BANGKAPOS.COM - Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana khas yang penuh dengan kedamaian. Langit malam akan segera bergema oleh seruan yang merdu dari masjid, mushala, rumah, hingga jalan-jalan. Umat Islam di seluruh dunia berseru mengumandangkan takbir kepada Allah SWT.
Gema takbir ini bukan sekadar lantunan lisan, melainkan manifestasi dari rasa syukur, pengagungan terhadap kebesaran Allah, serta bentuk ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Mari kita hayati kembali bacaan takbiran Idul Adha beserta nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Anjuran Mengumandangkan Takbir Idul Adha
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Tuntunan Idain dan Qurban (2007) menjelaskan bahwa umat Islam dituntunkan untuk memperbanyak takbir pada malam Idul Adha, dimulai sejak terbenamnya matahari hingga pagi hari ketika shalat Id akan dimulai.
Anjuran untuk mengagungkan nama Allah ini juga bersandar langsung pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"...Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)
Lafadz Bacaan Takbiran Idul Adha Lengkap Arab dan Latin
Menurut Buya Yahya dalam Bacaan Takbir Hari Raya (2022), terdapat dua versi lafadz takbir yang dikenal luas di tengah umat Islam, yaitu versi pendek dan versi panjang. Berikut adalah detail bacaan takbiran Idul Adha lengkap:
1. Bacaan Takbiran Idul Adha Versi Pendek
- Lafadz Arab: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
- Lafadz Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar walillāhil hamd.
- Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah."
2. Bacaan Takbiran Idul Adha Versi Panjang
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
- Lafadz Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar walillāhil hamd. Allāhu akbar kabīrā, walhamdulillāhi katsīrā, wasubhānallāhi bukrataw wa ashīllā. Lā ilāha illallāhu walā na‘budu illā iyyāhu mukhlishīna lahuddīn walau karihal kāfirūn. Lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara ‘abdah, wa a‘azza jundah, wahazamal ahzāba wahdah. Lā ilāha illallāhu allāhu akbar. Allāhu akbar walillāhil hamd.
- Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah. Allah Maha Besar dengan segala kebesaran. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan tulus beragama hanya karena Allah, meskipun orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah dengan ke-Maha Tunggalan-Nya. Dia yang menepati janji, memberi pertolongan kepada hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya serta menghancurkan musuh-musuh-Nya dengan ke-Maha Tunggalan-Nya. Tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Jenis-Jenis Takbir Idul Adha
Menurut tesis dari Maulida yang berjudul Rangkaian Lafal Takbir Dua Hari Raya (2019), pengucapan takbir dalam momen Idul Adha dikelompokkan ke dalam tiga jenis situasi:
Takbir dalam Shalat Idul Adha:
- Rakaat Pertama: Dibaca sebanyak 7 (tujuh) kali setelah takbiratul ihram.
- Rakaat Kedua: Dibaca sebanyak 5 (lima) kali setelah takbir intiqal (takbir bangkit dari sujud).
- Takbir saat Khutbah Idul Adha: Khatib membaca takbir sebanyak 9 kali pada awal khutbah pertama, kemudian dilanjutkan 7 kali setelah bangun dari duduk untuk memulai khutbah kedua.
Takbir di Luar Shalat (Muqayyad dan Muthlaq):
- Takbir Muqayyad: Dibaca berkala setelah selesai shalat fardhu, dimulai dari waktu Subuh pada 9 Dzulhijjah hingga waktu Ashar pada 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyrik).
- Takbir Muthlaq: Dibaca kapan saja dan di mana saja secara bebas sejak malam Idul Adha hingga hari Tasyrik berakhir.
Nilai Spiritual di Balik Gema Takbir Idul Adha
Lebih dari sekadar ritual lisan, Tulus Mustofa dalam Takbir dalam Kehidupan Seorang Muslim (2015) memaparkan beberapa nilai luhur yang terkandung dalam kalimat takbir:
- Meneguhkan Keikhlasan dalam Beribadah: Menjadi pengingat bahwa hanya Allah SWT yang layak disembah, bukan makhluk, harta, ataupun kekuasaan duniawi.
- Mengagungkan Syariat Allah: Keyakinan kuat bahwa Allah Maha Besar harus diiringi dengan kepatuhan total terhadap perintah dan larangan-Nya.
- Menumbuhkan Kerendahan Hati: Takbir melatih kita untuk sadar betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta, sehingga dapat mengikis sifat sombong.
- Dalam konteks Idul Adha, gema takbir juga menjadi bagian spiritual yang agung karena beriringan dengan pelaksanaan ibadah haji, khususnya saat jamaah menyelesaikan wukuf di Arafah.
Idul Adha adalah momentum terbaik untuk kembali pada nilai pengorbanan, keikhlasan, dan tauhid. Mari kita hidupkan malam yang mulia ini dengan mengamalkan bacaan takbiran Idul Adha. Semoga setiap gema takbir yang terucap tulus dari hati menjadi bukti cinta dan saksi keimanan kita yang terus bertumbuh kepada Allah SWT.
(Sumber : Kompas.com)