Workshop “From Waste to Action” Ajak Anak Muda Labuan Bajo Ubah Sampah Jadi Aksi Nyata
Nofri Fuka May 22, 2026 09:44 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo, persoalan sampah menjadi tantangan nyata yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk generasi muda. 

Menjawab tantangan tersebut, Program Positif Bajo bersama PTTEP Indonesia dan PT. INGRAM menghadirkan Youth Workshop Campaign bertajuk “From Waste to Action” pada 21 - 22 Mei 2026 di Kampus Politeknik eLBajo Commodus Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi, pembelajaran, dan aksi bagi generasi muda Manggarai Barat untuk menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah berkelanjutan di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo. 

Workshop ini juga menjadi bagian dari penguatan Program Positif Bajo yang telah berjalan sejak 2024 melalui pendekatan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

 

Baca juga: Pelaku Pariwisata Sebut Kerusakan Crossway Waemusur Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

 

 

Melalui seminar, diskusi interaktif, studi kasus, hingga sesi design thinking, peserta diajak memahami tantangan pengelolaan sampah di wilayah pesisir dan destinasi wisata, sekaligus merancang ide kampanye kreatif yang dapat diterapkan langsung di komunitas mereka.

Seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, komunitas pemuda, organisasi lingkungan, relawan, dan aktivis keberlanjutan yang ditargetkan hadir dalam kegiatan ini. 

Dari workshop tersebut diharapkan lahir berbagai inisiatif dan aksi nyata yang dapat memperkuat budaya memilah sampah dari sumbernya serta mengurangi penggunaan sampah sekali pakai di masyarakat.

Direktur Politeknik eLBajo Commodus, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si saat membuka kegiatan Youth Workshop Campaign tersebut menyampaikan terima kasih kepada PTTEP Indonesia dan PT INGRAM yang sudah peduli dan konsen terhadap pengelolaan dan pengolahan sampah.

Menurut Prof. I Nengah Dasi Astawa, lembaganya juga fokus terhadap pelestarian lingkungan, khususnya terhadap penanganan sampah. eLBajo (Politeknik eLBajo Commodus) ini tiap hari kerja bakti. Kampus ini suatu Lembaga yang tiap hari kerjanya juga urus sampah. Sampah kita bersihkan terus. Lembaga ini kecil barangnya, tapi besar ide dan kemajuannya,” kata Prof. I Nengah Dasi Astawa kepada TribunFlores.com, Jumat (22/5/2026). 

Dalam kesempatan itu itu, Direktur Politeknik eLBajo Commodus juga melakukan penandatanganan Memmorandum of Understanding (MoU) bersama Direktur PT INGRAM, Fey Febri dalam Upaya penanganan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Labuan Bajo.

“Kerja sama ini bikin eLBajo makin semangat.  Kampus punya target ringkatkan kualitas anak-anak Labuan Bajo tidak saja maju dibidang akademik dan teknologi terapan, tapi juga peduli terhadap pelestarian lingkungan,” tegas Prof. I Nengah Dasi Astawa.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (Kadis LHP) Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande yang hadir dalam kesempatan itu membeberkan kondisi sampah di wilayahnya.

Vinsentius menyebutkan, timbunan sampah di Kabupaten Manggarai Barat mencapai 157,31 ton perhari. Sampah yang dirproduksi individu mencapai 0,5 kg per hari. “Kondisi ini membuat Kabupaten Manggarai Barat masuk kategori daerah sedang,” kata Vinsensius.

Vinsensius melanjutkan, untuk terkelola sampah rata-rata l84,21 ton per hari atau 57,16 persen. Yang dibuang ke lingkungan 62,27 ton atau 42,84 persen. Upaya pengurangan sampah 11,85 ton per hari. Untuk penanganan 49,11 persen, dan masih berfokus pada wilayah di sektor tengah dan hilir. Untuk sektor Tengah yang ditangani 37,80 ton per hari atau 25,65 persen. 

“Salah satu peran dalam Upaya penanganan pengurangan sampah adalah peran PT INGRAM. Sementara untuk sektor informal/pengepul mengurangi hingga 9,86 ton per hari. Sementara yang langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) mencapai 26,27 ton per hari,” jelas Vinsensius. 

