SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Bripda M Kadafi membantu pelunasan biaya rumah sakit hingga mendampingi proses pemakaman seorang bayi yang meninggal dunia akibat sakit.
Atas aksi sosialnya, anggota Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sumsel itu mendapat apresiasi dari atasan, baik dari Ditpolairud maupun Polda Sumsel.
Direktur Ditpolairud Polda Sumsel, Kombes Pol Heru Agung Nugroho, mengatakan tindakan yang dilakukan personelnya merupakan bagian dari nilai pengabdian Polri kepada masyarakat.
"Tindakan ini adalah bentuk nyata implementasi konsep Polri Penolong. Anggota kami di lapangan harus mampu hadir dengan empati dan memberikan pertolongan bagi masyarakat yang sedang mengalami musibah maupun kesulitan," ujar Heru, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Rekam Jejak Andri Badak Bandar Narkoba Penikam Polisi di OKU, Dua Kali Keluar Masuk Penjara
Hal yang sama dikatakan Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya.
Ia menambahkan, Polda Sumsel berkomitmen menghadirkan pelayanan kepolisian yang humanis dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
"Kami berkomitmen mendukung penuh program pemerintah demi kesejahteraan masyarakat. Kehadiran anggota Polri saat masyarakat membutuhkan bantuan merupakan bentuk pengabdian nyata untuk menjaga keharmonisan, solidaritas sosial, dan stabilitas kamtibmas di tengah masyarakat," kata Nandang.
Sebelumnya, bayi malang itu menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan dinyatakan meninggal dunia pada 18 Mei 2026 lalu akibat mengalami koma dan henti napas.
Sebelumnya, bayi malang itu menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan dinyatakan meninggal dunia pada 18 Mei 2026 lalu akibat mengalami koma dan henti napas.
Di tengah situasi duka, pihak keluarga mengalami kesulitan ekonomi karena belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, sehingga biaya pengobatan harus ditanggung secara mandiri.
Di tengah situasi duka, pihak keluarga mengalami kesulitan ekonomi karena belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, sehingga biaya pengobatan harus ditanggung secara mandiri.
Kondisi tersebut membuat keluarga berupaya mencari bantuan untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit sebelum jenazah dapat dibawa pulang.
Baca juga: Polisi Muda Pangkat Bripda di Palembang Ini Lunasi Biaya RS Bayi Rp8 Juta hingga Urus Pemakaman
Kondisi tersebut membuat keluarga berupaya mencari bantuan untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit sebelum jenazah dapat dibawa pulang.
"Awalnya saya lagi piket jaga kemudian dapat telepon dari salah satu kenalan, Febri namanya, ada bayi meninggal dunia. Orangtuanya kesulitan menebus biaya rumah sakit," ujar Dafi kepada Sripoku.com, Selasa (26/5/2026).
"Awalnya saya lagi piket jaga kemudian dapat telepon dari salah satu kenalan, Febri namanya ada bayi meninggal dunia. Orangtuanya kesulitan menebus biaya rumah sakit," ujar Dafi kepada Sripoku.com, Selasa (26/5/2026).
Lulusan Tamtama Polri ini menjelaskan niat ingin menolong timbul karena ia punya pengalaman pernah merasakan masa-masa sulit, dari situ timbul niat ikhlas menolong keluarga bayi tersebut.
"Saya benar-benar ikhlas menolong. Karena saya mau membantu, saya izin sama atasan dan istri saya. Akhirnya malam itu juga, sama istri ke rumah duka keluarga bayi," katanya.
Lulusan Tamtama Polri ini menjelaskan niat ingin menolong timbul karena ia punya pengalaman pernah merasakan masa-masa sulit, dari situ timbul niat ikhlas menolong keluarga bayi tersebut.
Menurut cerita keluarga bayi, biaya di rumah sakit mencapai Rp12 juta. Karena keluarga bayi hanya punya uang Rp4 juta sisanya ia bayarkan ke rumah sakit.
"Waktu itu rencana keluarganya mau gadai motor karena uangnya baru ada Rp4 juta dan itu pun sudah dibantu sama kerabat-kerabatnya. Jadi saya lunasi sisanya," tuturnya.
"Saya benar-benar ikhlas menolong. Karena saya mau membantu, saya izin sama atasan dan istri saya. Akhirnya malam itu juga, sama istri ke rumah duka keluarga bayi," katanya.
Setelah seluruh proses administrasi selesai, ia juga turut mendampingi keluarga dan membantu proses pengantaran jenazah dari rumah duka di kawasan Lemabang menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kandang Kawat Palembang.
Menurut cerita keluarga bayi, biaya di rumah sakit mencapai Rp12 juta. Karena keluarga bayi hanya punya uang Rp4 juta sisanya ia bayarkan ke rumah sakit.
"Waktu itu rencana keluarganya mau gadai motor karena uangnya baru ada Rp4 juta dan itu pun sudah dibantu sama kerabat-kerabatnya. Jadi saya lunasi sisanya," tuturnya.
Setelah seluruh proses administrasi selesai, ia juga turut mendampingi keluarga dan membantu proses pengantaran jenazah dari rumah duka di kawasan Lemabang menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kandang Kawat Palembang.