Laporan Wartawan Tribun Papua, Yulianus Magai
TRIBUNPAPUA.COM, JAYAPURA – Kerja keras, kedisplinan, dan keteguhan mental menjadi kunci bagi talenta muda Papua untuk menembus panggung sepak bola internasional.
Yusmus Dudai (22), pesepak bola muda asal Putapa, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, resmi memulai lembaran baru karier profesionalnya di luar negeri setelah dipinang oleh klub kasta kedua Liga Timor Leste, Villa Atauro.
Keberhasilan ini menjadi capaian monumental bagi pemuda beraliran penyerang tengah (center forward) tersebut.
Langkah kaki Yusmus ke Timor Leste membuktikan keterbatasan infrastruktur di daerah tidak menjadi penghalang bagi talenta lokal untuk merajut karier di level internasional.
Meski postur tubuhnya relatif pendek untuk ukuran penyerang modern, sekitar 160 sentimeter, Yusmus menutupi kekurangan tersebut dengan keunggulan lain.
Baca juga: Boaz Solossa dan Sumpah Pemuda di Lapangan Hijau
Ia dikenal sebagai penyerang yang memiliki determinasi tinggi, kecepatan, kemampuan adaptasi menggunakan kedua kaki yang seimbang, serta naluri mencetak gol yang tajam di dalam kotak penalti.
Di usia 22 tahun, Yusmus sudah mengoleksi pengalaman bermain di berbagai kompetisi penting, mulai dari Liga 3 Zona Papua, Liga 3 Nusantara, hingga memperkuat Papua Tengah pada ajang Pra PON XXI Aceh-Sumut 2024.
Dihubungi Tribun-Papua.com, Jumat (22/5/2026), Yusmus mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang ia dapatkan.
Baginya, lompatan karier ini merupakan akumulasi dari proses panjang yang berdarah-darah sejak ia pertama kali menekuni sepak bola secara serius pada 2019, saat masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah atas.
“Puji Tuhan saya sangat senang dan bangga karena bisa bermain di luar negeri. Ini bukan karena kebolehan saya sendiri, tetapi karena pertolongan Tuhan, kerja keras, disiplin, dan proses panjang yang saya jalani selama ini,” ujar Yusmus Dudai.
Meniti Tangga Kompetisi Lokal
Sebelum mendarat di Timor Leste, Yusmus telah meniti anak tangga kompetisi domestik dengan konsisten.
Yusmus serius menekuni sepak bola sejak 2019 saat masih duduk di bangku SMA kelas 1.
Namanya mulai mencuat saat memperkuat Persipani Paniai dan berhasil mengantarkan klub tersebut merengkuh gelar juara Liga 3 Zona Papua pada musim 2022.
Karier berlanjut dengan membela Persipani di putaran nasional Liga 3 Nusantara musim 2024-2025, sebelum kemudian menyeberang ke Persinab Nabire pada musim 2025-2026.
Di level regional, Yusmus juga menjadi salah satu pilar penyerangan tim pra-PON Papua Tengah saat bersiap menuju PON XXI Aceh-Sumut 2024.
Ketajamannya di lini depan kian sahih saat ia menyabet gelar pencetak gol terbanyak dalam Turnamen Badai Cartenz 2024.
Bagi Yusmus, posisi ujung tombak bukan sekadar urusan mencetak gol, melainkan memikul tanggung jawab taktis yang besar bagi tim.
"Sebagai striker, kita harus punya naluri gol yang tajam, kerja keras di lapangan, dan harus siap membantu tim kapan saja," kata pengagum mantan bintang Liverpool dan Bayern Munchen asal Senegal, Sadio Mané, ini.
Tantangan Infrastruktur di Papua
Perjalanan Yusmus menuju kompetisi luar negeri tidak dilalui di atas karpet merah.
Ia menyoroti salah satu persoalan klasik yang masih menyelimuti pembinaan sepak bola di tanah Papua, khususnya di provinsi baru seperti Papua Tengah, yakni minimnya sarana olahraga dan ketiadaan kompetisi usia muda yang berjenjang.
"Proses menuju titik ini cukup jauh dan panjang. Di Papua masih ada keterbatasan sarana dan prasarana, termasuk kompetisi yang berjenjang. Tetapi kalau mau sukses, harus tetap kerja keras dan terus berproses," tutur Yusmus.
Baca juga: Sayonara! Persipura Gagal Melenggang ke Kasta Tertinggi
Ia berharap, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur, seperti stadion yang layak, guna memayungi bakat-bakat alam yang melimpah di Papua Tengah.
Terkait proses adaptasi di Timor Leste, Yusmus mengaku tidak menemui kendala kultural maupun taktis yang berarti.
Karakteristik permainan sepak bola di Timor Leste dinilainya memiliki kemiripan dengan langgam sepak bola di Indonesia yang mengandalkan kecepatan fisik.
Untuk menjaga performanya di klub baru, Yusmus menerapkan disiplin ketat pada dirinya sendiri, mulai dari menjaga pola makan, istirahat, hingga tetap melakukan latihan mandiri saat tim sedang diliburkan.
"Kalau hari kosong, saya tetap lari sore atau jogging di lapangan supaya kondisi tetap terjaga," ucapnya.
Kini, bersama Villa Atauro, Yusmus memancang target realistis untuk membawa klubnya promosi ke kasta tertinggi Liga Timor Leste, sekaligus menjadikan momentum ini sebagai jembatan menuju kompetisi yang lebih besar di masa depan. (*)