SITI HAJAR, S.Pd.I., M.A., Guru SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Niron, Aceh Besar
Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Aceh yang berada di Gampong Niron, Kecamatan Sukamarmur, Aceh Besar, menggelar Bimbingan Teknis Pembelajaran Mendalam (Bimtek PM) dan Penilaian Pembelajaran di Aula Sultan Iskandar Muda, BPMP Aceh, pada 4–6 Mei 2026.
Kegiatan itu diikuti sekitar 80 guru dan pengawas sekolah dari 23 kabupaten/kota se-Aceh. Bimtek ini menghadirkan Direktur Akademik Yayasan Sukma, Satia Zen, PhD, sebagai narasumber utama. Kehadirannya merupakan bagian dari upaya BPMP Aceh dalam memperkuat kapasitas guru melalui pendekatan pembelajaran mendalam yang menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada tahun 2026.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis guru dalam mengelola pembelajaran, khususnya pada aspek pengembangan praktik pembelajaran mendalam dan penilaian pembelajaran.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Aceh. Selanjutnya, Drs Teuku Husni MPd selaku Ketua Tim Kerja SMP memberikan sambutan sekaligus pengantar kegiatan. Setelah itu, Nida Kurniati sebagai penanggung jawab program menyampaikan gambaran umum mengenai konsep pembelajaran mendalam.
Kepala BPMP Provinsi Aceh, Muhammad Safran ST, MM, kemudian secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyoroti kondisi pendidikan Aceh yang masih menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, pendidikan di Aceh membutuhkan perubahan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan berpusat pada peserta didik. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga memerlukan dukungan pengawas sekolah serta pemerintah daerah.
Praktik baik ala Sukma
Suasana aula pagi itu tidak dimulai dengan tumpukan teori atau presentasi panjang yang melelahkan. Para peserta justru diajak mengikuti sesi perkenalan yang diiringi musik, yel-yel, tepuk tangan berirama, dan gerak tubuh sederhana yang mencairkan suasana.
Di sudut ruangan, sebuah “Pohon Harapan” mulai dipenuhi kertas warna-warni berisi harapan peserta terhadap pelatihan yang akan mereka ikuti selama tiga hari.
Pada sesi awal, peserta diperkenalkan pada praktik pembelajaran mendalam yang diterapkan di lingkungan Sekolah Sukma Bangsa. Ibu Satia Zen menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam
tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada keterlibatan aktif murid dalam proses belajar. Setelah itu, para guru fasilitator dipersilakan mempresentasikan praktik baik pembelajaran di kelas masing-masing.
Berbagi praktik baik diawali oleh saya, Siti Hajar, guru bahasa Inggris dari Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Saya mempresentasikan projek pembelajaran bertajuk Class Project: Food Waste and Climate Change, yang mengintegrasikan isu sisa makanan dengan pembelajaran lingkungan hidup dan persoalan global, seperti perubahan iklim.
Pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan ‘class project’ berbasis miniriset, kunjungan belajar ke pasar tradisional dan Laut Jomblang, serta menghadirkan ‘guest teacher’ untuk memperkaya wawasan murid tentang persoalan lingkungan secara lebih kontekstual, kritis, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Guru bahasa Indonesia dari Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Basyirah SPd, Gr., juga
memaparkan praktik integrasi kurikulum pada materi teks prosedur. Melalui pembelajaran berbasis projek bertajuk Eco Bag Challenge, ia mengajak siswa memahami penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran tersebut,
siswa tidak hanya belajar menyusun teks prosedur secara teoretis, tetapi juga mempraktikkan langsung cara membuat tas dari kain atau pakaian bekas yang tidak terpakai.
Praktik ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam mampu menghubungkan kemampuan literasi dengan pembentukan karakter dan kesadaran ekologis siswa.
Pelatihan jadi hidup
Pada mata pelajaran matematika, Nurmasyithah S.Math., Gr. mempresentasikan praktik baik mengenai konsep penjumlahan berulang melalui permainan Tangible Unplugged Coding.
