DPRD NTT Kecewa Dua Wisatawan Meninggal di Obyek Wisata, Pemda Mabar Harus Tanggungjawab
Oby Lewanmeru May 28, 2026 07:19 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Anggota Komisi III DPRD NTT Yohanes Rumat mengaku kecewa dan menyayangkan meninggalnya dua wisatawan asing di obyek wisata Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) beberapa waktu lalu. 

Rumat meminta Pemkab Manggarai Barat untuk bertanggungjawab atas peristiwa itu. Sebab, pengelolaan obyek wisata itu selama ini dikelola Pemerintah.

Mestinya Pemerintah tidak sekadar mengurusi hal seputar citra sebuah obyek wisata. 

"Sangat menyesal, dan mengutuk keras cara kerjanya Pemerintah. Pemerintah menarik retribusi, biaya yang dipercayakan kepada petugas. Tugas Pemerintah wajib hukumnya menyediakan sarana yang nyaman, representasi dan tidak mengancam nyawa orang yang datang berkunjung," ujarnya, Kamis (28/5/2026). 

Baca juga: Pemkab Manggarai Barat Tutup Sementara Tempat Wisata Cunca Wulang Usai 2 Turis Austria Meninggal

Kejadian di Cunca Wulang menurut dia, harus mendapat respon cepat dari Pemerintah. Kenyamanan sebuah tempat wisata sangat penting. Salah satunya menyangkut infrastruktur dan suprastruktur yang ada di setiap obyek wisata. 

Sebaliknya, Pemerintah tidak boleh abai dengan sarana pendukung utama untuk keamanan dan kenyamanan wisatawan. Politikus PKB itu menyebut, insiden Cunca Wulang sepatutnya tidak dibebankan ke petugas lapangan. 

"Pemerintah harus bertanggungjawab karena situasi yang akhirnya menelan dua korban," katanya. 

Ketidakseriusan Pemerintah mengurus sebuah obyek wisata dan hanya mementingkan pendapatan, berakibat pada adanya korban jiwa. Padahal, wisatawan datang hanya untuk berburu kesenangan dan kebahagiaan pada lokasi wisata. 

"Saya kira yang berdosa, Pemerintah pengelola obyek wisata ini," katanya. 

Rumat juga mendorong DPRD Kabupaten Manggarai Barat untuk memanggil dinas teknis untuk mempertanggungjawabkan persoalan itu.

Apalagi, infrastruktur yang menyebabkan adanya korban jiwa itu selama ini sudah dikeluhkan dan dilaporkan. 

Namun, ujar dia, pengabaian Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat membuat nyawa wisatawan menjadi korban. Rumat menegaskan Pemerintah tidak boleh abai dengan laporan masyarakat tentang infrastruktur pariwisata. 

"Jangan abaikan laporan dari guide, masyarakat sekitar obyek wisata. Kalau mental tidak berubah, maka wilayah premium akan hilang dan kembali ke titik nol," katanya. 

Rumat berkata, kalau peristiwa ini terus terjadi, maka dengan sendirinya citra pariwisata Manggarai Barat akan kian buruk. Sebab, sepanjang tahun 2026 berbagai kasus yang menimpa wisatawan asing terus berlangsung. 

Kejadian tenggelamnya kapal di perairan Manggarai Barat hingga penipuan terhadap wisatawan menambah daftar masalah yang menimpa pariwisata Manggarai Barat.

Sisi lain, menurut dia, kebijakan pembatasan kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo (TNK) membuat obyek wisata lainnya sebagai penyangga semakin ramai. Meski berdampak baik, tetapi sarana penunjang utama setiap obyek wisata harus diperhatikan betul. 

"Maka Kepala Daerah kalau mau kejar pajak, retribusi, obyek wisata itu perbaiki sungguh-sungguh. Jangan biarkan fasilitas tidak layak, di jual. Kalau tidak layak, tutup sementara sambil Pemerintah memperbaiki kelayakan fasilitas," katanya. 

Rumat yang juga seorang agen travel bagi wisatawan itu menjelaskan, wisatawan yang menikmati setiap obyek wisata akan membayar.

Kompensasi itu dilakukan sejak dia tiba di Manggarai Barat, sarana pendukung dan infrastruktur sekitar obyek wisata dan lokasi tujuan. 

Dia tidak ingin wisawatan menjadi enggan datang ke Manggarai Barat hanya karena fasilitas wisata yang tidak diperhatikan serius oleh Pemerintah. Karena sarana pendukung utama ke setiap obyek wisata adalah keseharusan.

"Kejadian kemarin itu memalukan sekali. Wisatawan meninggal karena keteledoran Pemerintah tidak mampu melihat apa sih pelayanan," ujarnya. (fan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.