RSUD Labuan Tolak Rawat Peserta BPJS PPU Terkena Penyakit Tipes: Hasil Lab PKM Diharuskan Dirawat
Abdul Rosid May 23, 2026 02:07 PM

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Seorang peserta BPJS Penerima Pekerja Upah (PPU) mengaku ditolak menjalani rawat inap di RSUD Labuan, Kabupaten Pandeglang, meski hasil pemeriksaan laboratorium dari Puskesmas Saketi menunjukkan pasien mengalami tipes dan disarankan untuk dirawat intensif.

Pasien bernama Suheri disebut sudah mengalami demam tinggi selama empat hari dengan kondisi suhu tubuh yang terus naik turun. 

Istri pasien, Siti Nurlaila, mengatakan awalnya sang suami dibawa berobat ke Puskesmas Saketi pada Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.

Baca juga: BKD Banten Bongkar Kecurangan Rekrutmen RSUD Labuan dan Cilograng: 44 Orang Terima Afirmasi Ilegal

Menurutnya, dokter di Puskesmas Saketi langsung melakukan pemeriksaan laboratorium karena kondisi pasien dinilai mengkhawatirkan.

“Hasil lab dari Puskesmas Saketi menyatakan tipes suami saya tinggi sampai 640 dan dokter menyarankan harus dirawat,” kata Siti kepada TribunBanten.com, Jumat (22/5/2026).

Namun, lanjut dia, Suheri tidak bisa menjalani rawat inap di Puskesmas Saketi lantaran seluruh ruang perawatan sedang penuh.

Karena itu, pihak puskesmas menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit lain, yakni RS Aulia atau RSUD Labuan.

Siti mengaku sempat mencoba menghubungi RS Aulia. Akan tetapi, rumah sakit tersebut juga disebut dalam kondisi penuh.

“Dari RS Aulia katanya penuh juga, akhirnya kami bawa ke RSUD Labuan,” ujarnya.

Sekitar pukul 11.45 WIB, Suheri tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Labuan dengan membawa hasil laboratorium dari Puskesmas Saketi.

Setibanya di IGD, kata Siti, tenaga medis sempat menyampaikan bahwa pasien memang perlu menjalani perawatan.

Pihak rumah sakit kemudian melakukan tindakan medis berupa pemasangan infus, pengambilan sampel darah, hingga pemeriksaan rontgen.

Meski demikian, setelah menunggu berjam-jam di ruang IGD, keluarga justru mendapat informasi bahwa pasien diperbolehkan pulang.

“Tadinya perawat bilang harus dirawat. Tapi setelah nunggu lama, saya tanya lagi kelanjutannya bagaimana, malah dijawab dipulangkan saja,” ucapnya.

Siti mengaku kecewa lantaran pihak rumah sakit hanya menyampaikan hasil laboratorium dan rontgen pasien dalam kondisi baik tanpa memperlihatkan secara rinci hasil pemeriksaan tersebut.

“Hasil lab dan rontgennya katanya bagus, tapi kami tidak dijelaskan detail hasilnya. Setelah itu disuruh menunggu obat untuk pulang,” katanya.

Menurut Siti, hingga kini kondisi suaminya masih lemah dan mengalami demam tinggi di rumah.

Ia berharap ada perhatian serius dari pihak terkait terhadap pelayanan kesehatan, terutama bagi pasien BPJS yang membutuhkan penanganan cepat dan rawat inap.

“Sampai sekarang suami saya masih terkapar di rumah dengan kondisi demam tinggi,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.