Silaturahmi Idul Adha 1447 H, Keluarga Gubernur Ria Norsan Sajikan Tradisi Makan Saprahan 
Try Juliansyah May 28, 2026 01:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Dzakirin, Pontianak, Rabu 27 Mei 2026. 

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan hadir bersama keluarga untuk menunaikan Salat Id berjamaah bersama masyarakat.

Dihadapan para jemaah, Gubernur Ria Norsan menegaskan bahwa Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan kurban.

Tetapi juga momentum memperkuat ketakwaan, kepedulian sosial, dan semangat pengorbanan demi kepentingan yang lebih besar.

“Idul Adha menjadi pengingat bagi kita semua untuk menumbuhkan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama," ujarnya.

"Berkurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga mengorbankan ego, rasa serakah, dan sikap apatis dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Ia juga mengajak masyarakat Kalimantan Barat menjadikan nilai-nilai Idul Adha sebagai semangat bersama dalam membangun daerah. 

Baca juga: Gubernur Ria Norsan Serahkan Simbolis Bantuan Sapi Presiden dan 52 Ekor Sapi Kurban Pemprov Kalbar

Menurutnya, kemajuan Kalbar hanya dapat tercapai apabila seluruh elemen masyarakat memiliki rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat.

“Kalau kita ingin Kalbar semakin maju, maka kita harus siap berkorban demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Usai pelaksanaan Salat Id, suasana kebersamaan berlanjut dalam tradisi makan saprahan di kediaman pribadi Gubernur Kalbar.

Jamaah, pengurus masjid, tokoh masyarakat, hingga warga yang hadir diundang untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan bersama.

Berbagai menu khas Idul Adha seperti sop daging, gulai, dan ketupat tersaji dalam nampan besar yang dinikmati bersama-sama.

Tradisi saprahan pun berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Menurut Ria Norsan, saprahan merupakan budaya khas masyarakat Kalimantan Barat yang sarat nilai kebersamaan, kesetaraan, dan persaudaraan sehingga perlu terus dilestarikan.

“Kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak ada sekat antara pemimpin dan masyarakat. Inilah makna kebersamaan yang ingin terus kita jaga,” ungkapnya.

Ia menilai tradisi makan bersama tersebut mampu mempererat hubungan sosial, menumbuhkan empati, sekaligus memperkuat silaturahmi antar masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.