Waspadai Testis Tidak Turun pada Anak, Bisa Berdampak pada Kesuburan di Masa Depan
bisnistribunjabar May 26, 2026 02:11 AM

TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG - Kondisi testis tidak turun atau undescended testis (kriptorkismus) masih menjadi masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan pada bayi laki-laki.

Meski kerap dianggap sepele karena tidak menimbulkan nyeri, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius sejak dini karena dapat memengaruhi kesehatan reproduksi anak di masa depan.

SANTOSA HOSPITAL - Dokter Spesialis  dr. Siti Asiyah, Sp.BA menjelaskan
SANTOSA HOSPITAL - Dokter Spesialis Bedah Anak dari Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Siti Asiyah, Sp.BA menjelaskan, testis tidak turun merupakan kondisi ketika satu atau kedua testis bayi laki-laki belum berada di dalam kantung zakar (skrotum) setelah lahir.

Dokter Spesialis Bedah Anak dari Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Siti Asiyah, Sp.BA menjelaskan, testis tidak turun merupakan kondisi ketika satu atau kedua testis bayi laki-laki belum berada di dalam kantung zakar (skrotum) setelah lahir.

“Normalnya, selama masa kehamilan testis terbentuk di dalam rongga perut dan akan turun ke skrotum menjelang kelahiran. Pada kondisi ini, proses penurunan tersebut tidak berlangsung sempurna sehingga testis masih berada di perut atau selangkangan,” ujarnya, Senin (25/5/2026). 

Menurutnya, kasus ini cukup sering ditemukan baik secara global maupun di Indonesia. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada sekitar 3–5 persen bayi laki-laki yang lahir cukup bulan dan dapat meningkat hingga 20–30 persen pada bayi prematur.

Sebagian testis memang dapat turun spontan dalam beberapa bulan pertama kehidupan. Namun bila setelah usia enam bulan testis belum turun, orang tua disarankan segera memeriksakan anak ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

dr. Siti Asiyah mengatakan, penyebab testis tidak turun bersifat multifaktorial. Beberapa faktor risiko yang diketahui antara lain kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, gangguan hormonal selama kehamilan, faktor genetik, riwayat keluarga dengan kondisi serupa, hingga paparan asap rokok selama kehamilan.

“Tetapi pada banyak kasus, penyebab pastinya tidak selalu dapat diketahui secara spesifik,” katanya.

Ia menuturkan, tanda awal yang paling mudah dikenali adalah kantung zakar tampak kosong pada salah satu atau kedua sisi. Selain itu, ukuran skrotum juga dapat terlihat tidak simetris.

Karena umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri, kondisi ini sering kali terlewat tanpa pemeriksaan yang teliti. 

Oleh sebab itu, pemeriksaan rutin bayi dan anak sangat penting dilakukan, termasuk saat kontrol imunisasi maupun pemeriksaan kesehatan berkala.

dr. Siti Asiyah menuturkan bahwa testis memiliki fungsi penting dalam pembentukan hormon dan produksi sperma di masa depan. 

Dikatakannya, agar berkembang optimal, testis harus berada di skrotum yang memiliki suhu lebih rendah dibanding rongga perut.

“Bila terlalu lama berada di luar skrotum, fungsi dan perkembangan jaringan testis dapat terganggu,” jelasnya.

Apabila tidak segera ditangani, kondisi testis tidak turun dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan, kanker testis saat dewasa, puntiran testis atau torsio testis, hernia inguinalis, hingga gangguan perkembangan ukuran testis.

Selain itu, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak ketika mulai tumbuh besar.

Risiko gangguan kesuburan disebut akan semakin tinggi apabila penanganan dilakukan terlambat, terutama pada kasus testis tidak turun bilateral atau terjadi pada kedua sisi.

“Semakin lama testis berada di luar skrotum, semakin besar risiko kerusakan sel pembentuk sperma. Karena itu, deteksi dan penanganan dini sangat penting,” katanya.

Terkait penanganan, evaluasi idealnya sudah dilakukan sejak bayi baru lahir. Jika hingga usia enam bulan testis belum turun spontan, anak dianjurkan menjalani pemeriksaan ke dokter spesialis bedah anak atau dokter urologi anak.

“Sementara tindakan operasi umumnya disarankan dilakukan sebelum usia satu tahun atau paling lambat sekitar 18 bulan agar hasil jangka panjang lebih optimal.”

Penanganan utama pada kasus ini adalah operasi orkidopeksi, yaitu prosedur untuk menurunkan dan menempatkan testis ke dalam skrotum serta memfiksasinya agar tetap berada pada posisi yang benar.

“Operasi dilakukan dengan pembiusan umum dan umumnya memiliki tingkat keberhasilan yang baik,” kata dr. Siti Asiyah.

Pada beberapa kasus tertentu, terutama bila testis tidak teraba, dokter juga dapat melakukan tindakan laparoskopi untuk menentukan lokasi testis sekaligus melakukan penanganan.

dr. Siti Asiyah mengimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih memperhatikan kondisi area genital anak sejak dini. 

Bila kantung zakar tampak kosong atau tidak simetris, orang tua diminta tidak menunda konsultasi ke dokter.

“Semakin cepat ditangani, semakin baik peluang mencegah komplikasi di kemudian hari. Edukasi dan pemeriksaan rutin sejak bayi menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan reproduksi anak di masa depan,” jelasnya. 

Sebagi  informasi, jadwal praktik dan layanan konsultasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengakses kanal resmi santosa-hospital.com. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.