TRIBUNBEKASI.COM- Viral soal tidak lolosnya siswi asal Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana, ke tingkat nasional Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Batalnya dara canti tersebut menjadi calon paskibra nasional jadi sorotan publik.
Muncul dugaan bahwa Cathlyn gagal melaju ke tingkat pusat karena tidak menguasai bahasa daerah.
Selain itu juga ada tudingan soal ras. Diketahui Cathlyn Yvaine Lesmana merupakan keturunan Tionghoa.
Namun, tudingan tersebut dibantah oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan.
Kepala Kesbangpol Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, menegaskan kemampuan berbahasa daerah bukan indikator yang menentukan kelulusan peserta seleksi Paskibraka nasional.
Menurutnya, pertanyaan mengenai bahasa daerah hanya menjadi bagian dari tes kepribadian untuk mengukur pemahaman peserta terhadap kearifan lokal daerah yang diwakilinya.
Ia menyebut peserta yang tidak menguasai bahasa daerah tidak otomatis dinyatakan gugur dalam proses seleksi.
Kesbangpol juga membantah tudingan bahwa Cathlyn tidak lolos karena latar belakang etnis Tionghoa.
Bustanul menegaskan proses seleksi dilakukan secara objektif dan tidak mempertimbangkan faktor ras maupun etnis peserta.
Menurutnya, jika faktor etnis menjadi pertimbangan, maka Cathlyn tidak akan lolos hingga tahapan seleksi tingkat provinsi dan masuk dalam kandidat menuju tingkat nasional.
Kesbangpol Sulsel juga membantah narasi yang menyebut Cathlyn sempat dinyatakan lolos lalu digantikan peserta lain.
Menurut Bustanul, tidak pernah ada pengumuman resmi yang menetapkan Cathlyn sebagai peserta terpilih sebelum hasil akhir diumumkan.
Karena itu, ia menilai istilah "diganti" tidak tepat digunakan dalam kasus tersebut.
Di sisi lain, Ketua Purna Paskibraka Indonesia Makassar, Muhammad Fahmi, mempertanyakan sejumlah tahapan seleksi yang dijalani peserta.
Menurut Fahmi, Cathlyn memperoleh nilai yang sangat baik pada Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU), hingga pemeriksaan kesehatan.
Namun, ia menyoroti proses tes kepribadian yang dinilai menimbulkan sejumlah pertanyaan, termasuk adanya pertanyaan terkait bahasa daerah saat wawancara.
Fahmi menilai kemampuan bahasa asing yang dimiliki Cathlyn, termasuk bahasa Inggris dan Mandarin, seharusnya menjadi nilai tambah bagi peserta dikutip dari kompas.com
Bustanul menegaskan pihaknya siap menerima konsekuensi apabila ada pihak yang mampu membuktikan adanya kecurangan dalam proses seleksi.
Ia kembali menegaskan bahwa peserta tidak mungkin digugurkan hanya karena tidak menguasai bahasa daerah maupun karena faktor etnis.
Polemik ini kini menjadi perhatian publik setelah berbagai pihak mempertanyakan transparansi proses seleksi calon Paskibraka tingkat nasional dari Sulawesi Selatan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, merespons polemik tidak terpilihnya Cathlyn Yvaine Lesmana dalam seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional tahun 2026.
Cathlyn, siswi SMAS Cerdas Bangsa Makassar, sebelumnya disebut masuk dalam tiga besar hasil seleksi calon Paskibraka tingkat Sulawesi Selatan. Namun namanya diduga tidak masuk dalam daftar akhir peserta yang akan mewakili Sulsel ke Istana Negara.
Menanggapi polemik tersebut, Munafri mengaku prihatin dan berharap seluruh proses seleksi dilakukan secara objektif, profesional, serta menjunjung tinggi prinsip keadilan.
Menurutnya, peserta asal Makassar telah mengikuti seluruh tahapan seleksi sehingga hasil akhir diharapkan benar-benar berdasarkan penilaian yang adil.
"Peserta dari Makassar ada, ini delegasi dari Kota Makassar yang dikirim seleksi. Masa tidak ada, kita berharap hasil seleksi semuanya fair," kata Munafri.
Munafri mengaku tidak mengetahui secara rinci proses penilaian di tingkat provinsi. Namun, informasi yang berkembang mengenai adanya reposisi peserta menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar.
Ia menyebut kabar mengenai perubahan posisi peserta perlu dijelaskan secara transparan agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.
"Padahal nilainya siswa kabarnya cukup. Jadi, kita berharap benar-benar fair dalam proses ini," ujarnya.
Selain menyoroti proses seleksi, Munafri juga menaruh perhatian terhadap kondisi psikologis para peserta yang telah berjuang mengikuti seluruh tahapan seleksi.
Menurutnya, para calon Paskibraka telah menjalani latihan dan persiapan yang tidak mudah sehingga polemik seperti ini dikhawatirkan dapat memengaruhi mental mereka.
"Kasihan anak-anak yang sudah berproses. Mereka sudah latihan, sudah mempersiapkan diri dengan baik. Yang dikhawatirkan itu mentalnya," kata Munafri.
Polemik terkait tidak lolosnya Cathlyn ke tingkat nasional masih menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai pertanyaan mengenai proses seleksi calon Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.