Rupiah Rp 17.858 per Dolar, Produsen Tahu Tertekan, Kedelai Mahal Tapi Tak Berani Naikkan Harga
Haorrahman May 27, 2026 12:57 PM

 

Rupiah Melemah, Perajin Tahu di Banyuwangi Tertekan Kenaikan Harga Kedelai Impor
Banyuwangi 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Salah satunya perajin tahu di Banyuwangi, Jawa Timur, yang harus menghadapi kenaikan harga kedelai di tengah biaya produksi yang terus membengkak.

Pada Rabu (27/5/2026), nilai tukar rupiah tercatat menembus Rp 17.858 per dolar AS. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe di Indonesia.

Nurul Hakim, perajin tahu di Kelurahan Penatigan, Banyuwangi, mengaku kenaikan harga kedelai dalam beberapa bulan terakhir mulai menggerus keuntungan usahanya.

Baca juga: Penyelundupan Puluhan Kambing Kurban Tanpa Dokumen Digagalkan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi

“Dampaknya besar sekali. Harga kedelai dalam lima bulan terakhir ini sudah naik Rp2 ribu per kilogram. Desember lalu harganya Rp8.500 per kilogram, sekarang sudah Rp10.500 per kilogram,” kata Hakim.

Hakim melanjutkan usaha keluarganya yang telah berjalan sejak 1979. Ia sendiri fokus mengelola produksi tahu sejak 2005. Dari beberapa perajin tahu di wilayahnya, kini hanya usahanya yang masih bertahan setelah pelaku usaha lain gulung tikar akibat margin keuntungan yang terus menipis.

Baca juga: Geng Motor Brutaliti Banyuwangi Keling Bawa Celurit Cari Musuh, Berakhir di Ditangkap Polisi 

Ukuran Tahu

Produksi tahu dilakukan di dapur samping rumah yang ia beri nama “House of Tofu”. Setiap hari, kecuali Jumat dan Minggu, Hakim bersama seorang pekerja memproduksi sekitar 5.500 biji tahu.

Dalam proses produksinya, sekitar 1,25 kuintal kedelai digiling dan dimasak menggunakan tungku kayu bakar. Setelah sari pati dipisahkan dari ampas, adonan dipadatkan dalam cetakan sebelum dipotong sesuai ukuran jual.

Meski harga bahan baku naik, Hakim mengaku sulit menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Sebagai jalan tengah, ia memilih memperkecil ukuran tahu.

“Harga bahan baku naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu,” ujarnya.

Baca juga: Pabrik Tahu di Situbondo Terbakar, Diduga Akibat Tumpukan Kayu Dekat Tungku Api

Saat ini, tahu putih produksinya dijual Rp 4 ribu per 10 biji, sedangkan tahu goreng Rp5.500 per 10 biji.

Selain kenaikan kedelai, biaya operasional lain juga ikut bertambah, terutama listrik yang digunakan untuk mesin penggiling dan pompa air produksi.

“Biasanya listrik saya satu bulan Rp1,2 juta, sekarang jadi Rp1,7 juta,” kata Hakim.

Baca juga: Libatkan Banyak Pihak, Pemkab Banyuwangi Perbaiki 134 Sekolah di Tengah Efisiensi Anggaran

Kedelai Impor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor sekitar 2,2 juta hingga 2,6 juta ton kedelai per tahun sepanjang 2017–2025. Hampir 90 persen pasokan tersebut berasal dari Amerika Serikat.

Ketergantungan terhadap impor membuat industri tahu dan tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah serta harga global kedelai.

Hakim mengaku pernah mencoba menggunakan kedelai lokal dari Jember, Banyuwangi, dan Bali. Menurutnya, kualitas rasa kedelai lokal lebih baik dibanding kedelai impor.

“Kalau untuk rasa, kedelai lokal lebih enak, lebih gurih. Tapi dari sisi harga sama saja karena kedelai lokal juga mengikuti harga impor,” katanya.
Meski demikian, produksi kedelai dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara nasional.

Hakim mengatakan pelaku usaha tahu sebenarnya sudah terbiasa menghadapi gejolak harga kedelai. Pada 2019 lalu, harga kedelai sempat melonjak hingga dua kali lipat dari Rp7 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram.

Namun, situasi saat ini dinilai tetap mengkhawatirkan karena kenaikan biaya produksi terjadi bersamaan dengan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Kalau sekarang harga kedelai Rp10.500 per kilogram sebenarnya masih ada untung. Tapi makin tipis,” ujarnya.
Ia berharap harga kedelai dan nilai tukar rupiah dapat kembali stabil agar usaha kecil seperti miliknya tetap bisa bertahan.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.