Momen Terakhir Sebelum Eks Wali Kota Pangkalpinang Rosman Djohan Berpulang
Fitriadi May 25, 2026 09:20 AM

 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Tokoh masyarakat Bangka Belitung H Rosman Djohan meninggal dunia pada Sabtu (23/5/2026) pukul 22.15 WIB.

Ayah dari eks Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman itu mengembuskan napas terakhir dalam perawatan di RS Pondok Indah Bintaro, Tangerang Selatan.

Rosman Djohan yang pernah menjabat Wali Kota Pangkalpinang hingga DPD RI tutup usia pada usia 89 tahun.

Jenazah Rosman Djohan diterbangkan ke Pangkalpinang untuk disemayamkan di Rosman Djohan Institute (RDI), Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Minggu (24/5/2026).

Setelah waktu ashar, jenazah almarhum disalatkan di Masjid Suprapto Suparno, kemudian dimakamkan di TPU Kampung Dul, Pangkalan Baru.

Kondisi Kesehatan Memburuk

Kepergian Rosman Djohan menjadi kehilangan mendalam bagi keluarga besar.

Herry Erfian menceritakan, kondisi kesehatan ayahnya mulai menurun akibat faktor usia. 

Meski demikian, hingga beberapa waktu lalu almarhum masih terlihat aktif dan rutin memeriksakan kesehatannya.

“Di usia 89 tahun sebenarnya beliau masih cukup sehat. Tetapi memang ada penurunan fungsi organ karena faktor usia,” ujarnya.

Kondisi kesehatan Rosman mulai memburuk setelah mengalami gangguan pada jantung yang kemudian berdampak ke paru-paru hingga ginjal.

Selama sekitar 10 hari terakhir, almarhum menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro, Tangerang Selatan.

Herry mengaku keluarga sempat terkejut karena sebelumnya ayahnya hanya mengeluhkan rasa lelah dan tubuh kurang fit.

“Sekitar dua minggu lalu beliau sempat bilang merasa capek dan seperti masuk angin. Bahkan beliau berpesan kalau dibawa ke rumah sakit jangan terlalu lama,” kenangnya.

Dalam masa perawatan, Rosman sempat menggunakan alat bantu pernapasan dan mendapatkan terapi intensif. Namun kondisi tubuhnya terus melemah.

Keluarga akhirnya memilih memberikan perawatan terbaik sambil menyerahkan seluruh keputusan kepada kehendak Tuhan.

“Kami sudah berikhtiar semaksimal mungkin. Pada akhirnya kami ikhlas dan hanya menunggu waktu yang dikehendaki Allah SWT,” kata Herry.

Tokoh politik, pejabat daerah, sahabat lama, hingga masyarakat umum datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir.

Bagi masyarakat Bangka Belitung, Rosman Djohan bukan hanya dikenal sebagai mantan kepala daerah, tetapi juga tokoh senior yang aktif membangun kehidupan sosial dan pemerintahan di daerah.

Di mata keluarga, warisan terbesar yang ditinggalkannya bukan jabatan maupun kekuasaan, melainkan nilai kehidupan yang terus ditanamkan kepada anak-anaknya.

“Atas nama keluarga, kami memohon maaf apabila selama hidup almarhum pernah memiliki perkataan atau sikap yang kurang berkenan. Kami juga memohon doa agar beliau diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya,” tutur Herry Erfian.

Doa dan Ucapan Belasungkawa

Kabar wafatnya cepat menyebar melalui media sosial dan pesan berantai keluarga.

Sejak pagi, rumah duka dipenuhi karangan bunga ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. 

Lantunan Surat Yasin mengalun pelan di rumah duka Rosman Djohan Institute (RDI), Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Minggu (24/5).

Hujan yang baru reda menambah suasana haru di kediaman mantan Wali Kota Pangkalpinang itu.

Satu per satu pelayat datang menyampaikan doa dan belasungkawa atas wafatnya H Rosman Djohan di usia 89 tahun.

Di ruang utama rumah duka, keluarga besar tampak duduk mengelilingi jenazah. Anak-anak, menantu, hingga cucu almarhum larut dalam suasana kehilangan. 

Sejumlah tokoh masyarakat, kepala daerah, anggota dewan, kolega, dan kerabat juga terus berdatangan sejak pagi.

Wali Kota Pangkalpinang Saparudin, Bupati Bangka Fery Insani, hingga Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman terlihat hadir memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang pernah memimpin Pangkalpinang pada periode 1988–1993 itu. 

