TRIBUNJAMBI.COM - Nama Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia kian ramai diperbincangkan publik seiring dengan viralnya berbagai dinamika kebijakan dan kontroversi akademis yang menerpanya.
Kendati demikian, menengok jauh ke belakang, figur yang kini menduduki posisi strategis di pemerintahan dan partai politik besar ini memiliki latar belakang kehidupan yang penuh dengan lika-liku perjuangan dari akar rumput.
Pria kelahiran 7 Agustus 1976 ini resmi menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak 19 Agustus 2024 serta dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) per 21 Agustus 2024.
Sebelum berada di posisinya saat ini, ia mengawali karier menteri sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2019, sebelum akhirnya dilantik menjadi Menteri Investasi pertama seiring perubahan nomenklatur lembaga pada 2021.
Karier Awal: Penjual Kue, Kondektur, hingga Sopir Angkot
Masa kecil Bahlil Lahadalia jauh dari kata mewah. Ia menempuh pendidikan dasarnya di SD Negeri 1 Seram Timur sembari berjualan kue untuk membantu keluarga.
Menginjak bangku SMP Negeri 1 Seram Timur, ia melakoni pekerjaan sebagai kondektur angkutan kota (angkot).
Perjuangan hidupnya berlanjut ketika ia pindah ke Fakfak untuk bersekolah di SMA YAPIS Fakfak, di mana ia naik kelas menjadi sopir angkot demi menyambung hidup dan membiayai sekolah.
Setamat SMA, ia merantau ke Jayapura untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay.
Baca juga: Viral Tren My Little Bolu Ketan, Golkar Respon Santai Jingle Mas Bahlil Ganteng atau MBG
Baca juga: Progres Terkini Jalan Tol Trans Sumatera di Jambi-Palembang dan Jambi-Riau
Akibat imbas kerusuhan Mei 1998, Bahlil baru bisa menyelesaikan studi sarjananya pada usia 26 tahun.
Selama berstatus mahasiswa, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Papua hingga sempat menjabat sebagai Bendahara Umum Pengurus Besar HMI periode 2001-2003.
Dunia bisnis kemudian membuka jalan suksesnya. Setelah sempat bekerja di PT Sucofindo, Bahlil Lahadalia mendirikan tiga perusahaan, yakni PT Rifa Capital, PT Bersama Papua Unggul, dan PT Dwijati Sukses.
Kesuksesannya sebagai pengusaha mengantarkan dirinya menjadi anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) sejak 2003, hingga puncaknya terpilih sebagai Ketua Umum BPP HIPMI periode 2015–2019.
Ia pun melanjutkan studi Magister Sains bidang Ekonomi di Universitas Cenderawasih.
Sebagai pejabat publik, kiprah Bahlil kerap diwarnai sorotan tajam.
Saat menjabat Menteri Investasi, ia melakukan pencabutan ribuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) mandek.
Namun, Majalah Tempo sempat menduga adanya tebang pilih karena izin tambang nikel PT Meta Mineral Pradana—yang saham utamanya dimiliki perusahaan Bahlil, PT Papua Bersama Unggul—tidak ikut dicabut.
Ketika bergeser menjadi Menteri ESDM, pengetatan distribusi elpiji 3 kg per 1 Maret 2025 sempat memicu kelangkaan di masyarakat sebelum akhirnya ia melonggarkan aturan bagi pengecer.
Tak hanya itu, keputusannya mempertahankan izin tambang PT Gag Nikel di pulau kecil Raja Ampat juga menuai protes dari Greenpeace Indonesia.
Selain kebijakan nasional, jalur akademisnya turut menjadi pusaran kontroversi global saat Universitas Indonesia (UI) menangguhkan gelar doktor yang diperolehnya pada 2024 terkait masalah jurnal dan isu plagiarisme.
Guru besar UIN Jakarta, Maila Dinia Husni Rahiem, sempat meluruskan bahwa isu plagiarisme draf tersebut murni akibat kesalahpahaman sistem pelacakan Turnitin.
"Namun, dokumen tersebut tidak segera dihapus dan tersimpan di repositori Turnitin kampus. Akibatnya, saat dilakukan pemeriksaan ulang, sistem mendeteksi kesamaan hingga 100 persen karena file tersebut sudah tercatat dalam basis data Turnitin sebagai dokumen resmi," jelas Maila Dinia Husni Rahiem dalam tulisan resminya.
Baca juga: Bahlil Garansi Harga BBM dan Elpiji Subsidi Tak Naik Jika Minyak Kurang dari 100 Dolar
Baca juga: Warga Jambi Siap-Siap, Operasi Patuh 2026 Sasar Pelanggar ETLE, Catat Jadwalnya
Kendati pembatalan kelulusan tetap berjalan dari pihak rektorat, babak baru bergulir di ranah hukum. Jajaran promotor Bahlil, yakni Athor Subroto dan Chandra Wijaya, melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta.
Pada 1 Oktober 2025, Hakim PTUN Jakarta resmi mengabulkan seluruh gugatan Athor dan sebagian gugatan Chandra guna membatalkan surat sanksi rektorat tersebut.
Di luar sepak terjang politik dan kebijakan publiknya yang kerap menuai sorotan, nama Bahlil Lahadalia belakangan ini justru ramai menghiasi berbagai platform digital lewat cara yang unik dan menghibur.
Publik mendadak dihebohkan oleh tren jingle dan meme jenaka berjudul Mas Bahlil Ganteng yang ramai digunakan sebagai latar musik oleh para kreator konten.
Netizen bahkan akrab mengenal lagu tersebut dengan sebutan My Little Bolu Ketan.
Jingle berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ini pertama kali meledak setelah diunggah oleh akun TikTok @vokaliz_netizen pada 29 April 2026.
Dengan penggalan lirik yang menggelitik seperti, MBG, Mas Bahlil ganteng. Buah apa yang paling manis? Buahlil.
Tambah ganteng aja, my little bolu ketan," unggahan tersebut langsung viral hingga disukai lebih dari 1,1 juta akun.
Popularitas tren digital ini kian meroket setelah kreator konten kenamaan Sania Leonardo (@panggilakubambang) ikut mengunggah video reaksi yang sukses meraup sekitar 3,8 juta tanda suka.
Menanggapi fenomena penamaan jenaka yang menyeret sang ketua umum, Partai Golkar memilih meresponsnya dengan santai dan tidak ambil pusing.
Sekjen DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, memandang jingle viral tersebut secara positif sebagai bentuk apresiasi spontan dan kreativitas murni dari warganet terhadap kinerja Bahlil.
"Itu, kan, justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga," kata Sarmuji, Senin (25/5/2026).
Sarmuji menambahkan bahwa lagu tersebut terkesan menghibur sehingga tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Nada santai yang ditunjukkan internal Golkar ini dinilai tepat oleh Pengamat Komunikasi Politik, Kunto Adi Wibowo.
Menurut Kunto, langkah riding the wave (menunggangi gelombang) tren digital ini justru menguntungkan Golkar secara elektoral tanpa harus menguras dana kampanye.
Format lagu yang jenaka dan mudah diingat publik secara tidak langsung menciptakan efek pengenalan figur Bahlil yang kuat di kalangan generasi muda hingga anak-anak.
Baca juga: Viral Tren My Little Bolu Ketan, Golkar Respon Santai Jingle Mas Bahlil Ganteng atau MBG
Baca juga: Panitia Kurban Masjid Baiturrahmah Muara Bulian Batang Hari Siapkan 650 Kupon untuk Warga
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Tanjab Timur, BMKG: Hujan Sedang Lebat Disertai Petir Angin Kencang