Dari data ini, kata Vinsensius menunjukkan bahwa penanganan sampah di Kabupaten Manggarai Barat tidak sedang baik-baik saja. “Isu sampah masuk indikator utama arah Pembangunan di Manggarai Barat. Ini setara mengurus penanganan stunting dan kemiskinan. Dan ini satu-satunya daerah di NTT yang memasukan penanganan sampah sebagai indicator utama Pembangunan,” kata Vinsensius.

Direktur PT INGRAM, Fey Febri saat Youth Talk:  From Waste To Action Positif Bajo (B+) dalam kesempatan itu mendorong para mahasiswa dan pelajar di Manggarai Barat untuk memilah dan mengolah sampah secara inovatif.

Fey Febri mengatakan hal ini karena dari fakta yang terjadi, banyak daerah wisata ditinggalkan wisatawan karena persoalan sampah. Sementara, Manggarai Barat telah dinobatkan sebagai daerah wisata super prioritas di Indonesia dan sudah mendunia.

Ikon Wisata Super Premium

Labuan Bajo di Manggarai Barat, kata Fey Febri menjadi ikon wisata super premium yang menjadi tujuan wisatawan mancanegara. “Banyak destinasi wisata yang ditinggalkan karena sampah Dimana-mana. Karena itu, sampah harus kita kelola,” ajak Fey Febri.

Fey Febry mengatakan, sasalah sampah masih sulit penyelesaiannya karena kurangnya kesadaran dalam mengelola. Mestinya sampah bisa dikelola. Jika tidak, sampah bisa menimbulkan risiko masa depan dalam aspek ekonomi, kesehatan, dan menjadi warisan buruk bagi keberlanjutan.

PTTEP Indonesia dan PT INGRAM, kata Fey Febri, menghadirkan solusi penanganan sampah melalui program Positif Bajo. Program ini dilakukan dengan tujuan edukasi bahwa setiap sampah yang dihasilkan adalah tanggung jawab yang bersangkutan. 

“Jadi sampah yang kita hasilkan haruslah menjadi tanggung jawang kita. Ingat bahwa sampahku tanggungjawanku. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kita. Saya ajak teman-teman muda di Labuan Bajo untuk wujudkan ide kreatif menjaga lingkungan,” ajak Fey Febri.

Program Positif Bajo percaya bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan penggerak kampanye publik. Dengan kreativitas, semangat kolaborasi, dan kepedulian sosial yang dimiliki, anak muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan perilaku lingkungan di Labuan Bajo dan Manggarai Barat.

PTTEP merupakan perusahaan minyak dan gas asal Thailand yang secara aktif mendukung berbagai program lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di wilayah operasinya. 

Dukungan perusahaan dalam Program Positif Bajo dan kegiatan Youth Workshop Campaign “From Waste to Action” mencerminkan komitmen Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dalam mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan, pengurangan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular, serta mendorong partisipasi generasi muda dalam menciptakan perubahan perilaku menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Destinasi Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLF), Konstant Mardinandus dalam pemaparannya dengan topik, “Labuan Bajo Berkelanjutan, Tantangan Sampah dan Peran Strategis Pemuda” menjelaskan bahwa pihaknya merupakan sebuah Lembaga dibawah Kementerian Pariwisata dengan tujuan menciptakan Labuan Bajo menjadi destinasi pariwisata kelas dunia dan sustainable atau berkelanjutan. 

Menurutnya, berbicara tentang sampah tidak bisa bicara personal, tapi butuh kolaborasi dan kolaboraksi. Labuan Bajo sejak tahun 1999 sampai hari ini, tidak ada gerakan besar untuk penanganan sampah dari hulu. “Karena itu, butuh kesadaran kita semua, terutama generasi muda,” katanya.

Peran generasi muda penting sebagai agen perubahan, sebagai inovator dan creative leader, juga mitra strategis. Hal ini penting guna menjadikan Labuan Bajo Lestari. “Kita harus terus mengampanyekan kesadaran mengelola sampah dari anak-anak. Sampah harus dipilih dan dipilah mulai dari rumah tangga,” pesannya. (moa) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.