Aliansi Baru Rombak Lanskap Geopolitik Timur Tengah
Tribunnews May 23, 2026 12:38 AM

Pekan ini muncul laporan bahwa Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) tengah membentuk dana pertahanan bersama yang memungkinkan kedua negara membeli persenjataan secara kolektif. Laporan yang pertama kali diterbitkan media Middle East Eye itu mengutip dua pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya, namun hingga kini belum dikonfirmasi kedua pemerintah.

Kesepakatan itu disebut tercapai dalam kunjungan rahasia Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke UEA. Dia sendiri mengumumkan lawatan tersebut pada malam 13 Mei. Beberapa jam kemudian, pemerintah UEA membantah kunjungan itu pernah terjadi.

Sehari sebelumnya, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee mengungkapkan dalam sebuah acara di Tel Aviv bahwa Israel telah meminjamkan sistem pertahanan udara kepada UEA untuk membantu menghadapi serangan Iran.

Timur Tengah memasuki babak baru

Rangkaian peristiwa itu—ditambah keputusan UEA keluar dari OPEC pada akhir April setelah 59 tahun menjadi anggota—memicu gelombang analisis mengenai perubahan besar di Timur Tengah.

"Orde lama di Teluk yang telah bertahan selama puluhan tahun mulai memudar, dan tatanan baru sedang terbentuk,” tulis Cinzia Bianco, peneliti tamu di European Council on Foreign Relations, dalam komentarnya pertengahan Mei.

Mantan Duta Besar Korea Selatan untuk Israel, Ma Young-sam, bahkan menyebut situasi ini sebagai lahirnya "tatanan Timur Tengah baru”.

Marcus Schneider dari Friedrich Ebert Foundation di Lebanon menggambarkan kemunculan dua blok utama di kawasan. Blok pertama berbentuk "heksagon”, terdiri dari UEA dan Israel. Blok kedua disebut "berlian Sunni”, yang mencakup Arab Saudi, Pakistan, Turki, dan Mesir.

Menurut Schneider, Israel dan UEA sama-sama menjalankan politik "disrupsi” demi membentuk ulang Timur Tengah dan kawasan sekitarnya. Netanyahu berulang kali menyatakan Israel tengah "mengubah wajah Timur Tengah”, termasuk setelah serangan gabungan Israel-AS ke Iran awal Maret lalu.

UEA juga disebut memiliki ambisi serupa. Abu Dhabi ingin membangun jaringan pengaruh geopolitik dan geoekonomi baru yang berpusat pada dirinya.

Namun hubungan itu tidak semata ideologis. "Bagi UEA, Israel menawarkan sumber daya, jaringan, kemampuan pertahanan, teknologi, dan pengaruh global,” tulis Bianco.

Saudi memilih jalur berbeda

Sementara itu, kelompok "berlian Sunni” mengambil pendekatan berbeda. Menurut Schneider, Arab Saudi kini lebih mengutamakan stabilitas demi menjaga target ekonominya.

"Pendekatannya lebih transaksional,” katanya kepada DW. "Mereka punya kepentingan bersama untuk berhubungan dengan Iran karena merekalah yang paling terdampak konflik. Pada saat yang sama, mereka juga ingin menahan cara berpikir Israel yang merasa bisa membombardir apa pun, di mana pun, kapan pun.”

"Jika rencana Israel memicu perang antara kami dan Iran berhasil, kawasan ini akan tenggelam dalam kehancuran,” tulis al-Faisal. "Israel akan berhasil memaksakan kehendaknya dan menjadi satu-satunya kekuatan dominan di kawasan.”

Retakan di Teluk kembali muncul

Sebelum perang Iran meletus, ketegangan sebenarnya sudah terlihat antara UEA dan Arab Saudi, terutama terkait konflik Yaman.

Kristian Coates Ulrichsen dari Baker Institute for Public Policy menilai perbedaan itu mencerminkan visi kawasan yang semakin bertolak belakang.

"Arab Saudi tidak lagi tertarik pada petualangan militer, berbeda dengan Abu Dhabi yang dianggap masih nyaman mengambil risiko dan mendukung kelompok bersenjata non-negara,” ujarnya kepada DW awal tahun ini.

Saat perang Iran pecah, negara-negara Teluk sempat menunjukkan persatuan. Namun kini, ketika satu negara mempererat hubungan dengan Israel sementara yang lain melihat Israel sebagai ancaman, perpecahan kembali terlihat.

"Saudi dan Emirat bergerak ke arah yang berlawanan,” kata Schneider.

Tidak ada aliansi permanen

Meski demikian, banyak analis menilai terlalu sederhana jika melihat situasi ini sebagai soal "memilih kubu”. Menurut mereka, hubungan di Timur Tengah saat ini jauh lebih cair dibanding era Perang Dingin.

"Kita hidup di era yang disebut sebagai ‘promiskuitas geopolitik',” ujar Schneider. "Aliansi sekarang tidak lagi kaku.”

Profesor pembangunan ekonomi dari Universitas Duisburg-Essen, Ibrahim Öztürk, menilai negara-negara Teluk sebenarnya sedang berusaha bertahan di tengah situasi yang sangat tidak stabil.

"Alih-alih memilih pihak, mereka sedang berebut mencari cara bertahan di lingkungan yang sangat volatil,” katanya.

Öztürk juga meragukan kedua blok tersebut dapat bertahan lama. Koalisi Sunni, menurutnya, sulit dipertahankan karena perbedaan struktur politik, ekonomi, hingga ketergantungan terhadap kekuatan besar seperti Cina dan Amerika Serikat.

Aliansi UEA-Israel pun dinilai memiliki kelemahan. Rachel Bronson dari Chicago Council on Global Affairs mencatat bahwa keduanya tetap merupakan negara kecil yang menghadapi kekuatan besar lain seperti Turki, Pakistan, dan Arab Saudi.

"UEA memang memiliki dana kekayaan negara lebih dari US$1 triliun. Tapi kekayaan tidak sama dengan kedalaman strategis,” tulis Bronson.

Schneider bahkan melihat kontradiksi internal di UEA sendiri. Abu Dhabi, katanya, ingin tampil seperti Sparta—militeristik dan agresif. Sementara Dubai lebih ingin menjadi "Swiss di Timur Tengah”, pusat stabilitas, bisnis, dan keuangan regional.

"Masalahnya, sulit menjadi keduanya sekaligus,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.