TRIBUNJATIM.COM - Simak jadwal takbiran yang sudah menjadi tradisi menjelang hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.
Takbiran adalah mengagungkan kebesaran Allah SWT mengumandangkan kalimat Allahu Akbar.
Bukan sekadar ibadah, takbiran juga merupakan bentuk rasa syukur atas semua nikmat spiritual setelah menjalani rangkaian ibadah.
Takbiran di Indonesia menjadi tradisi yang mengakar.
Baca juga: Bolehkah Orang yang Kurban Idul Adha Tak Lihat Proses Penyembelihan? Simak Penjelasannya
Lantunan di masjid pawai keliling hingga gema takbir terjadi di seluruh lapisan masyarakat Islam.
Dalam konteks Idul Adha, takbiran menjadi penanda datangnya hari raya kurban yang penuh makna pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Tahun 2026, penetapan awal bulan Dzulhijjah menjadi acuan penting dalam menentukan waktu takbiran Idul Adha.
Pemerintah menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026, sehingga Hari Raya Idul Adha 1447 H dipastikan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Penetapan ini diumumkan melalui Sidang Isbat Kementerian Agama RI yang digelar di Jakarta pada 17 Mei 2026, berdasarkan hasil pengamatan hilal dan perhitungan hisab yang melibatkan berbagai lembaga terkait seperti BMKG, BRIN, dan ormas Islam.
Secara umum, takbiran Idul Adha dimulai sejak masuknya bulan Dzulhijjah, yakni mulai 1 Dzulhijjah 1447 H atau sekitar 18 Mei 2026, dan terus bergema hingga hari raya tiba.
Dalam pelaksanaannya, takbiran terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir mursal yang dapat dilantunkan kapan saja sejak awal Dzulhijjah, serta takbir muqayyad yang dibaca setelah salat fardhu mulai 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) hingga 13 Dzulhijjah (hari tasyrik terakhir).
Di Indonesia, malam takbiran Idul Adha 2026 biasanya mulai terasa ramai pada malam 10 Dzulhijjah atau malam 27 Mei 2026 setelah salat Maghrib, ketika masyarakat mulai mengumandangkan takbir di masjid, mushala, hingga pawai keliling di berbagai daerah.
Suasana ini menjadi momen kebersamaan yang sarat makna spiritual sekaligus budaya.
Secara syariat Islam, takbiran Idul Adha tidak hanya dilakukan satu malam sebelum hari raya, tetapi memiliki rentang waktu yang cukup panjang dan terbagi menjadi dua jenis utama.
Takbir mursal adalah takbir yang dilantunkan secara bebas tanpa terikat waktu salat.
Pada Idul Adha 2026, takbir ini dimulai sejak masuknya 1 Dzulhijjah 1447 H, yaitu pada 18 Mei 2026, dan terus dianjurkan hingga menjelang pelaksanaan salat Idul Adha pada 27 Mei 2026.
Takbir ini bisa dilakukan kapan saja, baik di rumah, di perjalanan, di masjid, maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Tujuannya adalah memperbanyak zikir dan menghidupkan suasana bulan Dzulhijjah sebagai bulan penuh kemuliaan dalam Islam.
Takbir muqayyad adalah takbir yang dilakukan setelah salat fardhu.
Pada Idul Adha 2026, takbir ini dimulai sejak Subuh tanggal 9 Dzulhijjah atau tanggal 26 Mei 2026 (Hari Arafah) dan berlangsung hingga akhir hari tasyrik, yaitu 13 Dzulhijjah atau 30 Mei 2026.
Artinya, setelah pelaksanaan wukuf di Arafah oleh jemaah haji di Mekkah, umat Islam di seluruh dunia dianjurkan memperbanyak takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT hingga beberapa hari setelah Idul Adha.
Dengan demikian, puncak suasana takbiran Idul Adha 2026 di Indonesia biasanya terjadi pada malam 27 Mei 2026, ketika masyarakat mulai mengumandangkan takbir secara serentak di masjid, mushala, hingga kegiatan takbir keliling di berbagai daerah.
Bacaan takbir merupakan inti dari tradisi takbiran yang dilantunkan oleh umat Islam.
Salah satu bacaan yang paling umum dan dianjurkan adalah:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu wallahu akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah.”
Selain itu, terdapat juga bacaan lain yang lebih ringkas namun tetap bermakna:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiraa
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dengan kebesaran-Nya.”
Lantunan takbir ini tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan umat Islam dalam mengagungkan Allah SWT.
Suara takbir yang menggema menjelang Idul Adha menciptakan suasana haru sekaligus penuh kegembiraan, karena menandai datangnya hari raya kurban.
Takbiran bukan sekadar lantunan suara, tetapi bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Kata “takbir” berasal dari kata “kabaro” yang berarti membesarkan, dikutip dari ums.ac.id.
Dalam konteks ibadah, takbiran menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Besar dan tidak ada sesuatu pun yang layak disandingkan dengan-Nya.
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa takbiran juga merupakan bentuk rasa syukur dan pengakuan atas kebesaran Allah SWT.
Bahkan dalam Al-Qur’an, perintah untuk mengagungkan Allah disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 sebagai bagian dari ibadah setelah menyempurnakan suatu amal.
Tradisi ini sudah ada sejak masa Rasulullah SAW, di mana para sahabat mengumandangkan takbir dengan suara lantang saat menuju tempat salat Id.
Kebiasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari syiar Islam yang terus dilestarikan hingga sekarang.
Di Indonesia, tradisi takbiran berkembang pesat seiring masuknya Islam ke Nusantara sejak abad ke-13.
Pada masa Kesultanan Demak, takbiran dilakukan di masjid dan alun-alun sebagai bentuk syiar Islam kepada masyarakat luas.
Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi lebih meriah dengan berbagai bentuk, seperti pawai obor, takbir keliling menggunakan mobil hias, hingga siaran takbiran di televisi dan media digital.
Meski bentuknya beragam, esensi utamanya tetap sama, yaitu mengagungkan Allah SWT dan menyambut hari raya dengan penuh kegembiraan dan syukur.