TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, menggelar workshop nasional bagi para pengasuh pondok pesantren sebagai upaya mempercepat transformasi dan inovasi di lingkungan pesantren.
Program yang telah dimulai sejak 2025 itu ditargetkan menjangkau 5.000 pengasuh pesantren dari 34 provinsi hingga akhir 2026.
Imam Jazuli mengatakan workshop kali ini dirancang lebih sistematis dan aplikatif karena tingginya antusiasme peserta pada pelaksanaan sebelumnya.
“Banyak peserta workshop terdahulu yang datang ke saya dan menyampaikan bahwa manfaat kegiatan tersebut sangat signifikan bagi perubahan pesantren. Karena itu, kali ini workshop dirancang lebih sistematis, detail, dan membumi. Bahkan akan dilanjutkan dengan pendampingan agar dampaknya lebih powerful,” katanya, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan pesantren, tetapi juga memperkuat daya tarik pesantren agar jumlah santri terus bertambah.
“Ketika pesantren semakin mampu menghasilkan santri-santri yang berhasil di dunia dan di akhirat, kepercayaan masyarakat akan semakin kuat,” tambahnya.
Panitia menargetkan workshop digelar setiap pekan hingga Desember 2026 untuk menyasar pengasuh pesantren di seluruh Indonesia.
Khusus di Pulau Jawa, kuota peserta diperkirakan mencapai 400 orang per provinsi atau total sekitar 2.000 peserta. Sementara luar Jawa diproyeksikan mencapai 3.000 peserta dengan estimasi 100 hingga 150 peserta tiap provinsi.
Program 2026 diawali dari wilayah Cirebon III yang meliputi Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu.
Sebanyak 108 pengasuh pesantren terpilih mengikuti workshop yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon pada Sabtu (23/5/2026) lalu. Imam Jazuli sebagai narasumber tunggal dalam enam sesi materi.
Dalam sambutannya, Kiai Imjaz, sapaan akrab Imam Jazuli, menegaskan pentingnya pesantren beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Pesantren harus belajar dari runtuhnya korporasi besar dunia yang gagal merespons perubahan dengan cepat. Kematian organisasi bukan karena perubahan, tetapi karena kegagalan strategi dalam menghadapi perubahan,” ujarnya.
Sejumlah peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru yang lebih konkret dibanding pelatihan sebelumnya.
“Perubahan pesantren sudah dibahas di banyak tempat, tapi yang saya dapat barulah sebatas motivasi. Di workshop ini, saya mendapatkan motivasi, strategi, Metode, Sistem dan panduan teknis dengan langkah-langkah yang jelas dan terukur untuk melakukan perubahan. Sudah begitu, saya juga dapat rejeki doorprize untuk menginap di hotel,” ungkap Habib Khaerussani, Pengasuh Pesantren Akmala Sabila Cirebon.
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Miftahul Mubarak Kuningan, Asep Abdul Aziz, menilai workshop tersebut membuka wawasan tentang strategi pengembangan pesantren modern.
“Ini ilmu yang tidak bisa didapatkan dimanapun,” katanya.
Hal serupa disampaikan Ence Burhanuddin selaku Pengasuh Pesantren Al-Amin Kuningan.
Menurutnya, materi yang disampaikan KH Imam Jazuli langsung menyentuh persoalan inti pesantren dan disampaikan dengan metode yang menarik.
Baca juga: KH Imam Jazuli Puji Keputusan Mundur Gus Miftah, Sebut Berani dan Patut Diapresiasi
Workshop tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh, di antaranya Kepala Kemenag Indramayu Aghuts Muhaimin, Ketua PCNU Kota Cirebon Mustopa Rajid, Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Saerozi, Ketua PCNU Indramayu KH Muhammad Mustofa, Kepala Kemenag Kota CirebonRiana Anom Sari, serta Kepala Kemenag Majalengka Euis Damayanti.