TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Ayah korban W (12) mengungkapkan hubungan keluarganya dengan keluarga pelaku selama ini berjalan biasa saja.
Keduanya saling mengenal sebelum peristiwa penganiayaan terjadi.
"Kalau soal hubungan dengan orang tua pelaku, sebenarnya biasa saja, saling kenal. Orang tuanya juga sempat datang menemui kami," ujarnya, pada Selasa 26 Mei 2026 sore.
Ia menyebut terbuka jika pihak pelaku ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Namun ia menyayangkan tindakan pemukulan yang terjadi terlebih dahulu terhadap anaknya.
"Saya bilang, kalau memang mau menyelesaikan secara baik-baik silakan, tapi setidaknya jangan memukul anak saya dulu. Karena sebelum kejadian ini membesar, anak saya memang sudah lebih dulu dipukul," tegasnya.
Sebab, sebelum terjadinya insiden pemukulan kepala.
Ayah korban mengatakan awalnya saat pelaku dan korban bermain di sebuah warung dekat rumah, Ayah Korban menduga anaknya hanya saling colek pelaku yang saat itu sedang bermain game online.
"Setelah itu mereka bermain game, lalu anak itu bilang sudah tidak fokus karena kalah dalam game. Habis itu, dia mengajak anak saya berkelahi," ceritanya.
Baca juga: Wali Kota Singkawang Jenguk Korban Penganiayaan, Kaki Masih Belum Bisa Digerakan
Dari kejadian inilah, anak korban diajak berkelahi dengan pelaku. Namun ajakan tersebut selalu ditolak korban.
"Anak saya sebenarnya tidak mau melayani, tetapi karena terus diajak, akhirnya anak saya menghampiri dan bertanya, “Saya kan baik sama kamu, kenapa kamu seperti itu sama saya?”," kata Ayah korban.
Lalu, saat dihampiri, pelaku itu langsung memukul anak korban. Setelah dipukul, korban merasa takut dipukul lagi, jadi korban berdiri dan mendorong balik.
"Setelah didorong, anak itu mundur-mundur sambil memegang tangannya seperti keseleo. Itu tangan pelaku yang katanya keseleo," ungkap Ayah korban.
Menurut cerita anak korban, saat itu pelaku memberi tahu orang tuanya kalau tangannya jatuh dan keseleo.
"Bahkan sempat bilang, kalau ditanya orang tuanya, supaya mengatakan jatuh dari sepeda. Tapi saya tidak tahu bagaimana akhirnya, karena kemudian dia mengaku kepada mamanya kalau tangan itu akibat dipukul anak saya," jelas Ayah Korban.
Menanggapi kejadian ini, Ayah korban mengaku tidak ingin masalah ini panjang lebar. Namun siapa sangka, ia yang awalnya berpikir hanya persoalan kecil, tapi ternyata akhirnya menjadi perhatian serius.
Untuk proses kasus ini, Ayah korban meminta agar tetap dilanjutkan secara hukum.
"Saya ingin ada keadilan dan proses hukumnya berjalan sampai selesai sesuai aturan yang berlaku," tegasnya.
Ia juga menyampaikan perkembangan kondisi anaknya pasca penganiayaan yang terjadi pada 15 Mei 2026 lalu.
Menurutnya, kondisi sang anak sudah mulai membaik, namun masih ada kendala pada kaki kanan.
"Kalau untuk kondisi anak saya sekarang, memang sudah agak membaik. Namun kaki kanannya masih belum bisa digerakkan. Jadi kalau berdiri masih harus dibantu orang lain," ujarnya, pada Selasa 26 Mei 2026.
Soal biaya pengobatan, ia menyebut operasi sudah ditanggung Jamkesda.
Namun untuk biaya lain dan perawatan lanjutan kepala, tidak lagi ditanggung penuh.
"Untuk biaya pengobatan, operasi memang ditanggung Jamkesda. Tetapi biaya lainnya cukup besar, sampai belasan juta rupiah. Untuk pengobatan kepala ke depannya, katanya tidak lagi ditanggung penuh karena dari Jamkesda hanya sekali bantuan," jelasnya.
Saat ini keluarga hanya berharap proses hukum berjalan sesuai prosedur dan kondisi anaknya bisa segera pulih.
"Sekarang kami hanya berharap proses hukum berjalan sebagaimana mestinya dan kondisi anak saya bisa segera pulih, terutama bagian kakinya," tutupnya. (*)