TRIBUN-PAPUA.COM - Sebanyak 10 pendulang emas tewas dalam serangan yang dilakukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) atau yang biasa disebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada Senin (18/5/2026).
Pimpinan KKB Batalyon Yamue, Ronald Hiluka alias Dejang Hiluka mengklaim mereka bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Ia menyebut serangan tersebut sebagai aksi balas dendam atas tewasnya dua anggota kelompoknya di Yahukimo beberapa waktu lalu.
"Ini adalah aksi balasan atas penembakan terhadap Yoper Payage dan Marthen Heluka. Kalian ambil dua nyawa anak buah saya, saya balas dengan jumlah lebih banyak," kata Ronald, seperti dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: OPM Bunuh Pendulang Emas di Papua Pegunungan: 10 Orang Tewas, Korban Selamat Sembunyi di Hutan
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan, KKB Batalyon Yamue pimpinan Ronlad Hiluka diduga kuat menjadi dalang dalam kasus ini.
Pelaku diperkirakan berjumlah 15 orang.
Mereka terdeteksi membawa satu pucuk senjata api organik jenis AR-15 serta beberapa senjata rakitan.
Aparat gabungan terus berupaya melakukan evakuasai jenazah para korban.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol Faizal Ramadhani menyebut jumlah korban masih bisa bertambah.
Pasalnya, selain 10 korban tewas, masih ada sejumlah penambang yang dilaporkan selamat dan bersembunyi di hutan sekitar lokasi kejadian.
Baca juga: Penembakan 8 Pendulang Emas di Yahukimo: OPM Tuding Korban Aparat yang Menyamar, TNI Beri Bantahan
Namun, proses evakuasi menghadapi kendala kondisi geografis yang berat.
Aparat gabungan bahkan harus membuka jalur baru untuk menjangkau titik lokasi.
Untuk mempermudah mobilitas, pos aju sementara kini dipusatkan di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, yang memiliki akses lebih dekat menuju lokasi.
Selain berupaya mengevakuasi korban, aparat keamanan juga melakukan pengejaran terhadap pelaku.