Ekonomi Indonesia Bergejolak, Luhut Minta Maaf ke Investor Global di Singapura
Arifah Nur Shufiyatin May 22, 2026 03:42 PM

Pernyataan tersebut disampaikan Luhut melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis (21/5/2026), usai bertemu dengan sejumlah pelaku pasar di Singapura.

Dalam keterangannya, Luhut mengakui adanya kekhawatiran dari para investor terhadap volatilitas pasar yang terjadi belakangan ini.

“Saya minta maaf jika beberapa dari Anda mengalami dampak negatif karena situasi ini,” ujar Luhut.

Rupiah hingga Geopolitik Jadi Pemicu

Luhut menjelaskan bahwa gejolak pasar dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah, arus keluar masuk modal, hingga kebijakan suku bunga tinggi di berbagai negara.

Selain itu, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memberikan tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan, termasuk Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk skenario terburuk jika harga minyak dunia melonjak hingga mencapai US$ 100 per barel.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menambah beban terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Klaim Ekonomi RI Masih Kuat

Meski menghadapi tekanan global, Luhut menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid dibandingkan sejumlah negara lain.

Ia memaparkan bahwa tingkat inflasi Indonesia masih terkendali di kisaran 2,4 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen.

Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa perekonomian nasional masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.

Ingatkan Prabowo Subianto Soal Risiko Inflasi

Lebih lanjut, Luhut mengungkapkan dirinya telah mengingatkan Presiden Prabowo Subianto terkait potensi peningkatan tekanan inflasi yang diperkirakan terjadi setelah Juli 2026.

Menurutnya, pemerintah perlu segera menyiapkan langkah antisipasi, termasuk merancang stimulus ekonomi tambahan untuk menjaga stabilitas.

Langkah ini dianggap penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga, terutama jika dampak kenaikan harga energi mulai terasa di dalam negeri.

“Tapi saya juga ingatkan kepada presiden, kita harus melihat dengan jelas setelah Juli. Jadi, kita juga harus mempersiapkan stimulus untuk menjaga ekonomi kita,” jelas Luhut.

Antisipasi Demi Stabilitas Ekonomi

Pernyataan Luhut ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah tengah bersiap menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin tidak menentu.

Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan stimulus yang tepat, pemerintah berharap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kenaikan harga energi dan inflasi.

Situasi ini pun menjadi perhatian serius, terutama bagi investor global yang terus memantau stabilitas pasar Indonesia di tengah tekanan ekonomi dunia.


(*)

# Luhut Binsar Pandjaitan # minta maaf # investor # investasi # global # Singapura # Ekonomi  # 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.