TRAGIS Menantu Bunuh Ibu Mertua di Empat Lawang Sumsel, Terungkap Fakta-fakta Mengerikan
AbdiTumanggor May 27, 2026 01:27 AM

TRIBUN-MEDAN.COM  - Kasus pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, menggemparkan masyarakat.

Seorang menantu bernama Angga (31) tega menghabisi nyawa ibu mertuanya, Aminah (63), hanya karena persoalan sepele, yaitu pembagian hasil panen kopi dan lada.

Peristiwa ini terjadi pada Senin (25/5/2026), di Kecamatan Ulu Musi, dan jasad korban kemudian ditemukan di aliran Sungai Betung.

Fakta-fakta Mengerikan

Menurut keterangan resmi dari Polres Empat Lawang, yang disampaikan Wakapolres Kompol Abdul Rahman dalam konferensi pers pada Selasa (26/5/2026), awal mula tragedi ini adalah perdebatan mengenai pembagian hasil panen kopi dan lada. 

Korban merasa pembagian yang dilakukan sang menantu, Angga, tidak masuk akal, sehingga ia terus menanyakan hal tersebut.

Merasa tersinggung, Angga turun ke bawah pondok dan mengambil sebatang kayu kopi.

Saat itu, Aminah sedang mengambil air wudhu untuk menunaikan salat Ashar.

Angga kemudian menyerang dari belakang, membuat korban terjatuh.

Pada saat itu korban berusaha melawan.

Angga kemudian mengeluarkan pisau dan menusuk paha korban.

Selanjutnya, Angga memukul bagian belakang tubuh Aminah dua kali.

Korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Angga kembali menusuk dada bagian kiri ibu mertuanya untuk memastikan kondisinya tewas.

Bahkan, ia memukul wajah korban dua kali untuk benar-benar memastikan kematiannya.

Upaya Menyembunyikan Jasad

Setelah memastikan korban tewas, Angga memasukkan tubuh Aminah ke dalam karung kopi berukuran 50 kg.

Tubuh korban ditekuk agar muat, lalu dibungkus dengan terpal hitam agar darah tidak tercecer.

Karung tersebut diikat, dinaikkan ke sepeda motor, dan dibuang ke Sungai Betung, tepatnya di Dusun 7 Desa Tanjung Agung, Kecamatan Ulu Musi.

Fakta yang Terungkap

Motif ekonomi: Perselisihan pembagian hasil panen kopi dan lada menjadi pemicu utama.

Kondisi korban: Aminah sedang bersiap menunaikan salat Ashar ketika diserang.

Metode pelaku: Menggunakan kayu kopi, pisau, dan pukulan untuk memastikan korban tewas.

Upaya pelaku: Membungkus jasad dengan karung kopi dan terpal, lalu membuangnya ke sungai.

Kasus ini menimbulkan keprihatinan mendalam di masyarakat.

"Perselisihan keluarga yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah justru berujung pada tragedi berdarah. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik ekonomi dalam keluarga bisa berpotensi memicu tindak kriminal jika tidak dikelola dengan bijak,"ujar Wakapolres Kompol Abdul Rahman dalam konferensi pers pada Selasa (26/5/2026),.

(*/tribun-medan.com)

Baca juga: Misteri Sosok Perempuan Indonesia yang Meninggal Dunia di Australia: Diperbudak Pasangan Suami Istri

Baca juga: NASIB Cathlyn Yvaine Lesmana, Paskibraka Makassar Gagal ke Istana Gegara Tak Bisa Bahasa Daerah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.