Mengapa Declan Rice Menilai Dirinya Sebagai ‘Pemain untuk Laga Besar’ Saat Arsenal Memburu Gelar Ganda Liga Inggris & Liga Champions
Rina Kusumawati May 27, 2026 11:17 AM

Declan Rice mengungkapkan bagaimana dirinya berkembang menjadi seorang “pemain untuk laga besar” ketika Arsenal bersiap menghadapi final Liga Champions yang bersejarah melawan Paris Saint-Germain. Setelah memastikan gelar juara Liga Inggris, gelandang tim nasional Inggris itu kini bertekad menuntaskan misi ganda legendaris di Budapest.


Bangkit di Momen Terbesar


Rice bukanlah sosok asing dalam urusan kesuksesan di kompetisi Eropa. Sebelumnya, ia pernah memimpin West Ham meraih trofi Liga Konferensi Eropa. Namun, saat bersiap memimpin lini tengah Arsenal di final Liga Champions, tantangan kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Pemain berusia 27 tahun itu percaya bahwa kini ia memiliki mentalitas yang dibutuhkan untuk tampil gemilang di bawah sorotan dunia, bahkan menyebut dirinya sebagai spesialis untuk panggung terbesar di sepak bola dunia.


“Saya ingin mengatakan bahwa saya adalah pemain untuk laga besar,” ujar Rice dalam wawancara dengan uefa.com jelang final. “Ketika Anda bermain di kompetisi terbesar, Anda membutuhkan pemain yang mampu tampil maksimal di setiap momen, dan bukan hanya saya saja. Saya rasa tim kami telah membuktikannya dalam beberapa tahun terakhir di laga-laga besar – kami mampu tampil menonjol, terutama di Liga Champions. Ada beberapa dari kami yang memiliki karakter itu, dan kami akan membutuhkannya lagi ketika menghadapi final nanti.”


Belajar dari Kekecewaan di Final Sebelumnya


Meski Rice pernah merasakan euforia mengangkat trofi di Praha bersama West Ham, kariernya juga diwarnai oleh beberapa kekalahan menyakitkan di partai final, termasuk dua kekalahan di final Kejuaraan Eropa bersama Inggris. Alih-alih membiarkan kegagalan itu membebaninya, sang gelandang menjadikannya sebagai motivasi agar tidak lagi merasakan rasa “sakit” yang sama. Ia menegaskan bahwa setiap kekalahan justru menguatkannya untuk menghadapi tantangan dari tim asuhan Luis Enrique, Paris Saint-Germain.


“Saya sudah kalah di cukup banyak final sekarang: dua final EURO, final Piala Liga. Rasanya menyakitkan karena saat Anda mencapai final, Anda ingin memenangkan trofi itu. Tapi di sisi lain, setiap kekalahan kecil yang Anda alami membuat Anda lebih siap. Hal itu membuat Anda semakin lapar untuk meraih kemenangan, dan semoga itulah yang terus bisa kami lakukan,” kata Rice.


Mengejar Sejarah Ganda di Budapest


Dengan medali juara Liga Inggris sudah di tangan, fokus Arsenal kini sepenuhnya tertuju pada “trofi indah” yang selama ini belum pernah mereka menangkan. Setelah tersingkir oleh PSG di semifinal musim lalu, Rice menegaskan bahwa The Gunners telah memetik pelajaran berharga untuk melangkah lebih jauh kali ini. Ia yakin skuadnya siap “menguras tenaga” demi menutup musim dengan pencapaian tertinggi.


“PSG adalah tim yang sangat bagus. Kami sudah melawan mereka dalam dua leg tahun lalu. Laga itu bisa saja berakhir untuk siapa pun. Apa yang kami pelajari dari kekalahan semifinal musim lalu? Bahwa Anda harus memanfaatkan setiap peluang, karena kami punya banyak peluang waktu itu,” tegas Rice.


Peluang Emas yang Tak Boleh Terlewat


Rice menjadi sosok penting dalam perjalanan Arsenal menuju gelar Liga Inggris, mengakhiri penantian 22 tahun klub tersebut. Ia mencetak empat gol dan memberikan tujuh assist dalam 36 penampilan di kompetisi tersebut. Pemain berusia 27 tahun itu paham betul bahwa mencapai final Liga Champions merupakan kesempatan luar biasa untuk akhirnya menaklukkan gelar yang belum pernah mereka raih.


Rice berkata: “Ini adalah kompetisi terbesar di sepak bola. Final Liga Champions, tidak ada yang lebih besar dari itu. Sungguh sebuah kesempatan luar biasa. Ini akan menjadi pertandingan terakhir sepak bola klub musim ini, jadi kami ingin menutupnya dengan cara terbaik dan memberikan segalanya.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.