TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tarakan Kalimantan Utara mulai melakukan pengawasan ketat terhadap hewan kurban yang dipotong di Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026).
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Tarakan, Paulus mengatakan dalam melakukan pengawasan DKPP Tarakan menurunkan dokter hewan langsung di lokasi pemotongan hewan kurban.
“Ada petugas kita, drh Richard di dalam dan drh Wikan juga ada. Itu berlaku di semua Masjid tempat-tempat pemotongan yang kita awasi,” ujarnya.
Ia menyebut, ada 33 petugas pengawasan hewan kurban yang disebar ke sejumlah Masjid di seluruh wilayah Tarakan.
“Ini saya baru koordinasi, saya keluar karena ribut telepon dengan teman-teman. Ini sudah pada merapat di Masjid-Masjid yang ada ditentukan tempatnya. Tapi kalau ada info dari tempat lain, dia juga akan bergeser ke sana. Total petugas kita hari ini 33 orang, terbanyak di semua kelurahan,” ujar Paulus.
Baca juga: Antisipasi Penyakit Menular, Dinas Pertanian Malinau Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban
Petugas nantinya akan bergerak dari satu titik pemotongan ke lokasi lain agar seluruh aktivitas pemotongan tetap terjangkau pengawasan.
Terkait keterlibatan kepolisian dalam pengawasan, Paulus mengatakan pengawasan teknis pemotongan hewan kurban tetap menjadi tanggung jawab DKPP Tarakan.
“Nggak ada kalau di tim. Cuman koordinasi kita jalan ke polisi dari awal bulan itu koordinasi untuk pengawasan, koordinasi untuk pemantauan itu tetap ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterlibatan kepolisian sebelumnya dilakukan saat pengawasan bersama Satgas Pangan Nasional.
“Kalau kemarin itu kan Satgas Pangan Nasional. Itu untuk memastikan ketersediaan, stok, terus penjualan apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan atau seperti apa,” katanya.
Paulus mengatakan, hingga hari ini, Rabu (27/5/2026) terdapat 60 pendaftar pemotongan hewan kurban. Namun, sapi yang sudah masuk ke Rumah Potong Hewan (RPH) baru sebanyak 21 ekor update data pukul 08.30 WITA.
“Kalau yang mendaftar itu 60. Kemungkinan mungkin akan nyusul setelah salat ini, baru datang,” ujar Paulus saat ditemui di RPH Tarakan.
Ia menjelaskan, alur pengawasan dimulai sejak pembukaan pendaftaran yang dilakukan sejak sehari sebelumnya.
Menurutnya, petugas sudah bersiaga sejak pagi untuk menerima pendaftaran, baik secara langsung maupun melalui layanan daring.
“Jadi teman-teman standby mulai pagi di sini. Ada yang mendaftar, ada juga yang lewat WA online mendaftar dan menyampaikan ke kita, mereka akan motong berapa sapi dari masjid mana atau instansi mana, kita daftar,” katanya.
Setelah didaftarkan, sapi yang datang ke lokasi langsung diberikan nomor pendaftaran sebagai tanda telah terdata.
“Setelah itu mereka datang bawa sapinya mulai kemarin siang. Mereka datang bawa sapinya kita kasih nomor bahwa sudah mendaftar,” lanjutnya.
Pada hari pemotongan, peserta yang sudah memiliki nomor pendaftaran wajib melapor kepada petugas untuk mendapatkan antrean masuk pemotongan.
Baca juga: Bantuan Hewan Kurban Gubernur hingga Bupati Masuk Lapas Nunukan, 3 Sapi dan 4 Kambing Dipotong
“Nanti pada saat pagi, yang datang duluan yang sudah mendaftar itu dengan membawa nomor pendaftarannya melapor ke petugas kita untuk nomor antre masuk pemotongan. Dan ini sudah yang ke-9, mulai dari jam setengah 8 pagi,” ungkapnya.
Paulus menegaskan, seluruh hewan kurban wajib melewati pemeriksaan kesehatan sebelum dilakukan pemotongan. Dilakukan pemeriksaan untuk memastikan hewan kurban memenuhi syarat syariat sekaligus aman dikonsumsi masyarakat.
“Sebelum dipotong kan dari kemarin kita pemeriksaan. Kelayakannya sesuai dengan syariah itu kan. Mulai dari gigi, umurnya, kecacatan, kesehatannya sudah diperiksa semua,” jelasnya.