Dengan pendekatan kreatif dan interaktif, ia mendemonstrasikan bagaimana konsep matematika
dapat dipelajari melalui alat permainan sederhana yang mampu membangun pemahaman logis dan menyenangkan bagi murid. Suasana pelatihan pun menjadi semakin hidup. Para peserta
tampak antusias dan penasaran melihat praktik pembelajaran tersebut. Beberapa guru bahkan mencoba langsung serta menyimulasikan proses belajar menggunakan perangkat permainan tersebut.
Praktik baik pada mata pelajaran IPA dipresentasikan oleh Nurul Aulia SPd dengan topik Sistem Peredaran Darah: Mengukur Nadi dan Tekanan Darah.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana metode eksperimen dan ‘guest teacher’ diterapkan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan nyata siswa.
Melalui kegiatan tersebut, murid tidak hanya mempelajari teori tentang sistem peredaran darah, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengukuran denyut nadi dan tekanan darah.
Menurutnya, pendekatan tersebut efektif membantu guru mengukur kemampuan sekaligus capaian belajar siswa secara lebih menyeluruh.
Para peserta pelatihan pun tampak menyimak dengan serius bagaimana proses penilaian formatif dan sumatif dilakukan dalam pembelajaran tersebut.
Suasana pelatihan tidak pernah terasa kaku. Di sela-sela sesi, para fasilitator menghadirkan
berbagai permainan dan ‘icebreaking’, seperti Seven Claps, Pemburu–Pohon–Burung, hingga permainan ritmis “Make Tome Tome Ta Ta”. Sekilas permainan itu tampak sederhana, tetapi di
baliknya terdapat pesan penting bahwa belajar yang menyenangkan membuat peserta lebih terbuka, aktif, dan saling terhubung.
Gagasan ini sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam yang saat ini dikembangkan dalam pendidikan Indonesia, yaitu pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Pembelajaran semacam ini mendorong murid untuk sadar terhadap proses belajarnya, memahami makna dari apa yang dipelajari, serta menikmati pengalaman belajar itu sendiri.
Selama ini, banyak ruang belajar terasa terlalu sunyi. Murid takut salah, takut bertanya, bahkan takut menyampaikan pendapat. Akibatnya, kelas berubah menjadi ruang yang hanya menuntut kepatuhan, bukan ruang yang merawat rasa ingin tahu. Padahal, pembelajaran yang mendalam justru lahir dari keterlibatan aktif murid dalam proses belajar.
Selain berbagi praktik baik, peserta juga mengikuti sesi asesmen formatif dan sumatif berbasis kompetensi bersama Dra Sansrisna MSi, MA, Gr. dan Chandra Nurmansyah, SSi, Gr. Pada sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa penilaian bukan sekadar angka di rapor. Asesmen seharusnya menjadi alat untuk membaca proses belajar murid, memahami kesulitan mereka, lalu membantu mereka berkembang menjadi lebih baik.
Setelah mendengarkan paparan materi, para peserta kemudian diajak merancang pembelajaran secara kolaboratif berdasarkan mata pelajaran masing-masing. Mereka mendiskusikan tujuan pembelajaran, strategi belajar, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, hingga penyusunan asesmen formatif dan sumatif. Hasil rancangan
tersebut kemudian dipresentasikan di depan forum sebagai bentuk refleksi sekaligus berbagi ide antarpeserta.
Pada sesi ini, para narasumber juga memberikan umpan balik dan masukan terhadap rancangan pembelajaran yang telah disusun peserta agar dapat diterapkan secara lebih efektif di kelas.
Pelatihan ini memperlihatkan satu hal penting yang sering terlupakan, yaitu guru pu membutuhkan ruang belajar. Selama kegiatan berlangsung, para guru duduk bersama, berdiskusi, bertukar pengalaman, bahkan saling menguatkan.
Ada energi positif yang terasa ketika guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembelajar. Sebab, pendidikan yang baik tidak mungkin lahir dari guru yang berhenti belajar.