TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat, berisi pesan keagamaan serta pengingat bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Tema khutbah Jumat 22 Mei 2026 tentang “Puasa Arafah dan Komitmen Hijrah Personal” mengajak umat Islam menjadikan momen ini sebagai sarana introspeksi dan memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik.
Selain menahan lapar dan dahaga, Puasa Arafah juga menjadi latihan untuk meningkatkan ketakwaan, menjaga perilaku, memperbanyak istighfar, serta meninggalkan kebiasaan buruk dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui khutbah ini, jamaah diharapkan dapat memperkuat semangat hijrah personal dengan meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, dan mempererat hubungan sosial menjelang Idul Adha 2026.
Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat, 22 Mei 2026.
Baca juga: Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Hikmah Wukuf di Arafah, Ajaran Ukhuwah dan Kepedulian
Marilah kita kuatkan kembali ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hiasan lisan. Takwa bukan kalimat yang hanya indah ketika diucapkan di mimbar. Takwa adalah keberanian untuk taat ketika nafsu menarik kita menjauh. Takwa adalah kesanggupan menjaga diri ketika tidak ada orang yang melihat. Takwa adalah sikap hidup: jujur ketika mudah berbohong, sabar ketika mudah marah, dan terus memperbaiki diri meski tidak ada manusia yang memuji.
Maasyiral Muslimin rakhimakumullah,
Kita sedang berada di bulan Zulhijah, bulan yang di dalamnya Allah letakkan hari-hari agung. Ada hari Arafah. Ada Iduladha. Ada hari-hari tasyrik. Pada 9 Zulhijah, saudara-saudara kita yang berhaji berdiri di Padang Arafah. Mereka menanggalkan pakaian kebanggaan. Mereka mengangkat tangan. Mereka datang dengan tubuh yang lelah, mata yang basah, dan hati yang berharap: semoga Allah mengampuni.
Bagi kita yang tidak sedang berhaji, Allah tidak menutup pintu kebaikan. Allah memberi jalan lain untuk mendekat. Salah satunya adalah puasa Arafah. Inilah puasa yang datang bukan hanya untuk membuat perut lapar, tetapi untuk mengguncang hati agar sadar. Bukan hanya menahan haus, tetapi menahan diri dari dosa yang selama ini terlalu sering kita pelihara.
Rasulullah saw bersabda:
"Dari Abu Qatadah r.a., Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau bersabda: "Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (H.R. Muslim).
Jemaah sekalian,
Satu hari puasa, tetapi Allah bukakan ampunan yang begitu luas. Satu hari menahan diri, tetapi Allah jadikan ia sebab penghapusan dosa. Ini bukan perkara kecil. Ini bukti bahwa Allah masih ingin kita pulang. Allah masih memberi kesempatan kepada hamba yang hidupnya sering jatuh, sering lalai, sering kalah oleh hawa nafsu, tetapi masih mau mengetuk pintu ampunan-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa dalam hadis ini terutama berkaitan dengan dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar membutuhkan tobat yang sungguh-sungguh. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa puasa Arafah sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak berhaji karena di dalamnya ada keutamaan ampunan dosa dan penyucian jiwa.
Artinya, puasa Arafah bukan rutinitas tahunan biasa. Ia adalah panggilan untuk membersihkan diri. Ia adalah kesempatan untuk bertanya: dosa apa yang terlalu lama kita bawa? Kebiasaan buruk apa yang terlalu sering kita bela? Kesalahan apa yang terus kita ulang, padahal hati kecil kita tahu bahwa itu menjauhkan kita dari Allah?
Jemaah salat Jum'at yang dimuliakan Allah,
Puasa Arafah mengajarkan hijrah personal. Hijrah diri. Hijrah batin. Hijrah yang tidak selalu terdengar oleh orang lain, tetapi terasa oleh hati sendiri. Dari lalai menuju sadar. Dari dosa menuju tobat. Dari kebiasaan buruk menuju hidup yang lebih bersih. Dari menjadi manusia yang mudah menunda ibadah menuju manusia yang mulai takut kehilangan waktu di hadapan Allah.
Allah Swt berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya." (Q.S. At-Tahrim [66]: 8).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tobat nasuhah adalah tobat yang tulus. Bukan tobat yang hanya muncul ketika hati sedang takut, lalu hilang ketika godaan datang. Bukan tobat yang hanya diucapkan, tetapi tidak pernah mengubah langkah. Tobat nasuhah adalah penyesalan yang jujur, keberanian meninggalkan dosa, dan tekad kuat untuk tidak kembali ke lubang yang sama.
