SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kenaikan harga kedelai di Jawa Timur dipastikan terkendali di tengah penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Disperindag Jatim terus melakukan pengawasan distribusi dan pemantauan harga untuk menjaga stabilitas pasokan di pasaran.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jawa Timur, Erivina Lucky Kristian, memastikan pihaknya terus melakukan pemantauan harga dan pengawasan distribusi kedelai guna mengantisipasi gejolak di pasar.
“Disperindag Jatim melakukan monitoring harga secara rutin melalui sistem Siskaperbapo, serta melakukan pengawasan rutin pada stok ketersediaan kedelai agar tidak ada penimbunan oleh distributor,” tegas Lucky, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, langkah pengawasan tersebut penting dilakukan karena Jawa Timur merupakan salah satu sentra industri tahu dan tempe terbesar di Indonesia dengan kebutuhan kedelai yang sangat tinggi.
Lucky menyebut kenaikan harga kedelai impor diperkirakan masih akan terjadi sepanjang 2026 seiring tingginya permintaan industri pangan di Jawa Timur.
Baca juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu dan Tempe di Sidoarjo Mulai Kelimpungan
Di pasar global, harga kedelai dunia per 21 Mei 2026 tercatat sebesar 11,94 dolar AS per bushel.
Angka tersebut naik sekitar 18,3 persen dibanding awal tahun 2026.
Namun demikian, kenaikan harga di tingkat konsumen Jawa Timur masih tergolong tipis.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) yang dibangun Disperindag Jatim, harga kedelai impor per 22 Mei 2026 tercatat Rp 12.605 per kilogram.
Harga tersebut hanya naik 0,53 persen dibanding posisi 24 Januari 2026 yang sebesar Rp 12.538 per kilogram.
Sementara itu, harga kedelai lokal juga relatif stabil.
Pada 24 Januari 2026 harga kedelai lokal tercatat Rp12.937 per kilogram dan pada 22 Mei 2026 menjadi Rp 12.944 per kilogram atau hanya naik sekitar 0,05 persen.
Baca juga: Titiek Soeharto Kagum, Panen Kedelai Nganjuk Tembus di Atas Rata-rata Nasional
Di sisi lain, volume impor kedelai ke Jawa Timur pada awal tahun 2026 justru mengalami kenaikan signifikan.
Disperindag Jatim mencatat impor kedelai periode Januari-Februari 2026 meningkat 23,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Impor kedelai pada bulan Januari-Februari 2026 mengalami kenaikan secara volume sebesar 23,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Lucky.
Berdasarkan data Disperindag Jatim, volume impor kedelai Januari-Februari 2026 mencapai 188.014.939 kilogram dengan nilai 89.575.663. dolar AS.
Jumlah tersebut meningkat dibanding periode Januari-Februari 2025 yang tercatat sebesar 151.875.612 kilogram.
Baca juga: Kodaeral V Surabaya Panen Raya Kedelai di Kabupaten Nganjuk, Dukung Produksi Kedelai Nasional
Hingga saat ini, Amerika Serikat masih menjadi negara pemasok utama kedelai ke Jawa Timur.
Volume impor dari negara tersebut mencapai 186.050.019 kilogram dengan nilai 88.641.634 dolar AS
Selain Amerika Serikat, Kanada juga menjadi pemasok kedelai Jatim.
Disperindag mencatat, impor kedelai dari Kanada tercatat sebanyak 1.964.920 kilogram dengan nilai 934.029 dolar AS.
Lucky menjelaskan ketergantungan impor dari Amerika Serikat dan Kanada membuat harga kedelai domestik sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar dan biaya logistik distribusi turut memberi tekanan terhadap harga kedelai di dalam negeri.
“Negara utama asal impor kedelai adalah Amerika Serikat dan Kanada, sehingga kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah sangat mempengaruhi kenaikan harga kedelai. Ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar dan logistik,” jelasnya.