Ratusan Warga Fakfak Gelar Nobar Film Dokumenter "Pesta Babi" di Pelataran Gereja
Petrus Bolly Lamak May 25, 2026 10:38 AM

TRIBUNSORONG.COM - Ratusan warga Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menggelar Nonton Bareng (Nobar) akbar film dokumenter "Pesta Babi" pada Minggu malam (24/5/2026).  

Pantauan Tribunpapuabarat.com, kegiatan tersebut dipusatkan di pelataran Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Pekerja Brongkendik, Fakfak Tengah. Nobar berlangsung aman, kondusif, dan lancar.  

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan rasa syukur dapat menyaksikan film tersebut. 

“Kalau sa (saya) menilai, situasi di film dokumenter itu memang nyata adanya dan kitong lihat serta rasakan di Tanah Papua,” ujarnya.  

Baca juga: Sempat Mau Dinamai Salib Merah, Ini Alasan Sutradara Pilih Judul Pesta Babi yang Tuai Polemik

Ia menyampaikan keprihatinan atas praktik perampasan tanah adat oleh negara. 

Menurutnya, film itu menyoroti penggunaan aparat keamanan non-organik di Papua yang sejatinya bukan untuk melindungi masyarakat dari kelompok bersenjata, melainkan menjaga kepentingan oligarki.  

“Tidak usah jauh-jauh, di Fakfak saja yang paling aman di Tanah Papua, ratusan militer non-organik dikirim,” jelasnya.  

Baca juga: Pesta Babi di Teminabuan: Nobar Film Dokumenter Berujung Diskusi Kawal Isu Masyarakat Adat

Warga tersebut menilai film "Pesta Babi" membuka mata banyak orang, termasuk yang tidak tinggal di Papua, bahwa kehadiran militer memiliki agenda lain di balik narasi pengamanan masyarakat. 

“Film ini harus ditonton semua orang di Fakfak agar membuka mata dan menjernihkan pikiran melihat secara utuh konteks masalah di Papua,” pungkasnya.  

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono bersama antropolog Cypri Dale. 

Film ini menyoroti perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, seperti Suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan ruang hidup serta tanah leluhur dari ancaman eksploitasi lahan skala besar.  

Judul "Pesta Babi" sendiri menjadi metafora atas kondisi di mana korporasi, elite, dan pemodal berpesta pora di atas penderitaan serta perampasan ruang hidup masyarakat adat setempat.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.