Ternyata Bukan PMK, Sapi di Batang dan Semarang Negatif PCR
Daniel Ari Purnomo May 26, 2026 08:20 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Temuan gejala penyakit yang mirip dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sempat terindikasi ditemukan pada sejumlah hewan kurban di wilayah Kabupaten Batang dan Kota Semarang. Namun, pihak Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa dua temuan kasus tersebut statusnya hanyalah sebatas suspek atau dugaan awal saja. Selepas dilakukan penelitian mendalam melalui uji laboratorium, hasil temuan medis itu kini resmi dinyatakan negatif.

"uji laboratorium terhadap dua hewan di Batang dan Kota Semarang suspek PMK hasilnya negatif PCR PMK, artinya dua kasus di dua daerah tersebut bukan PMK," ujar Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Andiningtyas Mula Pertiwi kepada Tribunjateng.com, Selasa (26/5/2026).

Tyas, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa sejauh ini jajarannya belum menemukan adanya kasus aktif PMK yang menjangkiti ternak di wilayah Jawa Tengah. Pihaknya juga menjelaskan baru mendapatkan dua laporan resmi terkait kasus suspek PMK dari dua daerah tersebut sepanjang musim ini.

Baca juga: Belum Sempat Divaksin, Satu Anakan Sapi di Ngaliyan Mati Diduga PMK

"Ya laporan ini bagian dari meningkatnya Kewaspadaan, jadi hewan yang mengarah ke ciri-ciri kena PMK langsung diperiksa meskipun belakangan hasilnya negatif," tuturnya menambahkan.

Sebagai langkah taktis antisipasi di lapangan, Tyas mengungkapkan bahwa pihaknya bakal terus memperketat lini pengawasan hewan. Ia juga meminta kepada masyarakat yang menemukan indikasi gejala PMK agar segera melaporkannya ke petugas kesehatan hewan terdekat.

Adapun sejumlah hewan yang memiliki gejala PMK di antaranya ditandai dengan demam tinggi, produksi air liur yang berlebihan, muncul bercak lepuh atau luka pada area mulut dan lidah, serta bagian kuku yang mengalami luka atau lepas hingga menyebabkan kondisi fisik pincang.

"Masyarakat juga harus selektif ketika membeli hewan ternak untuk kurban," cetusnya.

Tyas meminta pula kepada segenap peternak agar hanya menjual hewan yang benar-benar sehat kepada konsumen. Selain itu, ada satu hal penting selepas momen Iduladha yang dinilai perlu diwaspadai secara ekstra oleh para peternak, yakni perihal potensi bahaya saat mereka bakal memasukkan kembali hewan kurban yang tak laku terjual ke dalam kandang pembesaran semula.

Ia memberikan penilaian bahwa menjelang perayaan Iduladha, tingkat pergerakan dan mobilisasi perpindahan hewan kurban di masyarakat terpantau sangat tinggi. Oleh sebab itu, ketika hewan-hewan tersebut kembali dimasukkan ke dalam area kandang asal, maka risiko potensi penularan penyakit di lingkungan ternak dipastikan menjadi jauh lebih tinggi.

"Peternak harus perkuat biosekuriti ternak yang keluar masuk, pakan dan peralatan kandang harus diperhatikan ke bersihannya, dan jangan lupa untuk melakukan vaksin secara rutin seusia anjuran petugas kesehatan hewan," beber Tyas gamblang. (Iwn)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.