longwave radiation) negatif. Ketiganya terjadi bareng saat MJO aktif. Jadi bukan cuma hujan biasa, tapi hujan konvektif kuat durasi pendek yang gampang bikin genangan. Akibatnya, Makassar dan sekitarnya berpotensi hujan sedang-lebat disertai petir dan angin kencang 18 Mei, masuk kategori waspada banjir/bandang di Sulawesi Selatan. 

Sejatinya, BMKG Wilayah IV Makassar telah menjelaskan lebih lanjut, bahwa  hujan yang mengguyur Kota Makassar dan sekitarnya (bahkan di tengah musim kemarau) disebabkan oleh fenomena anomali cuaca yang dipicu oleh dinamika atmosfer global, khususnya keaktifan 4 gelombang ekuator dan gelombang Rossby yang mendukung pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Sulawesi Selatan.  Keaktifan 4 Gelombang Ekuator: Wilayah Sulawesi Selatan dipengaruhi oleh dinamika atmosfer berupa gelombang ekuator yang aktif dan memicu peningkatan massa udara basah. Untuk Gelombang Rossby: Pemicu utama anomali cuaca ini adalah pergerakan fenomena gelombang Rossby khatulistiwa yang meningkatkan potensi pembentukan awan-awan konvektif (awan hujan) di wilayah Makassar dan sekitarnya dan Anomali Cuaca Skala Global: Hujan yang turun saat klimatologi sedang memasuki periode musim kemarau atau El Nino ini terjadi akibat gangguan atau anomali pada atmosfer global yang berdampak langsung pada cuaca lokal. 

Akibatnya,  fenomena anomali cuaca dengan kondisi tersebut diperkuat oleh suhu muka laut yang menghangat di Laut Banda sehingga meningkatkan pasokan uap air yang dibawa oleh angin timuran menuju daratan Sulawesi Selatan yang dikenal dengan depresi tropis. Depresi tropis merupakan tahap awal dari sistem badai tropis, sebelum jadi badai tropis atau siklon. Ciri-ciri Depresi Tropis, yakni: (1) kecepatan angin sekitar 22 – 33 knot, atau 38 – 62 km/jam. Masih pelan, belum bisa merobohkan rumah, (2) tekanan udara biasanya Lebih rendah dari sekitarnya, tapi belum terlalu rendah, (3) bentuk dengan terdapatnya pusat sirkulasi tertutup + gumpalan awan cumulonimbus yang terorganisir. Kalau dilihat dari satelit, udah muter, tapi belum rapi, dan (4) dampak yang ditumbulkan biasanya bawa hujan deras, angin kencang, gelombang laut naik. Bisa banjir kalau hujannya lama. Jika kecepatan angin naik jadi 34 knot = 63 km/jam atau lebih, statusnya naik menjadi badai tropis. Badai tropis terus dipantai karena ini tanda bibit siklon. Kalau kondisi laut hangat + angin atas mendukung, depresi tropis bisa cepat menguat jadi badai dalam 24-48 jam. Jadi jadi peringatan dini buat nelayan dan daerah pesisir.

Pertanyaan yang menarik adalah mengapa faktor di atas bisa bertemu pada saat bersamaan? Penjelasan singkatnya dapat diuraikan, bahwa: (1) Gelombang Kelvin ekuatorial berjalan ke timur di sepanjang khatulistiwa. Saat fase aktifnya lewat Indonesia, gelombang ini membentuk  konvergensi angin di lapisan bawah + anomali hangat. Akibatnya terjadi kenaikan udara dan membuat kondisi menjadi labil, (2) Gelombang Rossby ekuatorial ber jalan ke barat, bikin siklonik di belahan selatan khatulistiwa. Siklonik = putaran berlawanan jarum jam di belahan selatan. Ini juga menaikkan udara, (3) MJO yang berasal dari Samudra Pasifik, ibarat kendaraan yang didalamnya terdapat gelombang Kelvin dam gelombang Rossby. Saat fase aktif MJO lewat Indonesia, dia sekaligus membawa konvergensi kuat di lapisan bawah , sehingga terjadi penurunan tekanan udara, dan laut Banda (sekitar Sulawesi) makin hangat karena awan tebal . Faktor-faktor ini merupakan  bahan bakar sempurna buat bibit siklon, dan (4) depresi tropis membutuhkan tiga untuk tumbuh: laut > 26.5°C, konvergensi angin bawah, dan vortisitas/putaran awal. Tiga hal itu disuplai oleh MJO + Kelvin + Rossby. Jadi depresi tropis sering “lahir” di dalam amplop MJO aktif.