Namun di balik suasana duka tersebut, tersimpan kisah mendalam tentang sosok Rosman Djohan di mata keluarganya.

Bagi anak-anaknya, almarhum bukan hanya seorang ayah, melainkan guru, sahabat, sekaligus mentor kehidupan.

Herry Erfian, kakak kandung mantan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman, mengenang ayahnya sebagai sosok yang mengajarkan banyak hal sejak mereka kecil.

“Bagi kami, ayahanda bukan hanya sekadar orangtua. Ayah adalah teman kami, guru kami, dan mentor kami,” ujar Herry dengan suara lirih, Minggu (24/5/2026).

Menurut dia, hampir seluruh pelajaran hidup diperoleh langsung dari sang ayah, mulai dari pendidikan, nilai agama, hingga kehidupan sosial dan politik. 

“Semua pengalaman hidup kami diajarkan ayah. Dari sekolah, mengaji, sampai bagaimana menjalani kehidupan bermasyarakat dan berpolitik, beliau selalu membimbing kami,” katanya.

Rosman Djohan dikenal sebagai figur yang dekat dengan keluarga. Meski pernah menjabat sebagai Wali Kota Pangkalpinang dan anggota DPD RI periode 2004–2009, ia tetap aktif mendampingi anakanaknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi bagi kami, ayah adalah orangtua yang luar biasa. Yang patut kami syukuri sebagai anak, mempunyai ayah kami Rosman Djohan,” lanjutnya.

Sosok Rodman Djohan dari Balai Kota Hingga Senayan

H Rosman Djohan bin Djohan Yacoub dikenal sebagai salah satu tokoh senior Bangka Belitung yang memiliki rekam jejak panjang di dunia birokrasi dan politik.

Selain pernah menjabat Wali Kota Pangkalpinang periode 1988–1993, ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI selama dua periode, yakni 2004–2014.

Rosman Djohan lahir pada 10 Desember 1937.

Perjalanan kariernya dimulai dari lingkungan pemerintahan daerah di Pangkalpinang.

Ia dikenal sebagai sosok yang meniti karier secara bertahap dari level birokrasi bawah hingga akhirnya dipercaya memimpin ibu kota Provinsi Bangka Belitung tersebut.

Karier pemerintahan Rosman dimulai saat menjabat Kepala Bagian Umum Sekretariat Pemda Pangkalpinang pada 1973–1976.

Setelah itu, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis lain, mulai dari Kepala Subdirektorat Ketertiban Umum, Kepala Bagian Perekonomian, Kepala Bagian Pembangunan, hingga Kepala Bagian Keuangan Sekretariat Pemda Pangkalpinang.

Pengalaman panjang di bidang pemerintahan dan administrasi itu menjadi modal penting saat dirinya dipercaya menjadi Wali Kota Pangkalpinang pada 1988.

Pada masa kepemimpinannya, Pangkalpinang masih berada dalam tahap pengembangan infrastruktur dan penataan kota.

Pengalaman Rosman di bidang ekonomi, pembangunan, dan keuangan dinilai memberi kontribusi penting dalam proses pembangunan daerah saat itu.

Selain aktif di birokrasi, Rosman juga terlibat dalam dunia politik. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Penasehat DPD II Partai Golkar Kota Pangkalpinang pada periode 1988–1993.

Karier politiknya kemudian berlanjut ke tingkat nasional setelah terpilih menjadi anggota DPD RI mewakili Bangka Belitung pada 2004.

Selama dua periode di Senayan, Rosman dikenal aktif membawa aspirasi masyarakat daerah ke tingkat pusat.

Di luar aktivitas pemerintahan dan politik, Rosman juga dikenal aktif dalam organisasi sejak muda.

Ia pernah menjadi anggota Pandu Pemuda Pecinta Laut Pangkalpinang pada awal 1950-an dan terlibat dalam Serikat Pekerja Kementerian Dalam Negeri.

Dalam bidang pendidikan, Rosman sempat menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya sebelum melanjutkan studi manajemen di Jakarta.

Nama Rosman Djohan juga diabadikan menjadi lembaga pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, yakni Rosman Djohan Institute di Bangka Tengah.

Lembaga tersebut dikenal aktif menjalankan berbagai program pelatihan dan pengembangan generasi muda di Bangka Belitung.

Bagi masyarakat Bangka Belitung, Rosman Djohan bukan hanya dikenal sebagai ayah dari mantan gubernur, melainkan figur birokrat senior yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pemerintahan dan pembangunan daerah. (riu/zky)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.