TRIBUNNEWS.COM, PRANCIS - Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di Eropa Barat sejak akhir pekan lalu, memicu lonjakan suhu yang tidak lazim untuk akhir Mei serta menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Fenomena cuaca ini tidak hanya menyebabkan kondisi panas menyengat pada siang hari, tetapi juga berdampak hingga malam hari di beberapa wilayah.
Sejumlah negara kini meningkatkan status peringatan cuaca karena risiko kesehatan yang semakin tinggi.
Di Prancis, pemerintah secara resmi melaporkan tujuh kematian yang dikaitkan dengan dampak gelombang panas tersebut.
Juru bicara pemerintah Prancis, Maud Bregeon, menyampaikan bahwa korban jiwa tersebut memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan suhu ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
“Sayangnya, yang dapat saya katakan hari ini adalah ada tujuh kematian yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan panas,” ujarnya kepada stasiun televisi TF1, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Gelombang Panas di Spanyol Tewaskan 1.180 Orang dalam 2 Bulan, Mayoritas Lansia
Dari total korban tersebut, lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam setelah berupaya mendinginkan diri di perairan.
Sementara itu, satu korban lainnya meninggal saat melakukan aktivitas olahraga di tengah paparan panas berkepanjangan.
Media lokal BFM TV juga melaporkan adanya satu korban tambahan di wilayah Bas-Rhin yang meninggal akibat tenggelam.
Namun, kasus tersebut belum dimasukkan ke dalam data resmi pemerintah Prancis.
Badan meteorologi Prancis, Météo-France, telah mengeluarkan peringatan gelombang panas level oranye untuk sejumlah wilayah terdampak.
Suhu siang hari diperkirakan mencapai 33°C hingga 36°C, yang dinilai tidak lazim untuk periode akhir musim semi.
Lembaga tersebut bahkan menyebut kondisi ini sebagai “suhu yang luar biasa untuk akhir Mei.
Selain suhu tinggi, gelombang panas ini juga berpotensi memperburuk kualitas udara.
Data dari badan pemantauan atmosfer Prancis (LCSQA) menunjukkan wilayah Paris dan Lembah Rhône berisiko mengalami peningkatan konsentrasi ozon di permukaan tanah.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena lonjakan ozon dapat memicu gangguan pernapasan, memperparah asma, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Gelombang panas ini tidak hanya terjadi di Prancis, tetapi juga meluas ke sejumlah negara Eropa Barat lainnya.
Di Inggris, badan meteorologi Met Office mencatat rekor suhu tertinggi sekaligus suhu minimum harian tertinggi untuk bulan Mei, yang terjadi pada Senin malam. Kondisi ini menunjukkan bahwa panas ekstrem tidak hanya terjadi pada siang hari, tetapi juga bertahan hingga malam.
Sementara itu, di Spanyol, badan cuaca AEMET mengeluarkan peringatan level kuning di beberapa wilayah dengan suhu diperkirakan mencapai 34°C hingga 38°C dalam beberapa hari ke depan.
Di Portugal, lembaga meteorologi IPMA memperkirakan suhu dapat mendekati 40°C, menjadikan negara tersebut salah satu wilayah paling terdampak gelombang panas di kawasan Iberia.
Para ahli meteorologi menilai fenomena ini sebagai bagian dari pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan minimnya pendinginan pada malam hari meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan.
Otoritas di berbagai negara pun mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta menghindari aktivitas fisik berat di bawah paparan langsung sinar matahari.
Hingga saat ini, badan cuaca di berbagai negara Eropa terus memantau perkembangan gelombang panas tersebut, yang diperkirakan dapat bertahan lebih lama dari kondisi normal musim semi. (anadolu)