Jadi faktor ini bertemu bukan bertabrakan, tetapi membentuk  orkestra dengan gelombang besar setel nada dasar, depresi tropis main melodinya. Ketemu barengan = potensi cuaca ekstrem makin tinggi. 

Gelombang Kelvin adalah fenomena gelombang skala besar di atmosfer dan lautan yang terperangkap di sepanjang garis khatulistiwa. Fenomena ini memainkan peran penting dalam menggerakkan variabilitas cuaca tropis, memicu curah hujan ekstrem, dan mendorong siklus iklim global seperti El Niño. Gelombang ini diklasifikasikan menjadi dua jenis utama berdasarkan medium alaminya, yakni: (1) Gelombang Kelvin Atmosfer, baik pergerakannya yang merupakan sistem curah hujan dan pola angin yang bergerak cepat ke arah timur mengelilingi khatulistiwa.

Gelombang ini dapat mengelilingi daerah tropis dalam kurun waktu sekitar satu bulan, maupun dampak cuaca berfungsi sebagai pendorong utama pembentukan awan konvektif skala besar, dan (2)  Gelombang Kelvin Oseanografi (Laut), baik pergerakannya berupa gelombang laut sangat panjang yang menjalar ke arah timur menuju pesisir pantai barat benua (seperti pantai Amerika Selatan)a, maupun dampak iklimnya yang kerap diidentifikasi menjelang akhir tahun sebagai pemicu awal fenomena El Niño. Gelombang ini mendorong lapisan air laut yang hangat dari Samudra Pasifik bagian barat ke arah timur, menyebabkan naiknya permukaan air laut secara signifikan. 

Gelombang Kelvin merupakan fenomena gelombang di laut yang dipengaruhi gaya gravitasi bumi dan terperangkap di daerah ekuatotor, sedangkan Gelombang Rossby (atau gelombang planet) adalah fenomena gelombang atmosfer dan samudra berskala besar yang terbentuk secara alami akibat rotasi Bumi. Di wilayah khatulistiwa, gelombang ini dikenal sebagai Gelombang Ekuatorial Rossby, yang dicirikan oleh pergerakannya yang lambat ke arah barat dan kemampuannya memicu peningkatan awan hujan. 

Gelombang Rossby terjadi karena: (1) rotasi bumi: Terbentuk akibat adanya variasi gaya Coriolis (efek pembelokan arah angin akibat rotasi Bumi) terhadap perubahan lintang bumi, dan (2) pertemuan massa udara: Terjadi ketika udara dingin dari kutub bergerak menuju khatulistiwa dan bertemu dengan udara hangat yang bergerak ke arah kutub

Perbedaan suhu ini menciptakan pola angin bergelombang di ketinggian (arus jet) dengan  

dampaknya terhadap Cuaca dan Iklim, sebagai pemicu cuaca ekstrem, pada saat gelombang Rossby melintasi suatu wilayah, ia sering membawa udara lembap yang mendukung pembentukan awan konvektif secara luas, dan curah hujan tinggi, bersama fenomena atmosfer lainnya seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) atau Gelombang Kelvin, aktivitas Gelombang Rossby kerap diidentifikasi oleh BMKG sebagai pemicu hujan dengan intensitas lebat yang berpotensi menimbulkan banjir di berbagai wilayah Indonesia.

Karena keempatnya itu “tingkatan” gangguan atmosfer yang beda skala ruang dan waktu, tapi semuanya bisa hidup barengan di daerah tropis, terutama di perairan hangat Indonesia. Mereka ketemu bukan kebetulan, tapi karena saling mendukung. Fakta sains memberikan penjelasan bagaimana posisi Indonesia (Makassar) yang berada di daerah khatulistiwa memang sangat rentan terhadap kondisi cuaca yang ekstrim. Untuk itu, dibutuhkan kearifan bagi manusia untuk menjaga kesetimbangan ekosistem di dalam kerangka bumi agar tetap memberikan faedah besar bagi kehidupan dan penghidupan. 

Allahu alam bisshawab.-

 

Makassar,  Mei 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.