TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Pemerintah Kabupaten Kediri mulai mengantisipasi dampak musim kemarau panjang terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman tebu yang menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Melalui program bongkar ratoon dan pembangunan sumur submersible, Pemkab Kediri berupaya menjaga produktivitas pertanian tebu demi mendukung program swasembada gula nasional pada 2026.
Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kediri Sukadi mengatakan program bongkar ratoon merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan produksi gula.
"Ini program strategis nasional dalam rangka swasembada gula," jelas Sukadi, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Peserta Membludak, Seleksi Timnas Indonesia Football 7 di Kediri Jadi yang Terbanyak
Ia menjelaskan, Kabupaten Kediri pada tahun 2026 mendapatkan target program bongkar ratoon seluas 7.000 hektare.
Namun hingga saat ini, pemerintah baru menerbitkan surat keputusan definitif untuk lahan seluas 2.149 hektare yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis.
"SK definitif itu by name by address, luas lahannya, jenis benihnya sudah tercantum semua dan harus dipenuhi oleh Kementerian Pertanian," jelasnya.
Menurut Sukadi, pelaksanaan program bongkar ratoon akan dipercepat mulai Juni hingga Oktober 2026 seiring dimulainya musim giling di sejumlah pabrik gula di Kediri.
Ia optimistis target luas lahan bongkar ratoon di Kabupaten Kediri dapat tercapai bahkan melebihi target yang ditentukan pemerintah pusat.
"Kalau 7.000 hektare insyaallah bisa lebih," katanya.
Meski demikian, Sukadi mengakui ancaman musim kemarau panjang menjadi tantangan serius bagi petani tebu tahun ini.
Berdasarkan prediksi BMKG, wilayah Kediri berpotensi mengalami kemarau ekstrem sehingga pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga pasokan air pertanian.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni pembangunan ratusan titik sumur submersible untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
"Tahun 2025 ada sekitar 266 titik. Tahun ini ada 286 titik sumur yang dibangun," ungkap Sukadi.
Ia menjelaskan pembangunan sumur dilakukan melalui kolaborasi pendanaan dari APBN, APBD Kabupaten Kediri, serta dukungan CSR pabrik gula.
Dari total pembangunan tersebut, sekitar 75 titik bersumber dari anggaran pemerintah pusat, hampir 200 titik dari APBD Kabupaten Kediri, sedangkan sisanya berasal dari bantuan perusahaan gula untuk kelompok tani tebu mitra mereka.
Selain menjaga pasokan air, pemerintah juga berupaya memastikan hasil panen tebu petani dapat terserap maksimal oleh pabrik gula di Kediri.
Sukadi berkaca pada kondisi tahun sebelumnya ketika sejumlah lahan tebu belum seluruhnya tergiling karena beberapa pabrik gula telah tutup operasional lebih dulu.
Akibatnya, banyak petani harus menjual tebu ke luar daerah seperti Tulungagung dan Malang dengan harga lebih rendah.
"Untuk itu kami sudah berkomunikasi dengan pabrik gula di Kediri agar sebelum tutup giling, dipastikan tebu petani di lapangan sudah terserap," katanya.
Tak hanya persoalan air dan serapan hasil panen, Dinas Pertanian Kabupaten Kediri juga mulai mengantisipasi serangan hama uret yang kerap menyerang lahan tebu.
Pemerintah daerah tahun ini mengalokasikan bantuan jaring khusus untuk mengurangi penyebaran hama di wilayah dengan tingkat serangan tinggi.
Baca juga: Ribut Sesama Mancing Mania, Warga Kedungcangkring Tulungagung Serang Pakai Arit Sesama Pemancing
"Kami fokuskan bantuan di daerah yang serangannya besar," jelas Sukadi.
Sementara itu, Kecamatan Ngadiluwih menjadi salah satu kawasan sentra tebu terbesar di Kabupaten Kediri sekaligus masuk dalam program ketahanan pangan nasional untuk mendukung swasembada gula.
Pada tahun 2026, pemerintah mengalokasikan program bongkar ratoon seluas 650 hektare di wilayah tersebut.
Petani mendapatkan bantuan benih senilai Rp 10 juta per hektare serta bantuan ongkos kerja harian sebesar Rp 4 juta per hektare.
"Total bantuan yang digelontorkan mencapai sekitar rp 9,1 miliar," ungkap Sukadi.
Selain sektor tebu, petani jagung di Kecamatan Ngadiluwih juga menerima bantuan lebih dari tiga ton benih jagung dengan nilai sekitar Rp 280 juta yang disalurkan pada Mei hingga Juni 2026.
Untuk memperkuat ketahanan pertanian menghadapi musim kemarau, Pemkab Kediri juga akan merealisasikan pembangunan lima sumur submersible tambahan pada tahun ini.
"Akan kami realisasikan tahun ini sekitar lima sumur submersible," pungkasnya.
Salah satu petani tebu asal Desa Ngletih Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri Angga Prasetyo mengaku kondisi tanaman tebu tahun ini memang cukup memprihatinkan akibat cuaca yang tidak menentu dan minimnya pasokan air.
Menurutnya, sebagian besar batang tebu tumbuh lebih kecil dibanding musim panen sebelumnya sehingga hasil panen diperkirakan tidak maksimal.
Baca juga: Atlet Kabaddi Kabupaten Kediri Jalani Latihan dan Tes Parameter Usai Raih 2 Perak di Kejurprov Jatim
"Tahun ini tantangannya cukup berat. Tebu banyak yang kecil-kecil dan hasil panennya kemungkinan berkurang," jelas Angga.
Dia menjelaskan, varietas tebu yang ditanam di lahannya merupakan jenis cenning yang cukup banyak dibudidayakan petani di wilayahnya.
Meski dikenal memiliki masa panen relatif cepat, varietas tersebut tetap membutuhkan pasokan air yang cukup agar pertumbuhannya optimal.
"Kalau musim kemaraunya panjang tentu sangat berpengaruh ke hasil panen," ungkapnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)