Cerita Amidar Detik-detik Banjir di Padang Terjang Rumah, Dentuman Keras Bikin Panik Saat Mau Tidur
Rahmadi May 22, 2026 03:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Mata Amidar (60) tampak memerah saat menyambut kedatangan TribunPadang.com di rumahnya, Jumat (22/5/2026). 

Baju yang dikenakannya terlihat lusuh, sementara kedua kakinya masih dipenuhi lumpur sisa banjir yang menerjang kawasan tempat tinggalnya.

Dengan langkah perlahan, Amidar berjalan menuju rumah yang kini dipenuhi lumpur. 

Rumah sederhana yang berada di RT 02/RW 06, Kelurahan Kampung Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) itu menjadi tempat ia berteduh bersama anak dan cucunya setelah banjir melanda pada Kamis (21/5/2026) malam.

Lantai rumah tampak masih basah dan berlumpur. Perabotan di dalam rumah juga terlihat berantakan akibat terjangan air bercampur lumpur yang masuk secara tiba-tiba.

Baca juga: Hujan Badai Terjang Padang, Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga Surau Gadang hingga Rusak

Amidar bercerita, malam itu dirinya baru saja hendak beristirahat usai bekerja di sawah milik warga.

Kondisi tubuhnya yang lelah membuat ia memilih tetap tinggal di rumah meski cucunya sempat mengajak mengungsi.

"Kejadian saat saya mau tidur usai pulang dari sawah. Cucu saya mengajak saya mengungsi ke rumah keluarga yang lain karena lebih tinggi. Karena saat itu masih hujan, saya tetap tidur dan saya sampaikan ke cucu saya bahwa tidak banjir," kata Amidar kepada TribunPadang.com di rumahnya.

Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. 

Setelah mencoba menenangkan cucunya dan membaringkan badan di kasur, air tiba-tiba masuk ke dalam rumah.

Baca juga: Pemko Padang Perkuat Operator ATS, 6.615 Anak Tidak Sekolah Jadi Perhatian

"Baru saat saya meletakkan kepala ke bantal, air tiba-tiba masuk ke kamar saya. Warnanya keruh dan membawa lumpur," ujarnya.

Air terus masuk dengan cukup deras hingga menggenangi rumahnya.

"Air di rumah saya setinggi betis. Sementara air di luar cukup dalam dan tinggi," jelasnya.

Di tengah kepanikan itu, Amidar juga mendengar suara dentuman keras dari luar rumah.

Suara tersebut membuat suasana semakin mencekam.

"Suara dentuman cukup keras. Karena air tinggi saya panik dan berteriak minta tolong. Tapi karena orang di sini juga terdampak, tidak bisa membantu saya saat itu," katanya.

Baca juga: Pemko Padang Perpanjang Kerja Sama Sertifikat Elektronik hingga 2030, BSrE Beri Apresiasi

Peristiwa tersebut membuat Amidar kembali dihantui trauma. 

Ia mengaku banjir kali ini menjadi yang kedua kalinya merendam rumahnya dalam waktu tidak terlalu lama.

"Ini yang kedua kali. Sebelumnya banjir besar terjadi saat November 2025, dan semalam yang kedua kali. Itu membuat saya dan cucu sangat trauma," ungkapnya.

Kini, Amidar hanya berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumahnya yang rusak akibat banjir.

"Yah saya berharap bisa dibantu, perbaiki rumah saya," tuturnya.

Sementara itu, pantauan TribunPadang.com di lokasi, tidak hanya rumah Amidar yang terdampak. 

Puluhan rumah warga lainnya juga dipenuhi lumpur pascabanjir.

Selain merendam permukiman, banjir juga merusak sawah warga yang baru ditanami padi.

Hamparan sawah terlihat tertimbun lumpur dan material bawaan arus.

Sejumlah perangkat daerah, mulai dari camat, lurah, hingga pengurus RW dan RT, juga telah mendatangi rumah-rumah warga terdampak untuk melakukan pendataan dan melihat kondisi korban banjir. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.