TRIBUNMANADO.CO.ID - Akhirnya terungkap penyabab sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut) dilanda cuaca ekstrem Rabu (27/5/2206).
Hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah daerah kabupaten/kota di Sulut.
Pemicu cuaca ekstrem ini karena adanya bibit siklon tropis di Samudera Pasifik.
"Kondisi beberapa hari terakhir ini disebabkan adanya bibit siklon tropis di Pasifik. Tepatnya di bagian timur Filipina," ujar Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas II Sulut, Muhammad Candra Buana, Rabu 27 Mei 2026.
Kondisi ini, lebih jauh dijelaskan, menyebabkan terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin di wilayah Sulawesi Utara.
Fenomena cuaca ini dapat memicu pertumbuhan awan hujan yang dominan terjadi malam hari, sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan curah hujan secara signifikan.
Bibit siklon tropis adalah tahap awal pembentukan badai siklon tropis yang ditandai dengan adanya area tekanan udara rendah di atas perairan laut hangat.
Setelah itu menjadi siklon tropis yang merupakan badai dengan kekuatan yang besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km.
BMKG juga mendeteksi adanya gelombang atmosfir tropis MJO dan rossby eguotorial di wilayah Sulut yang dapat menyebabkan terjadi peningkatan pertumbuhan awan hujan.
Kombinasi dari fenomena tersebut membentuk kondisi atmosfer yang diprediksi akan mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir serta angin kencang di sejumlah kabupaten-kota.
Karena itu, BMKG memperingatkan potensi terjadinya risiko bencana banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan bencana hidrometrologi lainnya.
Adapun wilayah yang terdampak cuaca ekstrem, yaitu Kota Manado, Bitung, Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow (Bolmong), Bolmong Selatan, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.
Ia mengatakan, dengan adanya kondisi ini diprakirakan wilayah Sulawesi Utara akan mengalami kondisi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat sepanjang pekan ini.
Pada Rabu (27/5/2026), bencana alam melanda wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, tengah dilanda bencana alam geologi, meteorologi serta klimatologi.
Banjir genangan terjadi jalan di depan Pengadilan Agama Tahuna, tepatnya di Kelurahan Tona, Kecamatan Tahuna, pohon tumbang di ruas Jalan Tahuna–Manganitu, dan tanah longsor terjadi di wilayah Kampung Bahoi, Kecamatan Manganitu.
Kemudian pada hari yang sama, banjir bandang terjadi di 3 desa yang berada di wilayah Bolmong.
Tiga desa tersebut adalah Desa Komangaan, Solimandungan Satu, dan Solimandungan Dua yang berada di wilayah Kecamatan Bolaang.
Desa Solimandungan Dua menjadi lokasi terdampak paling parah.
Informasi yang diterima dari pihak BPBD Bolmong, ratusan batang pohon terbawa arus air hingga menutupi akses jalan.
Sementara itu, pohon tumbang dan longsor kecil terjadi di ruas Jalan Manado-Tomohon, tepatnya sekitar 200 meter dari Polsek Tomohon Utara, Kinilow, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Rabu (27/5/2026).
Peristiwa tersebut sempat membuat arus lalu lintas tersendat selama beberapa menit karena material longsor dan pohon menutup sebagian badan jalan.
Kasi Humas Polres Tomohon, Iptu Irwin Pangajouw mengatakan akses jalan saat ini sudah kembali bisa dilalui kendaraan.
“Tim kepolisian sudah bergerak ke lokasi untuk melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Meski demikian, kata dia, sistem lalu lintas masih diberlakukan buka tutup untuk menghindari kemacetan dan memastikan keselamatan pengendara.
“Diperkirakan 1 sampai 2 jam ke depan arus lalu lintas baru bisa kembali landai,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati saat melintas di jalur Manado-Tomohon, khususnya di kawasan rawan longsor.
“Apalagi di lokasi tersebut cukup sering terjadi longsor maupun pohon tumbang saat cuaca buruk,” tandasnya.
Sudah hadir juga dilokasi tim BPBD Kota Tomohon untuk membantu proses pengerjaan.
Dari informasi tak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Meski kendaraan sudah bisa melintas, namun pergerakannya masih perlahan.
Sebab jalan masih licin dan sangat berpotensi terjadinya kecelakaan.
Sejumlah petugas juga membantu untuk kendaraan yang melintas agar lancar dan kembali normal seperti biasanya.
Cuaca pun menjadi dingin lantaran baru saja hujan berhenti. (Ndo/Edu.Nie/pet)