Tak Paham Soal Pelemahan Rupiah, Pelaku UMKM Kota Malang Hanya Ingin Harga Stabil
Eko Darmoko May 26, 2026 06:35 PM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Melemahnya daya beli masyarakat mulai dirasakan para pedagang pasar tradisional di Kota Malang.

Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok dan perlengkapan usaha yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Sugeng, pedagang jajanan pasar di Pasar Klojen, yang memiliki Toko Kue Sugeng mengaku omzet penjualannya mengalami penurunan sekitar 15 persen dibanding sebelumnya.

Penurunan itu dirasakan di tengah naiknya harga bahan baku produksi jajanan tradisional.

“Sekarang memang terasa menurun. Omzet turun sekitar 15 persen,” ujar Sugeng kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan makanan seperti tepung dan gula, tetapi juga perlengkapan dagang sehari-hari seperti plastik kemasan.

Ia menyebut harga plastik yang biasa digunakan untuk membungkus jajanan naik cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

“Plastik dulu Rp 30 ribu, sekarang sudah Rp 50 ribu,” katanya.

Selain plastik, harga sejumlah bahan kebutuhan produksi juga terus mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut membuat beban operasional pedagang semakin berat.

Meski demikian, Sugeng mengaku belum berani menaikkan harga jual jajanan yang diproduksinya.

Ia khawatir pelanggan akan berkurang apabila harga dinaikkan.

Baca juga: Rupiah Melemah dan Harga Kedelai Impor Ugal-ugalan, Perajin Tempe di Kota Batu Pusing Biaya Produksi

“Kalau harga jual dinaikkan takut pelanggan lari. Jadi sementara masih bertahan,” ucapnya.

Menurut Sugeng, pelanggan saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Banyak pembeli yang mengurangi jumlah belanjaan dibanding biasanya.

Ia mengatakan, kondisi ekonomi masyarakat saat ini terasa lebih berat dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Hal itu berdampak langsung pada aktivitas perdagangan di pasar tradisional.

“Yang penting bagi saya sekarang orang bisa makan sepiring nasi sehari,” ujarnya.

Sugeng mengaku tidak terlalu memahami persoalan ekonomi makro, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Namun, ia merasakan dampak kenaikan harga barang yang terus terjadi.

“Kalau soal dolar saya tidak tahu. Yang penting saya bisa kerja dan pegawai saya sehat semua,” katanya.

Saat ini, Sugeng mempekerjakan beberapa pegawai untuk membantu proses produksi dan penjualan jajanan pasar.

Ia berharap kondisi ekonomi segera membaik agar daya beli masyarakat kembali pulih.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026) kembali melemah.

Rupiah tercatat berada di level Rp 17.749 per dolar AS atau melemah tipis dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 17.744 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah dinamika ekonomi global dan meningkatnya tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Bank Indonesia sebelumnya bahkan telah menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS.

Bagi pedagang kecil seperti Sugeng, kondisi ekonomi saat ini dirasakan langsung melalui kenaikan harga bahan kebutuhan usaha sehari-hari.

Sugeng mengatakan, saat ini dirinya hanya berusaha mempertahankan pelanggan lama sambil tetap menjaga kualitas jajanan yang dijual.

Menurutnya, kondisi pasar tradisional sangat bergantung pada kemampuan belanja masyarakat sehari-hari.

Dosen ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang, Mochamad Rofik mengatakan, pelemahan Rupiah memiliki dampak nyata terhadap masyarakat akar rumput, terutama pelaku usaha kecil.

Ia mencontohkan potensi kenaikan harga BBM, LPG 3 kilogram, plastik, hingga bahan baku lain yang berkaitan dengan impor.

“Harga plastik bisa naik hampir 50 persen. Ketika biaya produksi naik, pedagang juga harus menaikkan harga jual. Padahal belum tentu daya beli masyarakat ikut naik,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi konsumsi domestik.

Masyarakat cenderung menahan belanja dan hanya fokus pada kebutuhan pokok. Karena itu, Rofik mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam mengatur pengeluaran selama kondisi ekonomi belum stabil.

Ia meminta masyarakat menunda belanja yang tidak mendesak dan tidak bersikap spekulatif membeli dolar AS.

Selain itu, ia meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap sejumlah program strategis agar anggaran negara lebih fokus pada kebijakan yang memiliki efek pengganda ekonomi tinggi.

“Pemerintah perlu merefleksi mana program yang benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi dan mana yang hanya bersifat populis."

"Kalau kepercayaan pasar kembali, investor akan datang lagi dan Rupiah bisa menguat,” tuturnya.

Rofik menilai kekuatan utama ekonomi Indonesia masih berada pada tingginya konsumsi domestik masyarakat.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia dinilai memiliki pasar domestik yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

“Sebenarnya ekonomi Indonesia kuat karena konsumsi domestiknya tinggi."

"Selama konsumsi masyarakat bisa dijaga, ekonomi kita masih cukup aman,” ucapnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan konsumsi masyarakat saat ini belum cukup kuat dibanding pertumbuhan belanja pemerintah.

Karena itu, kebijakan fiskal dinilai perlu diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Rofik menilai Kondisi rupiah saat ini dipengaruhi faktor eksternal maupun internal yang saling berkaitan.

Menurutnya, dari sisi eksternal terdapat faktor global yang sulit dikendalikan Indonesia, seperti kondisi geopolitik dunia hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Menurutnya, pemerintah perlu fokus memperbaiki faktor internal untuk mengembalikan kepercayaan investor.

Salah satunya melalui kebijakan fiskal yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi produktif dan tidak bersifat konsumtif.

“Investor akan melihat apakah ada prospek ekonomi Indonesia yang bagus ke depan."

"Kalau iya, mereka akan kembali masuk, baik lewat investasi langsung, surat utang, maupun pasar modal,” ujarnya.

Di sisi lain, Rofik mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai pertumbuhan impor yang lebih cepat dibanding ekspor.

Meskipun neraca perdagangan Indonesia masih surplus, kebutuhan dolar dinilai terus meningkat akibat tingginya impor energi dan bahan baku industri.

“Ini warning awal agar pemerintah berhati-hati mengelola fiskal ketika Rupiah sedang tertekan,” katanya.

Baca juga: Pedagang Olahan Kedelai di Kota Malang Mulai Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.