Mahasiswa Kalsel Tolak Lupakan Jumat Kelabu, Aswin Tak Henti Doakan Korban
Irfani Rahman May 25, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARMASIN - Apa yang terjadi saat kerusuhan Jumat 23 Mei 1997 hingga menewaskan lebih dari 100 orang dan menghanguskan banyak bangunan di Kota Banjarmasin kembali dibahas sejumlah kalangan, Minggu (24/5).

Aksi Kamisan Banjarbaru, AJI Persiapan Banjarmasin, Walhi Kalimantan Selatan, Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel, XR Banjarmasin dan LK3 Banjarmasin menggelar diskusi Tragedi Jumat Kelabu Menolak Lupa Merawat Perlawanan di Younki’s Pizza Banjarbaru.

Tragedi Jumat Kelabu adalah peristiwa kelam pra-reformasi yang berawal dari gesekan politik masa kampanye pemilihan umum.

Gesekan berujung bentrok dan kerusuhan massal hingga terjadinya pembakaran kota. Banyak nyawa melayang terjebak di dalam pusat perbelanjaan ternama waktu itu, Mitra Plaza.

Hadir empat narasumber yakni Willy Alfarius (Dosen Sejarah Universitas Lambung Mangkurat), Faisal atau Ical Iloenk (fotografer yang mendokumentasi kejadian), Hairansyah (mantan anggota Komnas HAM dan aktivis Yayasan Dalas Hangit) dan Donny Muslim (jurnalis).

Baca juga: Pasca Tiga Orang Tewas Terlindas Grader di Lawahan Banjar, Proyek Jalan Desa Dihentikan

Baca juga: Harga Sawit di Kalsel Anjlok, di Tanahlaut Dihargai Rp 1.550 Per Kilo, Gapki Kalsel Buka Suara

Kepada peserta diskusi, Donny menyampaikan wawancana kepada Aswin Pratama, yang kehilangan putra, Indra, pada hari kejadian. Mantan karyawan Banjarmasin Post tersebut memperkirakan Indra menjadi korban tragedi Jumat kelabu. Aswin pun menyatakan tak henti mendoakan putranya serta para korban yang dikebumikan di kuburan massal Jalan A Yani Kilometer 22 Banjarbaru.

Sedangkan Hairansyah mengemukakan setelah di Banjarmasin, kerusuhan terjadi di berbagai daerah. Menurutnya, kejadian ini menjadi tanggung jawab negara. Termasuk memenuhi hak keluarga korban mengetahui  kejadian sebenarnya. Dia pun mengusulkan kepada Pemerintah Kota Banjarmasin untuk membuat monumen atau prasasti sebagai pengingat agar kejadian ini tidak terulang.

Sehari sebelumnya, puluhan mahasiswa berdiri melingkar di tengah simpang empat Jalan Lambung Mangkurat-Pangeran Samudera Kota Banjarmasin. Di hadapan mereka, sejumlah replika makam massal --salah satunya nisan kayu bertuliskan “Pemakaman Massal Jumat Kelabu 23 Mei 1997--diletakkan tepat di aspal.

Di sisi lain, spanduk putih bertuliskan “Menolak Lupa” dan “Merawat Ingatan Tragedi Kelam Jumat Kelabu” terbentang lebar. Beberapa mahasiswa tampak menundukkan kepala. Mereka duduk sambil mendengarkan pembacaan puisi serta orasi secara bergantian.

Aksi simbolik itu memperingati 29 tahun kerusuhan, yang menewaskan dan menghilangkan ratusan warga serta menghanguskan banyak bangunan itu, digelar gabungan mahasiswa se-Kalimantan Selatan. Mereka menggelarnya di dua lokasi.

Titik pertama berlangsung di depan Gedung Mitra Plaza, bangunan yang hingga kini menjadi simbol paling lekat dari tragedi kelam 23 Mei 1997. Di lokasi ditemukannya banyak mayat tersebut, sejumlah mahasiswa menggelar aksi teatrikal dengan riasan wajah. Sebagian peserta laki-laki bahkan tampil tanpa mengenakan baju sebagai simbol penderitaan dan kekacauan sosial yang terjadi saat itu.

Sementara itu, di titik kedua, puluhan mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalsel berkumpul di kawasan Taman Kamboja sebelum berjalan kaki menuju simpang empat Hotel A Jalan Lambung Mangkurat.

Ketua BEM Uniska MAB sekaligus koordinator lapangan aksi, Muhammad Arifin mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk refleksi sekaligus pengingat agar tragedi serupa tidak kembali terulang di Banua.

“Alhamdulillah kegiatan aksi simbolik kita berjalan lancar. Hari ini kita melakukan orasi dari tiap lembaga kampus masing-masing, kemudian ada pembacaan puisi, tabur bunga, dan ditutup doa bersama,” ujarnya usai aksi.

Menurut Arifin, tragedi Jumat Kelabu bukan hanya catatan sejarah, melainkan luka sosial dan politik yang harus terus diingat generasi muda. Ia menilai masyarakat saat itu menjadi korban akibat fanatisme politik yang berlebihan, sementara elite politik justru tidak merasakan dampak langsung dari konflik yang terjadi.

“Kita masyarakat yang terpecah belah atas dasar fanatisme politik. Elite politik tidak terkena dampak, malah masyarakat yang jadi korban akibat apa yang mereka lakukan,” katanya. (sul/lis)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.