TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bandara Husein Sastranegara dan Adi Sutjipto di Yogyakarta berpeluang kembali melayani penerbangan jet komersial setelah Presiden RI Prabowo Subianto memberi lampu hijau terhadap rencana reaktivasi bandara tersebut.
Rencana reaktivasi itu sebelumnya dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Pertahanan RI dan Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas RI di Jakarta pada 25 Mei 2026.
Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono Wibowo, menilai reaktivasi Bandara Husein kemungkinan tidak akan langsung mengembalikan permintaan penerbangan seperti sebelum pandemi Covid-19.
Menurut dia, tren lalu lintas udara global hingga kini masih sulit kembali ke kondisi normal seperti sebelum pandemi.
“Tren lalu lintas udara di seluruh dunia sulit untuk mengembalikan tren yang sama sebelum Covid. Reaktivasi Husein kemungkinan tidak akan mengembalikan ke kondisi demand sebelum pandemi,” ujar Sony, kepada Tribunjabar.id, Rabu (27/5/2026).
Sony menilai persaingan moda transportasi kereta api menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak terlalu memengaruhi pasar penerbangan Husein. Sebab, terdapat perbedaan segmen antara pengguna pesawat dan kereta api.
“Pangsa pasar Husein untuk di Jawa adalah Surabaya dan Yogyakarta, di mana ada perbedaan pasar antara KA dan pesawat untuk kedua kota tersebut,” katanya.
Sony mengatakan banyak pihak berharap reaktivasi Bandara Husein dapat kembali mendorong sektor wisata Kota Bandung, terutama kunjungan wisatawan kawasan ASEAN.
Meski begitu, ia menilai minimnya wisatawan asing ke Bandung bukan hanya dipengaruhi tidak adanya penerbangan langsung ke Bandara HuseinSastranegara.
Dikatakannya, pembangunan Bandara NYIA di Kulon Progo disertai dengan pembangunan jalur kereta bandara sehingga pengalihan lokasi bandara dari Sleman, tempat Bandara Adi Sucipto berada, ke Kulon Progo tidak terlalu menjadi hambatan
Sementara itu, pemindahan Bandara Husein di Kota Bandung ke Bandarudara Internasional Jawa Barat di Kertajati tidak berjalan mulus karena jalan tol sebagai penghubung, yaitu Jalan Tol Cisumdawu tidak selesai bersamaan.
“Selain itu, tidak ada akses jalan tol yang langsung terhubung dengan kawasan Bandara karena segmen jalan tol yang terkoneksi dengan kawasan dibangun terpisah dengan Jalan Tol Cisumdawu,” imbuhnya.
Terlebih, kata Sony, kehadiran kereta cepat yang menawarkan shuttle bus ke Bandara Soekarno - Hatta semakin mendorong calon penumpang lebih memilih terbang dari Bandara Halim dan Bandara Soetta.
Di sisi lain, BIJB Kertajati bakal menjadi pusat perawatan pesawat Hercules.
Sony menilai hal itu menarik karena pasar penerbangan komersial nasional selama ini lebih banyak diisi Boeing dan Airbus.
Menurutnya, fokus terhadap perawatan Hercules menimbulkan asumsi bahwa pengembangan tidak semata berkaitan dengan penerbangan sipil.
“Hercules selama ini masih digunakan sebagai pesawat militer. Apakah ini ada kaitannya dengan kepentingan militer produsen Hercules? Ini yang kemudian banyak melahirkan pemikiran bahwa itu bukan sekadar untuk bengkel,” ujarnya.
Sony juga menyoroti usulan menjadikan Bandara BIJB Kertajati bengkel perawatan Hercules datang dari Kementerian Pertahanan, bukan dari pihak produsen pesawat.
“Apalagi yang meminta untuk menjadi bengkel adalah kementerian pertahanan, bukan pabrikan Hercules. Ini artinya servis Hercules kemungkinan bukan murni B-to-B,” katanya. (*)
Baca juga: Presiden Minta Bandara Husein Bandung Buka Lagi, Pengamat Soroti Keterbatasan Jam Terbang Komersial