Ketua Komisi XI DPR RI Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat di Tengah Melemahnya Rupiah
Muhammad Fatoni May 23, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menjawab dengan lugas soal pelemahan nilai tukar rupiah saat menjadi pembicara dalam acara Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Bantul, Sabtu (23/5/2026).

Dalam paparan itu, Misbakhun menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kondisi ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi perbedaan antara sentimen publik dan fundamental ekonomi yang sebenarnya.

“Kalau saat ini, tantangan kita yang paling mendasar adalah melakukan edukasi seperti ini, meyakinkan masyarakat. Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara fundamental versus sentimen. Realitas melawan media sosial,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.600-Rp17.800 per dolar AS memang menjadi fenomena yang mendapat perhatian besar.

Namun, menurutnya, kondisi saat ini sangat berbeda dibanding krisis moneter 1998.

Misbakhun mengingatkan, pada krisis 1998 rupiah melemah hingga kisaran Rp17.500-Rp17.800 dari posisi awal sekitar Rp2.400 per dolar AS. 

Baca juga: Ketua Komisi XI DPR RI Ungkap Fungsi LPS dalam Menjaga Kepercayaan Publik

Sementara saat ini, pelemahan terjadi dari level Rp16 ribuan sehingga tekanan yang terjadi dinilai tidak sama secara struktural.

Selain itu, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding era krisis 1998. 

Saat itu, banyak sektor ekonomi mengalami bubble, ditambah perusahaan swasta dan perbankan yang memiliki utang valas tanpa lindung nilai (hedging), sehingga memicu gagal bayar ketika rupiah tertekan.

“Sekarang rupiah 17.600, belum ada perbankan atau swasta yang mengumumkan ada kegagalan bayar. Menghadapi tekanan, iya,” katanya.

Pertumbuhan Positif

Ia juga menekankan bahwa ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Menurutnya, Indonesia termasuk sedikit negara anggota G20 yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang di atas 5 persen, kecuali saat pandemi Covid-19.

Tak hanya itu, Misbakhun menyebut sejumlah indikator ekonomi nasional masih berada dalam kondisi baik, mulai dari neraca perdagangan yang surplus selama 71 bulan berturut-turut, inflasi yang rendah, hingga cadangan devisa yang dinilai kuat.

“Artinya apa? Fundamental kita bagus,” tegasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.