BANJARMASINPOST.CO.ID - Imbas seekor sapi kurban mengamuk,sebuah acara hajatan pernikahan diwarnai kepanikan.
Sapi kurban itu masuk ke area tenda. Peristiwa ini terjadi di Grumbul Sokawera, Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (26/5/2026) malam.
Ketika peristiwa itu berlangsung, tamu undangan panik dan menyebabkan sejumlah perabotan di lokasi hajatan rusak.
“Berdasarkan informasi, sapi kurban itu baru datang dari penjual lalu baru turun dari mobil,” kata Kepala Dusun setempat, Mei Nur Khasanah, Rabu (27/5/2026).
Insiden terjadi sekitar pukul 19.00 WIB saat lokasi hajatan tengah dipadati tamu undangan.
Menurut Mei, sapi diduga mengalami stres karena berada di lingkungan baru dengan kondisi ramai warga dan tamu undangan jelang Idul Adha.
Baca juga: Diduga Terseret Sapi Kurban yang Mengamuk, Pria 53 Tahun di Kampung Arab Banjarmasin Meninggal Dunia
“Mungkin karena kondisi berbeda sebagai bentuk adaptasi tempat baru. Bisa jadi sapinya lelah dan agak stres. Kebetulan posisi tenda hajatan lurus di depannya, jadi sapi lari menuju lokasi hajatan,” ujarnya.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah meja dan kursi tamu mengalami kerusakan.
Beberapa toples pecah dan dekorasi bunga di lokasi hajatan juga berantakan setelah tertabrak sapi.
“Beberapa kursi patah, toples pecah, dan bunga dekorasi jadi berantakan,” kata Mei.
Peristiwa itu sempat direkam warga dan videonya beredar di media sosial.
Dalam rekaman terlihat suasana tenda hajatan berantakan dengan kursi dan meja berserakan usai diterjang sapi.
Meski sempat membuat panik tamu undangan, sapi tersebut akhirnya berhasil dievakuasi warga. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Tamu undangan sempat heboh dan minggir karena takut, tapi hajatan tidak sampai bubar,” ujarnya.
Sapi mengamuk kerap menjadi fenomena berulang setiap momentum Hari Raya Idul Adha.
Para jagal pun menilai kondisi itu bisa dipicu berbagai faktor, mulai dari keramaian hingga cara penanganan hewan sebelum disembelih.
Salah satu jagal, Ridwan Kurniawan (43), yang juga pekerja peternakan, mengatakan kerumunan warga saat prosesi penyembelihan dapat membuat sapi panik.
“Kalau sapi kurban ini ya biasanya tantangannya itu kan kepanikan orang di sekitar itu, keramaian ya. Jadi sapi itu ikut panik secara tidak langsung,” ungkap Ridwan saat ditemui di lokasi penyembelihan sapi di Masjid Agung Al-Azhar, Rabu (27/5/2026).
Menurut dia, sebelum dibawa ke lokasi penyembelihan, sapi terbiasa berada di kandang atau tempat yang jauh dari keramaian.
Karena itu, suasana ramai dapat membuat hewan tersebut stres.
Di Masjid Agung Al-Azhar, area penyembelihan pun dibatasi pagar pendek agar masyarakat tidak bisa terlalu dekat menyaksikan proses penyembelihan.
Selain keramaian, Ridwan menyebut perubahan cuaca dan polusi udara juga dapat memengaruhi emosi sapi.
Hal senada disampaikan jagal di Masjid Pondok Indah, Irham Gufroni (25).
Menurut dia, seorang jagal harus mampu membangun komunikasi dan memahami karakter sapi yang akan disembelih.
Ia menilai para jagal juga perlu memiliki strategi saat menghadapi sapi yang mengamuk agar tidak salah mengambil tindakan.
“Intinya penanganan stres atau juga disebut chemistry lah. Bisa jadi chemistry si penjagal itu kurang kena kepada hewan tersebut. Jadi bisa ngamuk dan lain-lain lah,” tutur Irham saat ditemui terpisah.
Untuk menenangkan sapi yang panik, Irham biasanya mengajak hewan tersebut “mengobrol” dan menghindari tindakan paksaan.
Sebab, menurut jagal asal Tasikmalaya itu, sapi merupakan hewan yang cukup peka terhadap kondisi emosional makhluk hidup di sekitarnya.
“Ya itu bisa juga (ngajak ngobrol) karena kan sapi itu ibaratnya sama mahluk hidup cuma dimensi kita yang berbeda dengan hewan, tapi dia bisa merasakan gitu loh. Kalau kita dilawan dengan nafsu maka dia juga bakal ngamuk,” jelas Irham.
Hal serupa diungkapkan jagal lainnya, Supardihan alias Eko (53). Ia mengatakan seorang jagal perlu menjalin ikatan batin dengan sapi yang akan dikurbankan.
Eko mengaku kerap berkomunikasi secara batin dengan sapi yang akan ia sembelih. Ia berusaha menjelaskan bahwa hewan tersebut memang telah ditakdirkan untuk dikurbankan.
Bahkan, ia juga kerap memanjatkan doa agar kelak dapat kembali bertemu dengan hewan-hewan tersebut di alam lain.
“Istilahnya ‘Ayo itu sudah tugas kamu sekarang, sudah waktunya kamu,’ misalkan. Ya manusia juga sama gitu kan saling menyayangi gitu. ‘Mungkin tugas kamu ini ya, mungkin insya Allah lah nanti di sana juga kamu juga ketemu lagi,’ gitu kan. Ya mudah-mudahan kita bertemu kembali,” tutur Eko.
Menurut Eko, seorang jagal juga dituntut memiliki ketulusan dan kelapangan hati. Ia mengaku tak jarang merasa sedih saat harus berpamitan dengan sapi-sapi tersebut.
Namun, berpegang pada syariat Islam membuat dirinya dapat merelakan hewan kurban itu. Bagi Eko, menjadi jagal bukan sekadar pekerjaan, melainkan ibadah dan tugas dari Tuhan yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)