Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memukul industri plastik. Kondisi tersebut membuat lebih dari separuh mesin produksi di sejumlah pabrik berhenti beroperasi.
Meski begitu, pelaku industri masih berupaya mencari berbagai cara agar tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan.
President Director Sinar Jaya Plastisindo, Whelly Sujono, mengatakan tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku impor membuat utilitas mesin di pabrik terus menurun.
Baca juga: Industri Plastik di Solo Terdampak Rupiah Melemah, Pengusaha Sebut Separuh Mesin Lumpuh
“Hari ini utilitas sekitar 50-60 mesin yang berproduksi. Tetapi apakah ada opsi menurut saya selalu ada opsi ketika titik itu harus ditempuh pengusaha. Tapi kadang pengusaha bisa menyiasati order yang berkurang dengan pengaturan ulang jam kerja,” tuturnya.
Menurut Whelly, perusahaan saat ini lebih memilih melakukan efisiensi internal dibanding langsung mengambil langkah PHK terhadap pekerja.
Beberapa cara yang ditempuh di antaranya dengan menghapus jam lembur, menerapkan sistem giliran kerja, hingga memindahkan karyawan ke posisi lain yang masih dibutuhkan perusahaan.
“Lembur ditiadakan, giliran masuk kerja, atau karyawan dialihkan ke pos pekerjaan lain yang sekiranya di perusahaan tersebut ada,” jelasnya.
Ia menjelaskan, industri plastik menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena sangat bergantung pada bahan baku impor.
Di sisi lain, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan sehingga harga produk sulit dinaikkan mengikuti lonjakan biaya produksi.
Baca juga: Demo soal Rupiah Melemah & Putri Cempo, Mahasiswa UNS Minta DPRD Solo Buka Audiensi dan Cari Solusi
“Dengan kenaikan bahan baku, bahan penolong, biaya logistik dan operasional yang terjadi di industri masing-masing industri punya strategi tersendiri. Secara garis besar ujung-ujungnya efisiensi di sistem produksi, sistem biaya, yang paling pahit tentunya tenaga kerja. Kalau harga raw material tinggi daya beli masyarakat tidak bisa mengadopsi kenaikan bahan baku itu, akhirnya perusahaan dituntut melakukan langkah supaya survive,” jelasnya.
Berbagai strategi pun mulai diterapkan agar produk tetap bisa dijual dengan harga terjangkau. Salah satunya mencari alternatif bahan baku yang lebih murah hingga menggunakan bahan baku daur ulang.
“Langkah yang diambil kalau bicara efisiensi bisa dilakukan dengan mencari sumber alternatif bahan baku. Kalau pun mengurangi kualitas produk harapannya tidak mengganggu fungsi produk itu. Bisa juga menggunakan bahan baku daur ulang. Menurut saya bisa menjadi momentum bagi industri daur ulang. Bisa juga downsizing dari 50 mikron menjadi 30 mikron,” tuturnya.