Ia menerangkan, pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan dalam dua tahap, yakni antemortem dan postmortem. Antemortem dilakukan sebelum hewan dipotong, sedangkan postmortem dilakukan setelah proses penyembelihan.
“Antemortem itu sebelum pemotongan. Jadi pemeriksaan fisik dan lain-lain, kesehatan sapi. Postmortem itu setelah pemotongan. Biasanya pengambilan sampel dari hatinya, dari giginya. Kita periksa apakah dia layak konsumsi atau tidak,” ujar Paulus.
Terkait jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini, Paulus mengaku pihaknya masih menunggu rekapitulasi data hingga beberapa hari ke depan.
Ia mengatakan, pada Iduladha tahun lalu jumlah sapi yang dipotong mencapai 1.125 ekor.
“Kalau tahun lalu 1.125 ekor. Kita harapkan ada peningkatan lah tahun ini. Tapi ya kita nggak tahu juga di lapangan seperti apa, apakah bertambah atau tetap atau berkurang,” katanya.
Menurutnya, data final kemungkinan baru bisa diketahui pada Jumat mendatang setelah seluruh laporan petugas masuk.
“Mudah-mudahan kita dapat datanya di Jumat. Karena setelah siang ini kan sore teman-teman langsung meng-input data merekap masing-masing untuk hari ini. Kemudian besok juga, kemudian hari Jumat juga,” jelasnya.
DKPP Tarakan juga tetap bersiaga hingga hari keempat dan kelima Iduladha apabila masih terdapat laporan pemotongan hewan kurban.
“Kita standby sampai hari ke-4, ke-5 kalau memang ada laporan,” ucapnya.
Untuk fasilitas di RPH Tarakan, Paulus memastikan seluruh sarana dalam kondisi siap digunakan. “Kalau di RPH ya fasilitasnya sudah cukup,” katanya.
Sampai saat ini, DKPP Tarakan juga belum menemukan adanya kasus penyakit serius pada hewan kurban yang diperiksa.
“Belum ada sih, untuk saat ini belum ada,” ujarnya.
Namun demikian, petugas tetap mewaspadai sejumlah temuan yang kerap muncul saat pemeriksaan hewan kurban.
“Biasanya kan yang cacing hati, terus kecacatan ternak misalnya kakinya jatuh. Itu kan nggak boleh cacat toh,” jelas Paulus.
Ia menambahkan, jika ditemukan bagian tubuh tertentu yang tidak layak konsumsi saat pemeriksaan postmortem, maka bagian tersebut langsung dipisahkan.
“Kalau itu ya nggak bisa dikonsumsi. Semua atau hanya bagian? Hanya bagian-bagian yang itu saja,” katanya.
Tetapi apabila kondisi hewan dinilai dapat memengaruhi keseluruhan daging, maka petugas akan menyarankan agar tidak dikonsumsi.
“Tetapi kita melihat juga kondisinya. Kalau misalnya semuanya bermasalah, ada berpengaruh ke yang lain, ya kita sarankan untuk tidak dikonsumsi,” tegasnya.
Khusus di RPH Tarakan, pengawasan dilakukan lebih ketat karena jumlah hewan yang dipotong cukup banyak.
“Makanya itu yang kita jaga, khususnya di RPH ini ya. Kita kalau di RPH ini ada 11 orang dari dinas. Memang banyak petugas pengawasan. Karena kan banyak sapinya,” ujarnya.
Paulus menyebut, hingga saat ini sudah terdapat puluhan sapi yang berada di dalam area gantung RPH.
“Ini kan sudah di dalam, digantungkan 46. Kalau terlewat kan ini,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan data sementara DKPP Tarakan, jumlah stok sapi yang masuk tahun ini mencapai 1.494 ekor.
“Kalau di data kita yang masuk itu semua dengan stok yang sudah ada itu 1.494. Kalau yang sesuai dengan sistem yang masuk ya,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan seluruh sapi tersebut akan dipotong pada Iduladha tahun ini.
“Nah itu belum tahu di lapangannya seperti apa. Makanya kita akan lihat di lapangan setelah mungkin Jumat rampung data-datanya. Atau Sabtu kita lihat berapa persen yang terpotong, yang tersisa atau malah pas-pasan atau seperti apa,” tutup Paulus.
(*)
Penulis: Andi Pausiah