Jakarta (ANTARA) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menghadirkan ruang edukasi antikorupsi kepada generasi muda melalui festival film yang dikemas dalam program Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2026.

Dalam gelaran tahun ini, ACFFEST berkolaborasi dengan komunitas 'Ruang Nonton' menggelar program "Movie Day" yang akan digelar di tiga titik di Jakarta. Kegiatan perdana dilaksanakan di SMPN 125 Jakarta dengan melibatkan sekitar 150 siswa kelas 7 hingga 9.

“Kami percaya bahwa edukasi antikorupsi tidak selalu harus disampaikan di dalam ruang kelas atau seminar formal. Film memiliki kekuatan untuk menyentuh emosi, membangun empati, dan mengajak masyarakat berpikir secara kritis. Selama lebih dari satu dekade, ACFFEST menjadi ruang kolaborasi antara sineas muda, komunitas film, akademisi, dan masyarakat,” kata Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief di Jakarta, Jumat.

Dalam kegiatan bertajuk "Ruang Nonton Sekolah", para peserta diajak menonton tiga film pilihan, yaitu Tabrak Lucy, Kronik Puriwicara, dan Andaka Janu. Tidak hanya menonton bersama, siswa juga mengikuti sesi diskusi interaktif, permainan edukatif, hingga pembuatan komitmen bersama tentang pentingnya menjaga integritas sejak dini.

Memasuki tahun ke-12 penyelenggaraannya, ACFFEST 2026 mengangkat tema “Dari Lensa, Integritas Terjaga!” sebagai ajakan untuk menggunakan media seni dan audiovisual dalam mengkampanyekan nilai-nilai antikorupsi.

Melalui tema tersebut, ACFFEST mendorong keterlibatan aktif generasi muda untuk lebih kritis dalam melihat berbagai perspektif mengenai perilaku koruptif serta dampaknya dalam kehidupan bermasyarakat.

Film dipilih sebagai medium yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat, reflektif, dan menyenangkan.

Penulis Film Andaka Janu dan Hutang Nyawa, Ni Luh Febri Darmayanti, membagikan cerita mengenai proses kreatif di balik film Andaka Janu yang terinspirasi dari lagu daerah Bali Dadong Dauh.

Lagu rakyat tersebut berkisah tentang seorang anak yang mengambil telur ayam tanpa izin dan kemudian dinasihati oleh sang nenek mengenai pentingnya kejujuran serta tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

Menurut Febri, nilai-nilai sederhana yang hadir dalam lagu itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi pijakan emosional dalam membangun cerita film Andaka Janu.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para siswa aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam berbagai aktivitas interaktif yang disiapkan panitia.

Pihak sekolah pun menyambut positif kolaborasi ini lantaran pendekatan edukasi melalui film dan diskusi interaktif membuat pesan antikorupsi lebih mudah diterima oleh siswa.

Sementara itu, Perwakilan Komunitas Ruang Nonton, Nisa, berharap film menjadi media yang mampu menghadirkan ruang-ruang diskusi antikorupsi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

“Lebih dari itu, film juga diharapkan mampu membangun kesadaran, empati, dan integritas di kalangan generasi muda Indonesia,” ujar Nisa.