Harga Sawit di Kalsel Anjlok, di Tanahlaut Dihargai Rp 1.550 Per Kilo, Gapki Buka Suara
Irfani Rahman May 25, 2026 07:52 AM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Saat harga karet di Kalimantan Selatan mengalami kenaikan, petani sawit di provinsi ini harus menghadapi kondisi sebaliknya. Harga tandan buah segar (TBS) di Kabupaten Kotabaru turun beberapa hari terakhir.

Sahri, petani di Kecamatan Pulaulaut Timur, mengatakan pekan ini harga TBS di pengepul Rp 2.400 per kilogram. “Turun Rp 300 dari pekan lalu yakni Rp 2.700. Belum tahu lagi ke depannya,” ujar Sahri, Minggu (24/4).

Dia heran mengingat harga pupuk, biaya perawatan, bahan bakar minyak subsidi dan bahan pokok lainnya justru mengalami kenaikan.

Petani sawit di Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar, Subagio, juga mengeluhkan harga sawit. “Kalau di pabrik Rp 2.950 per kilogram, di petani di kisaran Rp 2.400. Tapi kini di petani hanya Rp 1.800 sampai Rp 2.000. Turun terus,” keluhnya.

Ketua Serikat Pekerja PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional V Kebun Danausalak, Banjar, Supriadi, membenarkan harga sawit turun.

“Tadinya sekitar Rp 2.950 per kilogram sekarang Rp 2.300 sampai Rp 2.400 per kilo. Itu adalah harga sawit yang usia tanam lima sampai tujuh tahun,” kata dia. Namun dia menyatakan penurunan harga belum berdampak pada upah karyawan.

Turunnya harga juga dirasakan petani sawit di Kabupaten Tanahlaut. “Pusing harga turun. “Jumat (22/5) turun Rp 800.  Sabtu (23/5) turun lagi Rp 700. Kini tinggal Rp 1.550 per kilogram. Tadinya Rp 3.050,” urai Maryanto, petani di Kecamatan Pelaihari. Petani plasma PT CPKA ini pun berharap harga sawit di tingkat petani kembali normal.

Sementara turunnya harga TBS belum dirasakan Abdul Majid, petani sawit di Desa Miawa Kecamatan Piani Kabupaten Tapin, saat dikonfirmasi, Sabtu.

Saat ini, lahan sawit produktif miliknya sekitar tiga hektare. “Rencananya tahun depan tambah lagi satu hektare,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Baritokuala Lasiman mengatakan harga sawit di petani masih di kisaran Rp 2.300 per kilogram. “Sebelumnya sekitar Rp 3.300 per kilogram, sekarang turun jadi sekitar Rp 2.300,” ujarnya, Sabtu.

Menurut Lasiman, informasi yang beredar di lapangan menyebut penurunan harga diduga dipengaruhi pernyataan Presiden Prabowo Subianto di DPR RI pada Rabu (20/5). Ketika itu dia menyampaikan ekspor komoditas strategis seperti sawit, batu bara dan ferroalloy bakal diambil alih badan usaha milik negara (BUMN) baru yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Ia menilai rencana itu membuat sebagian pelaku usaha besar mulai bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian langkah pemerintah. “Pengusaha besar berpikir. Tapi ini kan belum pasti karena kebijakannya belum diresmikan,” ujarnya.

Lasiman pun menyatakan pemerintah daerah masih menunggu perkembangan mengenai hal tersebut. “Saya sempat konfirmasi ke provinsi, katanya masih menunggu tindak lanjutnya,” ucapnya.

Di sisi lain, Pemkab Batola tetap menjalankan program bantuan bagi petani sawit melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). “Kalau ada sawit yang bibitnya jelek atau tidak bagus, nanti dibantu bibitnya lewat program PSR,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalsel Eddy Sapta mengakui dalam 2-3 hari terakhir terjadi penurunan harga. Namun pihaknya masih akan menyerap aspirasi dan kondisi dari pelaku usaha sebelum mengambil kesimpulan lebih jauh.

“Kebetulan Senin (25/5) kami mau mendiskusikan ini. Saya mau menyerap informasi dari teman-teman dulu,” ujarnya, Minggu.

Eddy juga tidak menampik kemungkinan adanya pengaruh dari wacana eksportir tunggal yang disampaikan Presiden. “Mengenai eksportir tunggal itu memang sepertinya ada juga dampaknya,” ujarnya.

Penurunan harga sawit tentunya menjadi perhatian Gapki Kalsel karena terjadi di tengah tingginya biaya operasional perkebunan, mulai dari harga pupuk, obat-obatan, hingga ongkos tenaga kerja.

Namun kenaikan harga ini tidak dinikmati semua petani. Tono, petani Kambitin Raya, mengaku hasil panennya berkurang. Hal ini karena saat ini daun rontok menjelang kemarau. Ini berpengaruh terhadap getah yang diperoleh dalam penyadapan. Jumlahnya berkurangnya hampir setengah dibanding biasanya.

Menyusutnya hasil panen masih akan terjadi karena setelah daun rontok akan tumbuh daun baru yang juga mengurangi hasil panen. Tono berharap kenaikan harga bertahan hingga produksi karet kembali normal.

Harga TBS di Kalimantan Tengah juga anjlok. Pada Jumat, harga turun dari sekira Rp 3.600 per kilogram menjadi ke kisaran Rp 2.800-Rp 3.000.

“Ini mesti menjadi perhatian pemerintah pusat untuk mengambil langkah yang strategis agar harga sawit kembali seperti semula,” kata Sekretaris Gapki Kalteng Rawing Rambang, Minggu

Sedang pengamat ekonomi dari Universitas Palangka Raya (UPR) Suherman mengatakan, anjloknya harga sawit bakal berdampak bagi perekonomian Kalteng secara umum.  “Karena sektor perkebunan sawit di Kalteng memiliki multiplier effect yang cukup besar, mulai dari transportasi, tenaga kerja, UMKM, hingga distribusi barang,” tandasnya. (tab/lis/tar/sul/tribunkalteng)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.