Inilah inti hijrah personal. Hijrah bukan hanya kisah Rasulullah saw berpindah dari Makkah ke Madinah. Hijrah juga harus terjadi dalam diri kita. Ada orang yang belum pindah tempat, tetapi hatinya sudah berhijrah. Ada orang yang masih bekerja di tempat yang sama, tinggal di rumah yang sama, hidup di lingkungan yang sama, tetapi cara hidupnya berubah: lisannya lebih dijaga, salatnya lebih diperhatikan, akhlaknya lebih lembut, dan dosanya mulai ia tinggalkan.
Rasulullah saw bersabda:
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah." (H.R. Bukhari).
Jemaah yang dirahmati Allah,
Di zaman hari ini, hijrah personal terasa semakin berat. Kita hidup di zaman ketika dosa kadang tampil lebih percaya diri daripada kebaikan. Orang bisa malu terlihat rajin ibadah, tetapi tidak malu mempertontonkan maksiat. Orang bisa takut disebut sok alim ketika mulai ke masjid, tetapi tidak takut ketika hatinya makin jauh dari Allah. Ada yang takut kehilangan teman jika meninggalkan keburukan, tetapi tidak takut kehilangan ketenangan karena terus hidup dalam dosa.
Media sosial membuat manusia sibuk membangun citra. Banyak yang ingin terlihat bahagia, padahal batinnya kosong. Ingin terlihat sukses, padahal hidupnya gelisah. Ingin terlihat saleh, padahal saat sendiri ia kalah oleh dosa yang sama. Di depan manusia tampak baik-baik saja, tetapi di hadapan Allah ia tahu ada banyak hal yang harus diperbaiki.
Inilah saatnya puasa Arafah membuka mata kita. Jangan hanya perut yang kosong, sementara hati tetap penuh iri. Jangan hanya tenggorokan yang kering, sementara lisan tetap basah oleh gibah. Jangan hanya tubuh yang menahan makan, sementara mata, tangan, pikiran, dan hati tetap bebas berjalan menuju maksiat.
Jika selama ini salat sering ditunda, hijrahlah. Jika selama ini lisan mudah menyakiti, hijrahlah. Jika selama ini hati dipenuhi iri, dengki, dan sombong, hijrahlah. Jika selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai Allah hanya kita ingat ketika susah, hijrahlah. Jika selama ini kita berani berbuat dosa karena merasa masih punya waktu, berhentilah menipu diri sendiri. Tidak ada yang tahu kapan kesempatan terakhir itu datang.
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa inti ibadah bukan hanya gerakan lahiriah, tetapi penyucian hati dari penyakit-penyakit batin. Sebab hati yang bersih akan melahirkan perilaku yang baik.
Maka, ukuran puasa Arafah bukan hanya apakah kita berhasil tidak makan dan minum sampai magrib. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah setelah puasa ini hati kita menjadi lebih takut kepada Allah? Apakah lisan kita lebih terjaga? Apakah salat kita lebih serius? Apakah hubungan kita dengan keluarga lebih baik? Apakah kita lebih ringan meminta maaf? Apakah kita lebih kuat meninggalkan dosa yang selama ini kita sembunyikan?
Jemaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Puasa Arafah adalah pintu hijrah. Ia mengajak kita pulang dari kelalaian menuju kesadaran, dari dosa menuju ampunan, dari hati yang keras menuju jiwa yang lebih lembut, dari hidup yang sibuk mengejar penilaian manusia menuju hidup yang mencari rida Allah. Maka jangan biarkan puasa Arafah berlalu seperti kalender yang berganti. Jangan sampai ia datang setiap tahun, tetapi kita tetap menjadi orang yang sama: marahnya sama, gibahnya sama, lalainya sama, maksiatnya sama, salatnya tetap ditunda, Al-Qur'an tetap jarang dibuka, dan hati tetap keras ketika mendengar nasihat.
Semoga Allah menerima puasa Arafah kita, menghapus dosa-dosa kita, melembutkan hati kita, dan memberi kita keberanian untuk berhijrah dari segala keburukan menuju rida-Nya. Amin.
(Tribunnews.com/Latifah)